Novel ini berkisah tentang kehidupan
seorang gadis bernama Halisah yang hidupnya dibayang-bayangi oleh tokoh-tokoh
berbangsa Jepang. Pertama, Takeda yang berperan penuh mengubah seluruh garis
hidupnya sejak Halisah menjadi jugun ianfu di Telawang, hingga kembali ke tanah
priangan, Bandung. Kedua, Nakumi, seorang sekretaris perwakilan pemerintah Jepang
yang bekerja di kantor kewedanaan. Nakumi mengenal dan mencintai Agus, seorang
pemuda yang sangat berperan penting bagi tokoh Halisah sejak kecil. Agus
menyimpan perasaan yang dalam pula kepada Halisah, sejak gadis ini masih kecil dan
menjadi sahabat bagi Atikah, adiknya.
Hinomaru memiliki
latar waktu sepanjang pendudukan Jepang di Indonesia (tahun 1942), hingga beberapa
tahun setelahnya. Segala aturan yang dibuat Jepang, sangat terasa hingga
pelosok kampung. Hal ini membawa perubahan nasib yang tidak terkira bagi tokoh-tokoh
di dalam novel ini. Tidak hanya tokoh utama, Halisah, tetapi juga tokoh-tokoh
lain yang memiliki kedekatan dengan tokoh utama, contohnya saja Atikah dan
seluruh keluarga.
Pada tahun-tahun berikutnya,
setelah berakhirnya pendudukan Jepang, kehidupan tokoh pun mengalir seiring
sejarah dengan segala konflik yang menyertainya. Rumah tangganya yang dibangun
terpaksa, juga pengharapan akan sosok Agus yang tidak pernah berhenti.
Sesungguhnya kegagalan hidup dan cinta tokoh Halisah, baginya adalah karena
kehadiran orang-orang Jepang yang selalu membayangi kehidupannya. Mereka, bagi
Halisah adalah seperti halnya bendera Hinomaru yang seakan-akan tak bisa
dihentikan kibarnya.
Cerita dimulai dengan
pemunculan prolog 1 yang berisi upacara
keberangkatan para gadis yang konon akan disekolahkan oleh Jepang. Permulaan
ini mengarahkan para tokoh cerita pada pengisahan di babak-babak sebelum dia
berangkat (latar tokoh, latar tempat dan peristiwa, bagian masa kecil, serta
hal-hal yang menjadi hulu konflik pada babak-babak berikutnya). Begitu pun
dengan penokohan yang lain.
Pada bagian berikutnya,
disajikan prolog 2, sebagai bayangan
ending dari novel ini (berupa kisah penembakan, hanya tidak jelas, tokoh mana
yang menembak dan ditembak). Bagian ini mengarahkan tokoh pada
peristiwa-peristiwa sesungguhnya setelah dia berangkat (yang katanya) untuk
disekolahkan ke Jepang (kenyataan menjadi jugun ianfu di sebuah tempat di Pulau
Tatas, Kalimantan). Selanjutnya, Konflik tidak hanya berpusat pada penderitaan
tokoh selama menjadi jugun ianfu saja, tetapi juga perjalanan hidup
selanjutnya. Rangkaian pergumulan konflik yang menyangkut dirinya, Takeda,
Nakumi, serta Agus kekasih bayangannya sejak kecil. Mulai ketika Halisah
menjadi jugun ianfu, hingga ia menjadi istri Takeda secara terpaksa. Tentu saja
peran Nakumi besar pada peristiwa ini. Konflik batin pada semua tokoh terus berlanjut.
Menyangkut segala hal, perasaan, harga diri, termasuk berkaitan dengan
keturunan. Bagi Halisah, tokoh Nakumi dan Takedalah yang membayangi
kehidupannya. keduanya seakan mengharamkan kebahagiaan baginya. Hingga muncul tokoh
lain yang tidak diduga kedatangannya menjadikan persoalan semakin rumit.
Kehidupan jugun ianfu yang
sangat terkenal pada masa pendudukan Jepang, menjadi latar novel ini. Meskipun
sesungguhnya cerita ini fiksi, namun segala data, fakta sejarah, kepustakaan,
serta perbincangan secara langsung dengan pelaku sejarah (salah seorang tokoh
yang pernah hidup di zaman Jepang), adalah bahan riset untuk memperkuat unsur
ekstrinsik cerita.

🤩
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusterima kasih Aisyah... ibu jarang sempat buka blog...
BalasHapus