Sabtu, 01 September 2018

BELAJAR BAHASA INGGRIS

Kisah: Iis Wiati

... kita akan semakin papa secara bahasa, sekaligus kehilangan imajinasi dan kreativitas untuk mengembangkan bahasa sendiri. Slogan “bahasa menunjukkan jatidiri bangsa” perlu dipertanyakan ulang. Kini bahasa tidak lagi menunjukkan jatidiri bangsa, tapi hal-hal lain di luar kebangsaan. Kalau dulu nenek moyang kita berusaha memperkaya perbendaharaan bahasa Indonesia, kini terjadi proses pemiskinan bahasa, sekaligus membuatnya semakin asing.
(Novriantoni, Master Sosiologi)


Awal tahun ajaran 2009/2010.
Tahukah anak cucuku, di zamanku pemerintah telah membuat pengotakan baru dalam dunia pendidikan. Yaitu membagi sekolah ke dalam kategori-kategori tertentu. Dasarnya, sudah jelas undang-undang, keputusan menteri, dan atau peraturan pemerintah. Pengotakan yang dimaksud tidak sekedar status sekolah, misalnya status disamakan, diakui, terakreditasi dengan angka ‘A’ atau ‘B’. Lebih modern lagi, ada istilah kategori lain berupa SKM kependekan dari Sekolah Kategori Mandiri dan SBI kependekan dari Sekolah Berwawasan Internasional. Dua kategori yang disebut terakhir ini tentu saja menuntut segala sistem yang ada di sekolah. Tentu pula tuntutannya sangat berbeda dengan sistem pendidikan zaman nenek moyang kita dulu. Tak saja fasilitas, dana, dan keragaman teknik pembelajaran... tapi juga sumber daya gurunya.
Tuntutan yang dimaksud dalam pragmen ini adalah sumber daya guru. Sumber daya guru tidak hanya mengarah pada kemampuan menjadi pengarah di depan siswanya, dan keahlian dari substansi keilmuan yang diampunya. Di sekolah dengan dua status ‘keren’ tersebut menuntut gurunya juga cakap berbahasa. Tunggu dulu, yang dimaksud di sini bukan sekedar cakap berbahasa lokal, atau bahasa nasionalnya, tetapi kecakapan berbahasa Inggris.
Bayangkan anak cucuku, sebegitu hebatnya negeri Pangeran William itu. Sampai-sampai segi bahasa saja sanggup menjarah dunia pendidikan di zamanku. Kejayaannya di Eropa sejak zaman abad pertengahan hingga abad Napoleonik berujung hingga zamanku ini, terutama dari segi bahasa. Berkaitan dengan bahasa ini aku hanya mengira-ngira saja. Mungkin karena banyak para sastrawan yang lahir di negeri raja-raja Henry atau raja-raja Charles ini. Sebut saja Shakespeare sehingga karyanya menyebar ke seluruh pelosok negeri. Semua orang membacanya. Atau bisa juga karena Inggris adalah negeri dengan koloni yang sangat banyak. Bahkan hingga menembus benua Amerika dan Asia termasuk negeri kita.
Menjawab tuntutan itu, di sekolah-sekolah ada semacam kursus bahasa negeri Pangeran William itu. Guru dituntut untuk bisa cas cis cus, was wes wos. Tak sekedar berujar yes atau no... Kecakapan ini bahkan harus menjadi bahasa pengantar di kelas-kelas dalam menyampaikan materi. Sempat terpikir di benakku, mau kemana Bahasa ibu kalau bahasa pengantar pembelajaran adalah bahasa Inggris? Padahal di luar sana, penggunaan bahasa Indonesia makin kacau saja. Tapi mau bagaimana lagi. Sehingga sering muncul pertanyaan.
“Halooo, di mana bahasa negara? Di mana bahasa kesatuan? Dan di mana bahasa pengantar di sekolah-sekolah seperti yang dicanangkan oleh pemerintah. Yang dimaksud adalah pencanangan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara...dll...?”
Di salah satu sekolah, aku sempat mengintip sebuah cerita berkaitan dengan tema bagian ini.
Di dalam sebuah ruangan kelas. Di dalamnya tampak kurang lebih tiga belas orang guru yang berubah posisi menjadi murid. Mereka duduk rapi di bangku-bangku berderet yang cat kayunya masih baru. Di hadapan mereka berdiri seorang instruktur yang tidak lain adalah rekan guru mereka sendiri. Setelah diintip cukup lama, ternyata mereka sedang belajar bahasa Inggris dengan metode tutor sebaya. Sepertinya, sekolah itu memfasilitasi guru untuk belajar was wes wos tanpa membayar mahal. Buktinya mereka belajar dari temannya sendiri.
Suasana ruangan itu sangat ceria. Guru dengan penampilan yang menyenangkan. Meskipun pembelajaran dilakukan usai bubar sekolah, namun wajahnya tidak menampakkan kelelahan. Begitu juga dengan ‘murid-muridnya’. Kerap terdengar tawa, canda, bahkan celoteh yang lebih ‘melawak’ dibanding celoteh murid-muridnya. Sehingga sering terdengar suara gerrr, padahal di dalam hanya ada tiga belas orang. Bahkan di antaranya ada yang sedang hamil.
Sesekali terlihat siswa mereka mengintip di luar. (siswa yang belum pulang karena mereka kebanyakan betah untuk berlama-lama di sekolah, entah mengapa). “Lagi ngapain guru guwa?” itu bisiknya. (Duh, bahasanya kacau sekali kan? Sementara di dalam ruangan guru mereka belajar bahasa Inggris, bukan belajar bagaimana menyampaikan bahasa dengan baik, tentu saja dengan bahasa negerinya sendiri). Tapi ah, kita ikuti saja deh.
Lalu terdengar percakapan di dalam kelas itu.
Ternyata kali ini yang sedang tampil di depan bukan lagi ‘guru’ mereka, melainkan murid yang sedang mempraktikkan berbahasa was wes wos di depan kelas. Guru yang tampil itu nampaknya sangat percaya diri. Apalagi dengan usianya, sepertinya dia termasuk senior di sekolah pavorit ini.
How are you my student?”
.....
Good, you look great today. I’m ready to teach You now. Any home work?”
.....
Please show me...”
......
Got a problem?”
Setelah ada yang mengacungkan tangan, dia mendekati salah satu bangku itu, “Which one?”
Lalu dia berjalan lagi dengan penuh keyakinan. Tatapannya menunjukkan dia adalah ‘murid’ yang terbaik siang itu.
Before, I start, please clean the blackboard!”
Kali ini kelas menjadi spontan ribut, lalu terdengar gerrrr. Guru yang percaya diri tadi mulai kebingungan. Lalu dia spontan bicara, “Maaf, maaf, maksud saya whiteboard.”
Semua melengak, “terbiasa dengan blackboard, maklum.”
Sementara yang menjadi guru beneran masih tersenyum simpul di sudut depan.
Tapi sang ‘murid’ tidak menjadi kecil hati. Dengan kepercayaan dirinya dia melanjutkan lagi praktik berwas wes wosnya.
Before, I start, please clean the whiteboard. ... ok. Now, focus on me. Today I teach You about Japan . You know Japan? It’s very important....”
Tiba-tiba terdengar gerrr lagi. Bagaimana tidak, si ibu guru yang sedang percaya diri itu tiba-tiba mengucapkan kata important dengan pengucapan yang berbeda (berdasasrkan lidahnya sendiri). Dia mengucapkannya dengan impoten.... (mohon maaf, terpaksa kata ini dituliskan, sekedar demi kekomunikatifan cerita ini).
Tapi lagi-lagi dia percaya diri.
Ok class, do it individually and do it in twenty minutes.”
......
Have You get problem?”
.......
Do you finish...?”
Tak ada jawaban. Melainkan suara gerrr lagi. Dan gerrr kali ini lebih ramai dari yang tadi. Ternyata si ‘murid’ mengucapkan kesalahan lagi pada kata finish. Rupanya untuk  ke sekian kali lidahnya membuat rumusan sendiri tentang kata berbahasa Inggris ini. Mohon maaf, kali ini penulis tidak sampai hati menuliskan apa yang dia ucapkan. Sehubungan cerita ini tidak hanya berlaku untuk orang dewasa... yang jelas, dua orang guru laki-laki yang menjadi ‘murid’ di kelas itu kontan saja mukanya sedikit merah dan tersenyum malu-malu.
Salah satu berujar pelan, “Duh, Bu, itu barang kami kenapa disebut juga?”




Jumat, 31 Agustus 2018

SI MOTOR

Kisah: Iis Wiati


Judul cerita ini terilhami oleh sebuah cerita pendek karya Leo Tolstoy. Pengarang besar Rusia ini mempunyai judul cerpen Alyosha si Botol. Dikisahkan ada dua orang kakak beradik, yang muda bernama Alyosha. Dia dijuluki “Botol” karena suatu hari ibunya menyuruhnya untuk mengantar sebuah botol susu kepada istri pendeta di gereja dan dia tersandung sehingga botolnya pecah. Ibunya memukulinya karena itu teman-temannya mulai mengejeknya dengan julukan “Botol”. Demikian cerita awal (hasil terjemahan) dari cerpen Alyosha si Botol.
Cerita si Motor sama sekali tidak mirip dengan cerita Leo Tolstoy tersebut. Demikian pun judulnya tidak dilengkapi dengan nama asli si Motor. Seperti halnya cerpen tersebut ada ‘Alyosha’nya. Hal ini mengingat nama sang tokoh tidak semanis ‘Alyosha’, sehingga takut tidak memiliki nilai jual.
Tahun 80-an adalah satu masa di kampungku yang lekat dengan hiburan-hiburan di malam hari kalau ada hajatan. Kalau tidak acara pengajian, sang pemilik hajatan (baik pernikahan maupun sunatan) kadang mengadakan hiburan musik, seperti kasidahan, musik melayu, wayang golek, hingga layar tancap.
Suatu ketika di kampungku ada hajatan. Sang empunya hajat mengadakan pesta di malam harinya dengan menyajikan hiburan kepada masyarakat setempat berupa layar tancap. Ternyata yang datang ke acara hiburan tidak hanya masyarakat setempat. Dari luar kampung pun banyak yang berdatangan, bahkan selepas maghrib. Padahal acara baru akan dimulai pukul tujuh malam. Tepatnya usai adzan isya. Begitu pula dengan para pedagang. Pedagang bubur kacang, bajigur lengkap dengan penganannya seperti rebus ubi dan pisang, kacang bulu (sebutan untuk kacang  hijau), nagasari, amis cangkeng, dan katimus. Ada juga pedagang banros, surabi, bakso, bakso tahu (sebutan untuk siomay tahu), awug, hingga mainan anak-anak berdatangan dari berbagai tempat. Mereka masing-masing membawa lampu-lampu sendiri-sendiri, mulai lampu cempor yang kecil, lampu gembreng, hingga petromak.
Sekejap kampung yang sepi itu menjadi semarak seperti pasar malam. Hilir mudik pula orang berdatangan. Yang berdatangan pun tentu saja dengan berbagai motif, terutama anak remaja. Ada yang berkesempatan untuk berdua dengan pasangan, ada pula yang sambil menyelam minum air. Nonton sambil cari pacar. Apalagi ketika pemutaran film belum dimulai. Bergerombol calon-calon penonton menyibukkan hasratnya masing-masing sesuai dengan tujuannya.
Di satu pojok nampak lima orang pemuda. Mereka adalah para pemuda dari kampung setempat. Tidak satu pun dari mereka yang datang bersama gadis. Entah karena tidak punya pacar atau mereka memang sengaja meninggalkan pacarnya untuk berdiplomasi dengan kesempatan di tempat ini. Hanya ketika itu mata-mata mereka begitu nyalang.
Ketika itu, tampak tidak jauh dari mereka duduk seorang gadis berambut panjang. Wajahnya berhadapan dengan layar yang terbentang tidak terlalu jauh darinya. Kontan kelima pemuda itu saling tarik tangan. masing-masing yang hendak mendekati gadis itu ditariknya.
Cing atuh, bagean sayah,” pekik salah satu pemuda.
Sayahlah.”
“Saya!”
Bagean sayah!”
Mereka berlima berebut mau mendekati gadis itu. Sementara film sudah dimainkan.
Akhirnya mereka berlima hompimpah. Yang memenangkan hompimpah ternyata salah satu pemuda, lumayan tampan, sebut saja Trisna. Segeralah Trisna menarik jaket kulitnya ke dada lalu berjalan mendekati sosok gadis itu. Sementara yang lainnya mengikuti perlahan di belakang Trisna. Jika Trisna berhasil berjarak lima sentimeter dengan si gadis. Maka empat pemuda yang lain kira-kira berjarak lima puluh sentimeter. Dan keempat pemuda tidak boleh berkata-kata dengan gadis itu. Cukuplah Trisna yang menang hompimpah.
“Neng sama siapa?”
“Sendirian.”
“Ooo.”
"Sekarang sama Akang..."
Trisna terperanjat. Ada semacam aliran hangat di dadanya. Rupanya gadis itu tidak menolak kehadirannya, "Sama yang lain juga kali..."
"Iya sih."
"Tapi serasa berdua ya?" 
Wkwkwkwk... Trisna merasa seperti menang lotre.
Lalu perbincangan berhenti. Semua mata melihat ke layar.
“Neng suka filmnya?”
“Suka.”
“Ooo.”
Perbincangan berlanjut. Dan terakhir hanya kata ooo saja yang keluar dari mulut Trisna. Hanya ketika tangan Trisna mulai memegang tangan gadis itu, si gadis menepiskan tangannya. Malu. Tapi nampaknya si gadis terbuka hatinya untuk terus dekat dengan Trisna. Karena ketika Trisna bercanda dengan tepukan di punggung, si gadis diam saja. Seterusnya Trisna asyik mengobrol dan sedikit mesra di antara gelap dan sesekali remang malam itu. Namun begitu Trisna tidak sempat melihat ke arah wajah si gadis.
Ketika film sudah hampir usai, sekelebat Trisna melihat wajah di dekatnya. Trisna tercengang. Lalu dengan perlahan dia menggeser tubuhnya yang tadi mulai rapat dengan si gadis.
“Neng, maaf ya. Saya pamit dulu. Motor saya diparkir jauh. Takut ada yang usil.”
Si gadis tersentak, “Lho, kok pergi Kang?”
“Maaf ya,” Trisna beranjak segera.
Tentu saja sikap Trisna mengagetkan teman-temannya. Maka salah satu temannya memekik tertahan, “Tris, Trisna, ke mana wey?”
“Itu mau lihat motor sayah!”
Yang lain saling pandang. Lalu melihat ke arah gadis yang tengah memelototi langkah Trisna. Kontan empat pemuda tertawa, lalu ngibrit mengkuti langkah satu teman yang menang hompimpah tadi. Setengah berlari.
“Wey, motor, motor, tunggu...”
Trisna sudah berada menjauh dari arena layar tancap. Nafasnya tersengal.
“Kenapa motormu, Tris?” Tapi pertanyaan itu diakhiri ngakak teman-temannya dengan nikmat. Seperti habis nonton dagelan atau pertunjukan bodor tingkat tinggi. bahkan sampai membungkuk-bungkuk. 
Trisna yang sebenarnya tidak punya motor masih ngosngosan, “Gawat, kukira perempuan cantik dari kampung lain, ternyata si Mimih anaknya nini Ijah, pembantu di rumah pak lurah. Gila!”
“Hahaha.”
Jadilah kisah itu mengganti nama Trisna menjadi si ‘Motor’. 


Hinomaru (novelku)




Tentang Hinomaru

Novel ini berkisah tentang kehidupan seorang gadis bernama Halisah yang hidupnya dibayang-bayangi oleh tokoh-tokoh berbangsa Jepang. Pertama, Takeda yang berperan penuh mengubah seluruh garis hidupnya sejak Halisah menjadi jugun ianfu di Telawang, hingga kembali ke tanah priangan, Bandung. Kedua, Nakumi, seorang sekretaris perwakilan pemerintah Jepang yang bekerja di kantor kewedanaan. Nakumi mengenal dan mencintai Agus, seorang pemuda yang sangat berperan penting bagi tokoh Halisah sejak kecil. Agus menyimpan perasaan yang dalam pula kepada Halisah, sejak gadis ini masih kecil dan menjadi sahabat bagi Atikah, adiknya.
Hinomaru memiliki latar waktu sepanjang pendudukan Jepang di Indonesia (tahun 1942), hingga beberapa tahun setelahnya. Segala aturan yang dibuat Jepang, sangat terasa hingga pelosok kampung. Hal ini membawa perubahan nasib yang tidak terkira bagi tokoh-tokoh di dalam novel ini. Tidak hanya tokoh utama, Halisah, tetapi juga tokoh-tokoh lain yang memiliki kedekatan dengan tokoh utama, contohnya saja Atikah dan seluruh keluarga.
Pada tahun-tahun berikutnya, setelah berakhirnya pendudukan Jepang, kehidupan tokoh pun mengalir seiring sejarah dengan segala konflik yang menyertainya. Rumah tangganya yang dibangun terpaksa, juga pengharapan akan sosok Agus yang tidak pernah berhenti. Sesungguhnya kegagalan hidup dan cinta tokoh Halisah, baginya adalah karena kehadiran orang-orang Jepang yang selalu membayangi kehidupannya. Mereka, bagi Halisah adalah seperti halnya bendera Hinomaru yang seakan-akan tak bisa dihentikan kibarnya.
Cerita dimulai dengan pemunculan prolog 1 yang berisi upacara keberangkatan para gadis yang konon akan disekolahkan oleh Jepang. Permulaan ini mengarahkan para tokoh cerita pada pengisahan di babak-babak sebelum dia berangkat (latar tokoh, latar tempat dan peristiwa, bagian masa kecil, serta hal-hal yang menjadi hulu konflik pada babak-babak berikutnya). Begitu pun dengan penokohan yang lain.
Pada bagian berikutnya, disajikan prolog 2, sebagai bayangan ending dari novel ini (berupa kisah penembakan, hanya tidak jelas, tokoh mana yang menembak dan ditembak). Bagian ini mengarahkan tokoh pada peristiwa-peristiwa sesungguhnya setelah dia berangkat (yang katanya) untuk disekolahkan ke Jepang (kenyataan menjadi jugun ianfu di sebuah tempat di Pulau Tatas, Kalimantan). Selanjutnya, Konflik tidak hanya berpusat pada penderitaan tokoh selama menjadi jugun ianfu saja, tetapi juga perjalanan hidup selanjutnya. Rangkaian pergumulan konflik yang menyangkut dirinya, Takeda, Nakumi, serta Agus kekasih bayangannya sejak kecil. Mulai ketika Halisah menjadi jugun ianfu, hingga ia menjadi istri Takeda secara terpaksa. Tentu saja peran Nakumi besar pada peristiwa ini. Konflik batin pada semua tokoh terus berlanjut. Menyangkut segala hal, perasaan, harga diri, termasuk berkaitan dengan keturunan. Bagi Halisah, tokoh Nakumi dan Takedalah yang membayangi kehidupannya. keduanya seakan mengharamkan kebahagiaan baginya. Hingga muncul tokoh lain yang tidak diduga kedatangannya menjadikan persoalan semakin rumit.
Kehidupan jugun ianfu yang sangat terkenal pada masa pendudukan Jepang, menjadi latar novel ini. Meskipun sesungguhnya cerita ini fiksi, namun segala data, fakta sejarah, kepustakaan, serta perbincangan secara langsung dengan pelaku sejarah (salah seorang tokoh yang pernah hidup di zaman Jepang), adalah bahan riset untuk memperkuat unsur ekstrinsik cerita.

PRIMORDIALISME DAN IMPLURALIS, Kajian Mimesis dalam Sastra Terhadap Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck


Iis Wiati Kartadinata
1)
            Pada dasarnya karya sastra ditulis oleh pengarangnya dalam lingkup ruang dan waktu bernama fakta dan realita, bahkan sejarah kehidupan di dalamnya. Boleh jadi pendapat penulis tidak terlalu salah. Mengingat karya sastra ditulis oleh pengarangnya tidak lepas dari situasi sosial budaya ketika karya sastra itu dibuat. Teeuw menuliskan, karya sastra tidak ditulis dalam situasi kekosongan budayanya (Teeuw dalam Pradopo, 1995:178). Bahkan lebih ekstrem, Teeuw menyatakan, ada kalanya karya sastra disebut sebagai dokumen sosial: lewat sastra pembaca seringkali jauh lebih baik dari lewat tulisan sosiologi manapun juga, dapat menghayati hakikat eksistensi manusia dengan segala permasalahannya (1988:236).
            Di samping lukisan fakta, realita, dan sejarah kehidupan, sastra ditulis juga berdasarkan keyakinan, perasaan, keinginan dari pengarangnya. Terjadilah perkawinan silang yang ideal menghasilkan karya dengan perangkat unsur-unsur cerita sebagai mas kawinnya. Kedua domain tersebut harus memadu serasi dan tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Masing-masing hidup secara komplementer. A. Teeuw dalam bukunya menjelaskan sebagai berikut: Dalam sebutan lain adalah pemaduan antara kenyataan (mimesis) dan kreasi (creatio). Menurut penganut teori creatio, karya seni adalah sesuatu yang pada hakikatnya baru, asli, ciptaan dalam arti yang sungguh-sungguh. Sedangkan penganut teori mimesis, karya seni merupakan pencerminan, peniruan ataupun pembayangan realitas. (1988:236).

2)
            Tulisan ini akan saya mulai dengan sebuah petikan surat yang ditulis oleh salah satu tokoh sentral pada novel tersebut:
… Ganjil benar keadaan di kampung kami sekarang. Karena pada beberapa bulan yang lalu, datang kemari seorang anak muda dari Mengkasar, tentu engkau ingat, Zainuddin namanya. Dia tinggal tidak beberapa jauh dari rumahku, dengan bakonya. Tetapi bako jauh. Tabiatnya yang halus menumbuhkan kasihan kita, tetapi di dalam kampung dia tidak mendapat penghargaan yang semestinya. Sebab dia seorang anak pisang, ayahnya seorang buangan yang telah mati di rantau. Meskipun dia dibawa orang bergaul, dia tidak diberi hak duduk di kepala rumah jika terjadi peralatan adat-beradat, sebab dia tidak berhak duduk di situ. Bukanlah orang mencela perangainya, hanya yang dipandang orang kurang ialah bangsanya. Alangkah kejamnya adat negeri kita ini, sahabatku. [1]

Tentu saja paragraf tersebut bukan satu-satunya contoh yang memberikan gambaran eksplisit berupa kenyataan tentang nilai-nilai yang disodorkan oleh pengarang. Saya juga yakin bukan semata-mata sudah menjadi latah, tema-tema serupa yang diangkat pada novel-novel yang muncul pada periode ini, seperti halnya Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Belenggu buah imajinasi Armijn Pane, atau Salah Asuhan hasil pemikiran Abdul Muis, dll. Namun tema yang diketengahkan adalah gambaran kehidupan pada masa itu. Karena setiap karya yang muncul tentu saja merupakan refleksi dan bukti totalitas pengarang dalam menanggapi keberagaman kondisi masyarakatnya.
Berbicara tentang gambaran masyarakat pada kurun waktu tertentu, adalah memikirkan bagaimana kecenderungan pola-pola sosial yang berlaku pada saat itu. Dalam hal ini, di tangan pengarang segala perbuatan manusia dan pola prilaku masyarakat terekam melalui tulisannya. Aristoteles menyebutnya, seorang pengarang karena daya cipta artistiknya mampu menampilkan perbuatan manusia. Ketika itulah terjalinnya hubungan antara karya sastra dengan kenyataan. Dalam sastra dikenal dengan sebutan mimesis, dengan penafsiran arti, bahwa sastra harus mencerminkan kenyataan. Teori ini dikenalkan oleh Plato (428-348) dan muridnya Aristoteles (384-322) yang dari abad ke abad sangat berpengaruh terhadap teori-teori seni dan sastra di Eropa.[2] Plato mengartikan mimesis hanya sebatas seni melukiskan kenyataan. Sedangkan Aristoteles, mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan, melainkan merupakan proses kreatif sambil bertitik tolak pada kenyataan.  
 Dalam bukunya, Poetica, Aristoteles mengungkapkan bahwa sastra tidak lagi dipandang sebagai kopi atau jiplakan mengenai kenyataan, melainkan sebagai suatu ungkapan atau perwujudan mengenai universalia (konsep-konsep umum). [3] Konsep-konsep itu dalam pandangan Aristoteles berupa kodrat manusia, perkataan dan kebenaran universal yang berlaku di mana-mana. Sastra tidak hanya menampilkan sebuah peristiwa yang hanya satu kali terjadi seperti halnya sejarah. Tetapi peristiwa konkret yang dibeberkan kembali sekaligus ditafsirkan probability yang memadukan visi, penafsiran pengarang dan kenyataan sehingga memberikan makna bagi eksistensi manusia. Karya yang diciptakan menurut Aristoteles menjadi sarana pengetahuan yang khas, cara yang unik untuk membayangkan pemahaman tentang aspek atau tahap situasi manusia yang tidak dapat diungkapkan dan dikomunikasikan dengan jalan lain. [4] Dalam hal ini sastra tidak hanya dipandang sebagai jiplakan kenyataan semata. Melainkan sebuah proses kreatif tentang kenyataan.
Meski pada akhirnya konsep mimesis Aristoteles sering ditafsirkan secara sempit.[5] Namun kajian ini tidak terpengaruh oleh hal itu. Penulis hanya bertitik tolak dari teori mimesis yang menjadi patokan[6] dalam ilmu sastra pada umunya.
Penafsiran mimesis dalam karya sastra merupakan sebuah pemikiran bahwa sastra mencerminkan kenyataan. Baik benda-benda, bentuk-bentuk kemasyarakatan, pengalaman, tradisi, dan lain-lain. Salah satu kenyataan yang sering muncul dalam sastra adalah kenyataan sosial yang mencakup budaya masyarakat dari berbagai golongan, kebiasaan, atau lingkungan. Termasuk gagasan primordialisme yang membicarakan segala yang berhubungan dengan rasa kesukuan dan ras.
Primordialisme dalam kajian mimesis tidak sekedar menampilkan perasaan dan sikap manusia terhadap segala perbedaan dan tipe-tipe sosial, serta budaya pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Tetapi juga mencoba mengangkat peristiwa dan tema dalam sastra tentang gejala-gejala yang mempengaruhi nilai-nilai kehidupan manusia. Lebih dari itu, juga menjawab sebuah pertanyaan, sejauh mana karya itu menggambarkan kenyataan, adakah hubungan antara gambaran dengan apa yang digambarkan? Dalam hal ini mewujudkan kembali sesuatu yang sudah menjadi konsep umum suatu masyarakat tentang perasaan kesukuan, keagamaan, kedaerahan, kedudukan sosial dan lain-lain, yang semuanya berlebihan. Berkonotasi primeval. Intinya, primordialisme dalam kajian mimesis, selain mengangkat kenyataan tentang bagaimana sebuah kondisi masyarakat atau tokoh tertentu dalam bersosial dan berbudaya, juga menganalisis segi-segi persoalan yang berhubungan dengannya. Termasuk di dalamnya mengkaji hubungan antara gambaran cerita dengan apa yang digambarkan oleh pengarang.
Kajian terhadap buku ini bermaksud mengangkat budaya primordial(isme) suatu masyarakat, khususnya Padang padan tahun duapuluhan yang impluralis. Sebuah kondisi yang berbenturan dengan hakikat sosial yang sesungguhnya, yaitu pluralis atau kondisi yang menerima sebuah keadaan yang serba majemuk dalam sistem sosial (maupun politiknya).
Pluralis atau kemajemukan dalam masyarakat adalah keniscayaan. Dari yang paling kodrati hingga manusiawi. Keinginan, rasa cinta, kebebasan beragama, dan beribadat maupun berpikir. Namun dalam novel ini, konsep pluralis mengalami ekskursif, terjerat ‘hukum’ primordial. Tampak nyata, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck mengangkat sebuah gejala di masyarakat yang disadari atau tidak oleh tokoh-tokohnya adalah berkaitan dengan suasana primordial yang mengakar.

3)
            HAMKA adalah tokoh yang berasal dari Minangkabau. Lahir pada tanggal 16 Februari 1908 di Maninjau, Sumatera Barat. Sebuah sumber menyebutkan, tokoh ini diakui sebagai penulis dan orator besar Indonesia. Dalam karya-karyanya HAMKA selalu mengetengahkan kekayaan budaya daerah yang dimiliki daerah-daerah di Indonesia. Terutama Minangkabau  yang baginya sebagai negeri yang sangat beradat dan beradab.[7] Selain itu, tokoh ini pun menduduki posisi penting selama masa Belanda dan pendudukan Jepang, serta aktif dalam bidang politik pada masa revolusi serta masa-masa sesudahnya. Selain itu, HAMKA sangat minat terhadap sejarah negerinya. HAMKA meninggalkan karya yang sangat banyak; diantaranya yang sudah dibukukan tercatat lebih dari 118 buah, belum termasuk karangan-karangan lain yang dmuat di berbagai mesia masa dan dalam kesempatan kuliah atau ceramah ilmiah.[8] Novel romannya selain Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli, Di Dalam lembah Kehidupan, dan Di Bawah Lindungan Ka’bah, juga Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan di Tepi Sungai Dajjah. Termasuk buku biografi orang tuanya dengan judul Ayahku.
            Tenggelamnya Kapan Van Der Wijck ditulis pada tahun 1930-an dan terbit tahun 1939. Ketika itu, aktivitas HAMKA sangat padat dalam kegiatan organisasi, terutama kegiatan organisasi Islam Muhamadiyah yang membawanya melawat ke berbagai daerah. Seperti daerah Bengkalis, Makasar (sebutan dalam novelnya, Mengkasar), Medan, dan bolak-balik Padang Panjang.
            Tempat-tempat yang dikunjunginya pada kurun waktu tersebut sangat lekat dalam novel Tenggelamnya Kapal Van DerWijck.[9] Hal ini yang memungkinkan penulis membuat sebuah hipotesis bahwa, kejadian yang dimunculkan dalam novel tersebut ada kaitannya dengan keadaan sosial budaya masyarakat Padang pada masa itu. Terutama tema yang diangkat bermula dari sebuah adat yang mengakar dari generasi ke generasi hingga sekarang di daerah Padang, yaitu matrilineal. Dari sanalah sesungguhnya inti tema cerita ini berawal. Dalam kajian mimesisi, konsep matrilineal menjadi sebuah gejala yang pada akhirnya sangat berpengaruh terhadap nilai kehidupan manusia yang menjalaninya.
            Jainnuddin adalah tokoh utama cerita ini. Dikisahkan dia adalah anak seorang Pandekar Sutan yang menjadi pewaris tunggal dari harta peninggalan ibunya. Sayangnya, Pandekar Sutan tidak mempunyai saudara perempuan yang akan menjaga harta.[10] Sehingga setelah kematian ibunya, pamannyalah yang boleh menghabiskan harta itu. Termasuk para saudara Datuk Mantari Labih, gelar pamannya itu. Hingga pada akhirnya, Pandekar Sutan dibuang selama 15 tahun karena membunuh Datuk Mantari Labih. Usai pengasingan itulah Pandekar Sutan menikah dengan ibunya Jainuddin dan tinggal di Makasar (Mengkasar dalam cerita). Meskipun Pandekar Sutan pada akhirnya mendapat surat berkali-kali untuk kembali ke kampungnya di Padang dan harus menikah di sana,[11] namun Pandekar Sutan selalu menolak.[12] Dia sangat setia dengan istrinya yang meskipun tinggal pusara. Cintanya besar seperti halnya cinta ibunya Jainuddin kepada Pendekar Sutan.
            Setelah dewasa, Jainuddin terpanggil untuk mengunjungi tanah nenek moyangnya. Namun jauh panggang dari api, jauh dari sangkanya, ternyata keadaan di tanah nenek moyangnya sangat berbeda dengan yang diharapkannya. Kegembiraan yang semula dirasakan setelah sampai ke negeri yang selama ini menjadi kenang-kenangannya, lama-kelamaan hilang tanpa diduga. Di kampungnya sendiri dia tidak mendapat tempat dan kasih sayang seperti kasih sayang yang diperolehnya selama ini dari Mak Base, perempuan yang merawatnya dari kecil. Saudara ayahnya tidak mengangapnya sebagai orang Minangkabau, melainkan orang asing.[13]
            Betul sekali, adat Minangkabau sangat berbeda dengan adat Mengkasar yang ditinggalinya selama ini.[14] Konsep matrilineal yang menjadi tombak peradaban tanah gadang adalah salah satu bentuk budaya yang membutuhkan tumbal dengan harga yang sangat mahal dari seorang anak manusia bernama Jainuddin. Boleh jadi, HAMKA menciptakan tokoh Jainuddin sebagai gambaran kecil anak negeri yang menjalani hidup seperti itu dalam senyatanya.
 Pengalaman pahit Jainuddin tidak berhenti sampai di situ. Persoalan kesukuan yang dihadapinya ternyata juga membentur dinding kokoh keakuannya sebagai seoarang manusia normal yang beradab, berasa dan berhasrat. Yaitu anugerah terindah dari Tuhan untuk segenap manusia di muka bumi ini. Tak lain rasa kasih terhadap sesama manusia. Berwujud perasaan cinta untuk lawan jenis. Kali ini, keangkuhan adat kembali membenturnya tanpa ampun. Membuatnya terjerembab dalam lubang sakit yang tidak berkesudahan. Cinta yang tumbuh sempurna untuk seorang gadis Minangkabau bernama Hayati tergerus sudah oleh roda-roda raksasa bernama peradaban negeri yang baginya tidak mengenal moral. Tumbuh dan berkembang tanpa mengenal batas-batas hak azasi manusia. Berlaku hukum-hukum adat yang tidak menyentuh perbedaan keinginan, cara berpikir, keturunan, dan hak manusia yang paling azasi bernama cinta.
Hasrat suci dua anak manusia bernama Jainuddin dan Hayati terjegal oleh adat. Tak satu pun yang mendukung keinginan mereka berdua. Bahkan lebih-lebih yang diterima Jainuddin. Hanya pengusiran pahit yang dia terima.[15] Tidak berhenti sampai di situ, segala perasaan yang telah tumbuh dan bersemi, masa-masa romantis meskipun hanya dilakukan lewat surat-surat, cita-cita berdua, akhirnya kandas oleh perkawinan paksa yang dilakukan keluarga Hayati dengan seorang laki-laki bernama Azis. Padahal sesungguhnya Azis bukan seorang laki-laki yang baik. Hingga hidup Hayati menderita sampai akhir hayatnya.
Itulah bukti betapa manusia tidak melihat sisi buruk rasa kesukuan yang berlebihan. Andaikan saja para pemilik adat dan suku itu mengenal dan mengakui berbedaan atau kemajemukan (pluralis)me di masyarakat, kejadian ini bisa dihindari. Sikap primordialis membawa tokoh-tokoh adat menjadi tidak mengenal dan mengakui pluralisme atau kemajemukan di masyarakat. Bahwa setiap manusia lahir dengan sekian perbedaan, baik warna kulit, kesukuan maupun derajat yang harus dihargai dan ditempatkan secara adil.

4)
            Karena kajian ini hanya sebatas membahas secara mimesis sekitar persoalan primordialisme dan impluralisme, maka persoalan kenyataan lain yang diangkat pengarang dalam novel ini tidak menjadi titk perhatian, seperti kejadian pemindahan pasar di Padang pada masa lalu, kejayaan kota Padang pada masa perang dunia dengan deretan nama-nama orang kaya di sana. Termasuk peristiwa krisis perniagaan, berdirinya sekolah Diniyah, masuknya faham komunis dan lain-lain.
            Kajian ini tidak saja mengangkat peristiwa menjadi sebuah cerita, akan tetapi mencerminkan sebuah kenyataan dengan pendalaman sebuah dimensi lain yang lebih mendalam. Dalam hal ini tentu saja pola-pola sosial yang berlaku sehingga terjadinya sebuah peristiwa atau cerita yang dialami oleh para tokoh yang diciptakan pengarang untuk mewakili dunia yang dibentuknya. Pencerminan cerita ini akan membuka kesempatan kita memasuki sebuah dunia lain berupa budaya yang sesungguhnya ada.
            Melalui Tenggelamnya Kapal van Der Wijck, HAMKA mengangkat sebuah kondisi budaya yang telah mengakar di negeri kelahirannya. Sebuah budaya tinggi yang tidak bisa ditawar-tawar lagi kebesarannya. Tentu saja tema dan peristiwa yang diangkat tidak saja menawarkan sebuah dimensi sosial yang patut diketahui, akan tetapi dari segi unsur sastra, cerita ini secara tidak langsung mengkaji sebuah budaya yang sangat berpengaruh terhadap peradaban bahkan nasib hidup manusia.
            Betapa sebuah cermin besar ditampakkan oleh cerita ini. Budaya tinggi namun tidak mengenal batas nilai kemanusiaan tetap saja menggusur seorang anak manusia pada nasib buruk. Jainuddin diceritakan tidak berhasil menikah dengan Hayati. Demikian juga Hayati hanya menerima kesengsaraan lahir dan batin setelah menikah dengan Aziz. Meskipun di tahap antiklimaks (setelah Jainuddin berhasil menjadi seorang pengarang terkenal), seolah cinta mereka akan dihadapkan oleh penyatuan. Namun sebuah peristiwa, yaitu tenggelamnya kapal van Der Wijck yang berlayar dari Surabaya ke Semarang, tanggal 20 Oktober 1936 mengilhami HAMKA dalam menyelesaikan novel ini. Pembaca disodorkan pada sebuah denoumen yang mengagetkan. Sebuah penyelesaian cerita yang sangat tragis. Hayati ikut tenggelam bersama kapal tersebut. Setelah perempuan yang sangat dicintainya itu menghadirkan diri kembali untuk masuk dalam kehidupan Jainuddin dan mengakui segala penghianatan karena ulah pelaku adat. Sayangnya Jainuddin telah dipaku oleh rasa sakit yang begitu dalam, melupakan hasrat dan kesejatian cinta yang pernah tumbuh subur seumur hidupnya. Ditambah atas nama adat yang juga terbiasa mengungkungnya.
            Tetapi sebagai terdengar di telinganya beberapa perkataan yang sudah pernah diucapkan ninik-mamak Hayati kepadanya. “Kalau dia kawin dengan Hayati, kemana anak mereka akan berbako?”…
            “Tidak! Pantang pisang berbuah dua kali, pantang pemuda makan sisa!”…
           
Sehingga kesempatan untuk mendapatkan kembali Hayati yang telah menjanda pupus juga. Akhir yang memutuskan bahwa Jainuddin benar-benar tidak bisa memiliki Hayati seutuhnya. Boleh jadi membuahkan sebuah konsep tentang kesejatian cinta seorang anak manusia pada masa itu, bahwa cinta sejati terbawa sampai mati.
Hal tersebut merupakan gambaran hubungan antara kejadian dan peristiwa budaya, pengolahan unsur-unsur sastra, sehingga menghasilkan sebuah tema yang utuh. Cerita ini memperlihatkan gambaran kehidupan tentang kejadian yang ada dengan penafsiran pengarang melalui tokoh-tokoh, alur, plot, serta nilai-nilai budaya yang benar-benar membawa pembaca melihat sebuah sisi lain kehidupan. Inilah gambaran akhir, perpaduan antara budaya, peristiwa dan nasib manusia yang tetap saja pengemasannya sangat hati-hati dan apik di tangan HAMKA.
            Budaya primordialisme dan impluralis yang dikaji secara mimesis dalam Tenggelamnya Kapal van Der Wijck, menguraikan sebuah bahan pemikiran, perasaan, dan perbuatan, berisi sesuatu yang pernah ada, yang dibayangkan, pendapat orang, atau keadaan yang seharusnya ada, berupa keyakinan dan cita-cita, tentang rasa bersuku dan berbudaya. Bahwa segala peristiwa budaya tentang perasaan kesukuan yang berlebihan dan tidak mengenal perbedaan di masyarakat, membawa nasib buruk pada hidup manusia. Melalui Tenggelamnya Kapal vanDer Wijck, HAMKA tidak saja berhasil menggambarkan keadaan di negerinya, tentang budaya luhur nenek moyangnya. Tetapi juga sukses mengetengahkan hubungan yang permanen antara peristiwa, baik peristiwa berupa fakta maupun kondisi budaya, serta ide-ide orisinalitas tentang cita-cita, keyakinan hidup yang menjadi kajian mimesis. Peristiwa konkret di negerinya digambarkan kembali secara luas melalui sisi budaya, cita-cita, keinginan dan cinta anak manusia.
            Penokohan Jainuddin dan Hayati merupakan simbol primordialisme dan impluralisme yang hendak dikenalkan oleh HAMKA tentang buah budaya yang mengakar di negerinya. HAMKA seolah mengajak pembaca memahami bahwa nilai-nilai seperti itu hanya akan membawa petaka yang tidak ada habisnya. Tatanan sosial dan budaya hendaknya mengenal fanatisme kesukuan, akan tetapi bukan fanatisme sempit apalagi primordial. Begitu pula, kemajemukan/pluralisme di masyarakat hendaknya diakui sebagai sebuah kondisi yang memperkaya budaya dan kehidupan.

5)
            Tenggelamnya Kapal van Der Wijck memberikan sebuah wacana baru tentang sebuah sisi negatif budaya masyarakat yang ditanggapi berlebihan oleh para pemilik budaya tersebut. Sesungguhnya setiap manusia lahir dan hidup dengan membawa perbedaan. Perbedaan tersebut hanya akan menjadi bencana jika ditanggapi sebagai sebuah warna yang hidup dalam pemisahan dan berdiri sendiri. HAMKA sebagai seorang nasionalis dan selalu ingin membicarakan kesatuan bangsa Indonesia, seolah hendak mengajak bahwa meskipun tinggi nilai budaya Minangkabau, namun jika diterima secara sempit oleh para pelaku adat, maka tetap saja menjadi tidak bernilai.
HAMKA telah melakukan pembuktian tentang kondisi budaya yang merapuh pada sisi primordialisme. Keadaan yang sesungguhnya berseberangan dengan nilai positif dalam kehidupan bermasyarakat. Primordialisme tidak lagi memberikan pemaknaan terhadap perasaan kesukuan, keagamaan, kedudukan sosial yang sebenarnya, namun berlebihan sehingga menjadi bumerang bagi terciptanya kekayaan nilai-nilai seperti keragaman atau pluralis yang dimiliki oleh masyarakat yang bermartabat dan berbudaya.

Selesai.



[1] HAMKA, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Jakarta: Bulan Bintang.1981. hal 38
[2]  Lihat Jan Van Luxemburg, dkk, 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: P.T. Gramedia
3 Lihat Jan Van Luxemburg, dkk, ibid
4  Lihat Jan Van Luxemburg, dkk, ibid

[5] Karya-karya hanya menampilkan sesuatu yang universal dalam perbuatan manusia lalu ditafsirkan seolah-olah pengarang hanya menciptakan tipe-tipe sosial yang khas bagi suatu tempat atau dalam kurun waktu tertentu.
[6] Pendapat Aristoteles berdasarkan pemahaman penulis
[7] Lihat Deliar Noer, 1983,Yamin dan HAMKA dalam Dari Raja Ali Haji Hingga HAMKA, Jakarta: Temprint
[8] Lihat Ensiklopedi Islam
[9] Tahap perkenalan cerita di Mengkasar dengan segala bentuk kehidupan termasuk peperangan di daerah itu. Tahap pemunculan konflik terjadi ketika tokoh utama mulai menginjakkan kaki di daerah kelahiran orang tuanya di Padang. Tahap peningkatan konflik hingga konflik memuncak yang terjadi di PadangPanjang dan daerah sekitarnya, tentang nilai-nilai yang melingkupi kehidupan Minangkabau, serta adat istiadat yang berlaku.
[10] Menurut adat Minangkabau, amatlah malangnya seorang laki-laki jika tidak mempunyai saudara perempuan, yang akan menjaga harta benda, sawah berjenjang, Bandar buatan, lumbung berpereng, rumah nan gadang…. Beberapa kali dia mencoba meminta supaya dia diizinkan menggadai, bukan saja mamaknya yang menghalangi, bahkan pihak kemenakan2 jauh, terutama pihak yang perempuan yang menghalangi, sebab harta itu sudah mesti jatuh ke tangan mereka, menurut hokum adat.’nan sehasta, nan sejengkal, nan setampok, sebuah jari.’ (TKVDW, hal 11 dan 12)
[11] Di Minangkabau orang merasa malu kalau dia belum beristri orang kampungnya sendiri. Berbini di rantau orang artinya hilang , ibid, h 19
[12] Dia tidak pula mau hendak membawamu ke Padang, karena hati keluarga belum dapat diketahui, entah suka menerima anak pisang orang Mengkasar, entah tidak. Karena kabarnya adapt di sana berlainan sangat dengan adapt di Mengkasar ini, ibid.
[13] Orang di sana mashur di dalam menerima orang baru. Tetapi basa-basi itu lekas pula bosan. Oleh karena yang kandung tidak ada lagi, apalagi ayahnya tidak bersaduara perempuan… Jiwanya sendiri mulai merasa bahwa meskipun dia anak orang Minangkabau tulen, dia masih dipandang orang pendatang, masih dipandang orang jauh, orang Bugis, orang Mengkasar, ibid. h 26
[14]Adat Minangkabau lain sekali. Bangsa diambil daripada ibu. Sebab itu, walaupun seorang anak berayah orang Minangkabau, sebab di negeri lain bangsa diambil dari ayah, jika ibunya orang lain, walaupun orang Tapanuli atau Bengkulu yang sedekat-dekatnya, dia dipandang orang lain juga… tak dapat Jainuddin mengatakan dia orang Padang, tak kuasa lidahnya menyebutnya dia orang Minangkabau. Dia tidak berhak diberi gelar pusaka, sebab dia tidak bersuku. Meskipun dia kaya raya misalnya, boleh juga dia diberi gelar pinjaman dari bakonya tetapi gelar itu tak boleh diturunkan pula kepada anaknya. Melekatkan gelar itupun mesti membayar hutang kepada negeri, sembelihkan kerbau dan sapi, panggil ninik-mamak dan alim ulama, himbaukan di labuh nan golong, di pasar nan ramai.
[15] Dia teringat dirinya, tak bersuku, tak berhindu, anak orang terbuang, dan tak dipandang sah dalam adapt Minangkabau.

Membaca Peradaban dalam Film


 Iis Wiati Kartadinata


Jumat, 31 Maret 2017, saya menonton sebuah film di bioskop di Kota Bogor. Judulnya Beauty and The Beast. Sebenarnya ini bukan fim baru. Tapi produsen film  yang dipimpin oleh David Hobermen dan Todd Lieberman merilisnya kembali dengan sajian yang amat keren. Walt Disney Pictures menyajikan kembali sebuah tontonan yang amat fantastis. Film ini dibintangi oleh Emma Watson sebagai Belle, Dan Steven  (Beast), Luke Evans, Kevin Kline, Josh Gad, Ewan McGregor, dan lain-lain. Film yang disutradarai oleh Bill Condon ini begitu memukau. Seperti biasa, Walt Disney Picture,  penyedia film fantasi ini, menyuguhkan teknik animasi yang luar biasa. Sekalipun orang sudah faham dengan alurnya dan sudah menonton kisah ini sebelumnya, tidak berarti Beauty and The Beast edisi 2017 akan kekurangan penonton karena kebosanan.
Tapi sesungguhnya bukan ini yang menjadi tujuan penulis. Masalahnya bukan pada bagaimana canggihnya teknik fotografi, tim artistik dan wardrobe yang menampilkan fairy tale khas pada film Beauty and The Beast. Namun sesuatu yang mengagetkan penulis ketika baru saja kira-kira lima belas menit film itu berlangsung.
Mengenai isi cerita, hampir semua orang faham film ini. Yaitu tentang seorang gadis cantik yang saling jatuh cinta dengan seekor mahluk buruk jelmaan pangeran tampan. Namun ada sesuatu yang luar biasa di balik itu. Belle, dalam bahasa Perancis artinya cantik adalah seorang gadis yang dianggap unik, istimewa, dan berbeda dari gadis-gadis yang ada di desanya. Kenapa istimewa? Dia bukan gadis yang setiap hari berdandan lalu menggoda pemuda tampan. Dia juga bukan gadis yang berkumpul di tempat cuci baju sambil menggunjingkan orang lain. Tapi Belle punya keistimewaan karena memiliki kecerdasan dan keinginan untuk menjadi manusia yang istimewa. Mengapa dia tumbuh menjadi gadis seperti itu? Bahkan dia menolak uluran cinta seorang pemuda paling gagah dan tampan (Gaston, diperankan oleh Luke Evans) yang merupakan pujaan gadis-gadis di kampungnya. Perbedaan itu ternyata karena satu hobinya yang berbeda dengan gadis lain. Hobi Belle yaitu membaca buku! (Bahkan ternyata membaca buku juga hobi Emma Watson dalam kehidupan nyata).
Film ini bergenre romantis, fantasi dan musikal. Menurut saya, Evan Spiliotopoulos sebagai salah satu penulis skenario Beauty and The Beast entah sadar atau tidak sadar telah menyisipkan sisi edukatif ke dalam skenarionya. Bisa juga, ya karena kesadaran akan tulisan dan buku memang sudah tumbuh sejak abad yang sangat jauh di negeri tempatnya/setting film ini. Sehingga otomatis saja penulis skenario memunculkan kebiasaan ini dalam filmnya tanpa tujuan tertentu, misalnya khusus mengajarkan pentingnya membaca. Penulis skenario tidak mengajarkan itu tapi mempertontonkan sebuah peradaban yang sudah ada pada waktu itu.
Tak hanya itu, adegan yang menampilkan makna serupa juga muncul pada bagian cerita berikutnya. Ketika itu Belle, sang gadis yang cinta buku ini, disodorkan pada sebuah perpustakaan di kerajaan sang mahluk buruk (Beast) itu. Buku dengan ribuan jumlahnya tertata rapi hingga keseluruhan dinding ruang baca istana, dengan lemari yang luar biasa tingginya. Belle bukan sekedar terkagum-kagum. Tapi juga memperlihatkan sebuah euforia di wajahnya. Melihat ribuan baris buku seakan-akan matanya mengatakan bahwa dia telah menemukan sebuah surga! Film yang benar-benar keren. Bahkan penulis terkesan ketika penonton disodorkan pada beberapa adegan ketika Belle dan Beast membaca buku, bahkan beberapa kali di sebuah taman bersalju. Ada sebersit pertanyaan. Mengapa membaca buku? Mengapa tidak melakukan hal yang lain? Itulah wajah Perancis pada waktu itu yang diwakili oleh adegan-adegan dalam film Beauty and The Beast.
Film adalah refleksi dari kehidupan nyata. Film ini memiliki setting kira-kira abad pertengahan. Namun penulis skenario mewujudkan sebuah keadaan yang tidak sengaja mengarah pada sisi edukasi yang luar biasa. Di negeri sana, ini hal yang sangat biasa. Tapi bagi penulis yang menonton film ini, ini sungguh luar biasa. Bisa saja keistimewaan seorang gadis (Belle) ini karena misalnya jago memasak, atau pemberani, atau hal lain yang umum pada seeorang gadis. Tapi di Perancis, maka buku menjadi jawabannya.
Lupakan, tentang gaya bicara Belle yang tidak menunjukkan bahwa dia gadis Perancis. Bagi penulis, film ini adalah tetap film musikal yang berisi dan juga sangat indah.
Peradaban dalam bahasa Inggrisnya disebut civilization. Menurut berbagai sumber, jika disimpulkan, peradaban adalah suatu bagian dari kebudayaan yang tinggi, halus, indah, dan maju. Arnold Toynbee, dalam bukunya menyatakan bahwa peradaban adalah suatu kebudayaan yang sudah mencapai taraf perkembangan teknologi yang lebih tinggi, seluruh hasil budi daya manusia, yang mencakup kepada seluruh aspek kehidupan manusia, baik fisik (misalnya bangunan, jalan), ataupun nonfisik (nilai-nilai, tatanan, seni budaya, ataupun iptek).
Merujuk pada pengertian-pengertian tersebut, penulis berpikir bahwa muara dari peradaban adalah ilmu pengetahuan. Dan segala sumber dari ilmu pengetahuan adalah buku. Hal ini berarti bahwa, jika sebuah negeri disebut beradab, maka mau tidak mau, buku menjadi bagian dari negeri tersebut. Berkaitan dengan film Beauty and The Beast, Peradaban di negeri Perancis sudah terlihat sejak abad pertengahan. Sesuai dengan setting waktu di film itu.
Film adalah refleksi dari kehidupan nyata. Lalu bagaimana dengan negeri ini? Nampaknya masih jarang film-film yang menyuguhkan pemandangan seperti itu. Apakah karena negeri ini masih merangkak menuju sebuah peradaban? Bahkan ketika penulis disodorkan pada tokoh kutu buku dalam cerita-cerita versi Indonesia, mereka jarang diperlihatkan dengan tokoh yang cantik, ganteng, dan keren. Tapi mereka berkaca mata tebal, bahkan terkadang menjadi bahan cemoohan teman-temannya.  Paling tidak untuk beberapa cerita yang sempat saya tonton dalam bentuk sinetron. Karena memang tidak semua begitu. Di era tahun 80-an, ketika film yang dibintangi Rano Karno muda dan Yessie Gusman sedang berjaya, pengarang Edi D. Iskandar masih menawarkan gagasan tokoh utama yang rajin belajar (membaca), dengan sosok yang tampan dan menjadi pujaan. Misalnya dalam film Gita Cinta dari SMA, begitu pun dengan film Roman Picisan. Atau film Usia 18 yang dibintangi oleh Dian Hasry juga memperlihatkan kisah pemuda tampan yang rajin belajar. Namun nampaknya baru sampai di situ. Berikutnya sineas Indonesia banyak menghasilkan karya-karya yang bernuansa percintaan dengan musik dan jagoan di dalamnya (film-film Rhoma irama), atau film silat, dan film-film Warkop yang selalu box office pada tahun 80-an. Lalu muncul era Lupus karya Hilman Hariwijaya yang menampilkan kisah kelucuan anak sekolah, meski dengan tokoh yang baik hati dan sederhana. Berikutnya era Si Boy, pemuda tampan nan kaya serta baik hati juga pintar. Tapi tetap sisi kebiasaan membaca tokoh belum dimunculkan.
Bukan berarti film-film Indonesia kurang menyuguhkan hal itu. Masih ada film-film yang menawarkan sebuah janji kemajuan bagi bangsa ini. Sebut saja film Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Film yang menceritakan perjuangan enam orang santri ini begitu menginspirasi penonton untuk mengejar mimpi di masa depan, dengan kerja keras dan bersungguh-sungguh. Ada juga film Mimpi Sejuta Dollar yang menginspirasi dari kehidupan nyata Merry Riana yang berjuang dari nol hingga mencapai kesuksesan. Lalu ada 5 CM karya Doni Dhirgantoro yang menawarkan sebuah gagasan menumbuhkan rasa nasionalisme dan persahabatan. Film yang pernah fenomenal juga tak pernah kita lupa, yaitu Laskar Pelangi. Tentang semangat kerja keras anak-anak Belitong untuk mendapatkan pendidikan. Atau banyak film lain yang menginspirasi. Misalnya Surat Kecil untuk Tuhan, Sabtu Bersama Bapak, Sang Pencerah, Athirah, dan lain-lain. Terlalu banyak jika disebutkan satu-persatu. Namun sekali lagi, film yang khusus menyentuh kegiatan membaca masih bisa dihitung dengan jari. Sebut saja film Gie, atau Ada Apa dengan Cinta 1 yang menawarkan penonton muda pada apresiasi sastra. Atau Habibie- Ainun yang secara tidak langsung memperlihatkan semangat kerja keras Habibie muda dengan membaca buku. Jika ada film yang nampaknya mengarah pada kegiatan membaca, sebut saja judul film Iqro (garapan Salman Film Academy) yang telah tayang Januari lalu, bukan dikhususkan ke membaca buku secara mum, namun membaca Al-Quran yang wajib bagi penganut Islam.
Demikianlah, penulis menunggu adanya film yang inspiratif dalam kegiatan membaca, terutama bagi anak-anak sekolah. Misalnya saja kisah Adam Malik yang rajin membaca sejak kecil, Hatta yang begitu kentalnya dengan buku meskipun di dalam penjara, atau Gus Dur yang sejak usia belasan sudah melek sastra asing. Begitu banyak tokoh kita sejak dulu. W.R. Soepratman belum tentu menciptakan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” jika sebelumnya tidak membaca pengumuman tentang sayembara menulis lagu. Begitu pun HAMKA, Tan Malaka,  Ajip Rosidi, Taufik Ismail, Chairil Tanjung, dan banyak sekali tokoh lainnya.


Jika tak bisa dari tokoh besar, banyak sekali tokoh kecil yang bisa diangkat. Seperti halnya Belle dalam Beauty and The Beast. Dia hanya gadis desa dengan cita-cita menjadi manusia yang bisa berpikir bebas!