CERITA
KECIL BERSAMA BAPAK
Kisah:
Iis Wiati
Membaca
kata pahlawan tak pernah lepas dari satu kata yang identik dengan hasil, tentu
saja bisa dinikmati siapa pun, meski tidak berwujud, tidak terlihat, yaitu
jasa. Kata ini bahkan terkadang dilupakan oleh sebagian orang. Teronggok begitu
saja dalam pemikiran-pemikiran sisa-sisa setelah hal-hal besar yang lebih
penting untuk dijadikan bahan persoalan.
Pahlawan,
hero, setiap mahluk hidup memilikinya. Bahkan berdirinya bangsa ini adalah
karena jasa ribuan pahlawan yang telah gugur dalam riuhnya peperangan. Manusia
lahir karena jasa seorang ibu, tentu saja tanpa menafikan kehadiran dan jasa
seorang sosok bapak dalam hidup anaknya. Kemajuan bangsa ini juga berwujud
karena kerja keras, bimbingan penuh keikhlasan, sebut saja jasa seorang
pendidik. Bukan itu saja, kata pahlawan bisa melekat pada siapa pun. Para
pekerja kasar, buruh, pegawai pemerintah hingga aparat keamanan yang tulus
memberikan pelayanan kepada khalayak dalam membantu menyelesaikan urusan. Bisa
juga, di zaman sekarang, seiring perkembangan situasi, kemajuan teknologi, dan
maraknya pemberitaan, para selebrita beramai-ramai membantu kaum lemah dalam
urusan memenuhi kebutuhan. Tanpa harus melihat lagi apa pretensi di balik semua
itu. Pada hakikatnya mereka adalah pahlawan.
Di
atas segalanya, pahlawan yang paling dekat dengan saya sampai akhir hayat
adalah orang tua saya sendiri. Tak pernah terganti, tak bisa bersubstitusi. Ingatan
saya tentang itu tak kan pernah lekang oleh waktu. Cinta saya pada mereka hidup
dalam keabadian. Sekarang, nanti, bahkan hingga saya kembali bertemu mereka
setelah kematian, dalam keabadian.
Cinta,
itu bentuknya. Tidak kurang dari itu.
Saya
terlahir dalam buaian senja yang merana karena datangnya malam, tapi mereka
menyadarkan saya untuk tidak lelap dalam gelap. Dengan bimbingan mereka, saya
selalu tersadar akan indahnya matahari pagi hingga senja yang menjadi cahaya
ketika malam tiba.
Lalu
mereka bercerita tentang kehebatan orang-orang di masa silam. Bagaimana Adam
meninggalkan surga, bagaimana para raja besar bertahta, tentang Firaun dan Nabi
Musa. Saya tercerahkan dengan semuanya.
Kisah-kisah itu membawa saya pada keinginan besar untuk mencari misteri di
balik alam raya. Tentang manusia, sejarahnya, hingga cita-cita. Dan itu pada
akhirnya saya temukan lewat buku-buku cerita, kisah-kisah besar manusia
berpengaruh yang penuh warna dengan jasa-jasanya pula. Sejak itu saya menjadi
ingin maju dan ingin menimba ilmu. Lebih dari itu, menjadi pemberi ilmu seperti
juga ibu.
Dan
hari ini. Semua berwujud. Saya menjadi seorang guru.
Ada
cerita kecil ketika saya memulai semuanya. Saat itu usia saya baru menginjak 7
tahun. Sebuah massa, saatnya semua anak mulai menikmati bangku sekolah. Tapi
tidak bagi saya. Sampai saya katakan, berkat merekalah saya bisa memulainya.
Inilah kisah saya.
Ketika itu, suatu pagi di tahun 80-an. Saya akan didaftarkan di sebuah sekolah
dasar. Menjadi siswa sekolah adalah
satu kebanggaan. Bahkan
ketika usia lima tahun, saya sudah punya kerinduan tersendiri untuk masuk gerbang
sekolah itu. Gerbang sekolah yang waktu itu punya getaran magic tersendiri. Anak-anak
yang sudah masuk ke sana rasanya seperti orang yang sudah berhasil melewati sebuah ujian
besar. Padahal sebenarnya gerbang sekolah itu tak lebih dari pagar bambu.
Saya melangkahkan kaki dengan riang. Sekolah dasar itu hampir dua
kilometer jauhnya. Jalan yang sesekali
berisi genangan lumpur, tanah becek
diselingi batuan koral. Namun mereka mendadak bersahabat. Kaki saya pun
tidak perlu tergelincir di atasnya. Apalagi terpeleset dan menyisakan kotoran
di baju. Kala itu berwarna putih
biru karena seragam belum sama setiap jenjang pendidikan seperti sekarang.
Padahal saya belum resmi diterima sebagai siswa. Mungkin bahasa sekarang saya
sudah ke-ge-eran.
Pohon deres yang
menyubur di sisi kali seberang
jalan mendadak bermakna. Begitu pula deretan tanaman bunga sepatu. Sesekali saya
menyentuhnya, mengambil putiknya, lalu saya isap sarinya. Manis rasanya. Saya
tersenyum sendiri sambil berlari-lari dan memegang putik itu. Bapak berjalan
mengikuti langkah saya di belakang.
Meskipun belum tercatat sebagai siswa baru, rasanya saya
sudah menjadi siswa di sekolah itu. Sebuah sekolah negeri di pinggiran kampung
yang ramai oleh kesenyapan. Bebas dari bising kendaraan, bebas dari bising
mesin pabrik . Bahkan
bebas dari keluh-kesah mulut-mulut manusianya. Langkah saya mantap di depan
bapak. Sampai-sampai beberapa kali saya
lepaskan tangan bapak yang hendak menuntun. Karena sebenarnya saya ingin
berlari sendirian.
Di depan sekolah sudah berkumpul para orang tua dan
anak-anaknya. Ketika itu saya langsung
melangkah ke pintu ruangan tempat penerimaan siswa baru. Bapak menguntit dari
belakang. Lalu bapak berjalan menuju meja salah seorang panitia. Saya terdiam
di dekat sebuah meja kayu jati yang bagian tengahnya bolong berbentuk bulatan.
Posisi saya hanya berjarak setengah meter dengan laki-laki tadi. Ketika itu
mata saya mengintip catatan di buku besar miliknya. Sepertinya nama-nama siswa
baru yang siap menjadi siswa tahun ini.
Setelah terjadi perbincangan antara bapak dengan laki-laki
itu, bapak menyuruh saya berdiri di hadapannya. Laki-laki tadi menyuruh saya
meletakkan tangan kanan saya di atas kepala, lalu menariknya ke arah kiri
hingga jemari tangan ini harus menyentuh telinga yang sebelah kiri. Saya menurut. Sialnya, jemari-jemari saya yang
kecil ini tak sampai-sampai. Padahal sudah ditarik sekuat tenaga.
Bapak terdiam. Lalu petugas itu menyuruh saya keluar
dulu.
“Saya diterima kan, Pak?” pertanyaan saya was-was karena
melihat reaksi bapak, “Pokoknya saya mau
sekolah, Pak.”
“Iya, iya,” hanya itu jawaban bapak. Memang itu kebiasaan
bapak kalau saya merengek. Hanya dengan kata ‘ iya’, sepertinya bapak
berpikir saya sudah merasa puas. Karena pada akhirnya saya
memang terdiam.
Sayang sekali, ternyata saya tidak diterima tahun ini.
Gara-gara tangan kanan saya tidak bisa menyentuh telinga kiri saya. Demikianlah
métode lama dalam hal mendaftarkan diri di sebuah sekolah dasar negeri pada
zaman itu.
Ketika itulah rasanya saya ingin berteriak. Ingin
menangis sekencang-kencangnya. Mengapa urusan tangan menjadi persoalan yang
merepotkan untuk daftar sekolah. Mungkin jika sudah pandai berpribahasa,
ketika itu saya akan berteriak, inilah maknanya: apa daya tangan tak sampai.
Siang itu saya
pulang dengan menekukkan kepala. Dari sekolah hingga
rumah. Sampai mata saya paham sekali batuan koral, tanah berpasir, bahkan kotoran
kucing yang hampir terinjak. Hingga tidak terasa tengkuk saya
terasa pegal. Sampai rumah tak
bisa lagi ditahan, air mata ini deras mengalir. Lalu saya tersuruk ke kamar.
Terdengar di luar kamar percakapan bapak dan ibu. Tapi saya tak
tertarik untuk mendengarnya. Saya
sangat tahu apa yang
mereka bicarakan. Hingga sore saya tak keluar kamar. Berulang kali ibu membujuk. Tapi saya tak peduli. Saya pun merasa
percuma, apa pun keinginan saya, sekeras apa pun tangisan saya, pasti tak akan
memberi jaminan saya bisa masuk sekolah. Semua terasa buntu. Omongan apa pun menjadi tak penting lagi. Karena
hanya satu ingin saya. Sekolah.
Kekecewaan itu membuat saya sakit. Seminggu badan saya
terasa panas. Sehingga harus disuntik. Lalu mantri suntik itu menyuruh saya
minum obat yang teramat pahitnya. Sepahit kenyataan, saya tak bisa masuk
sekolah. Tapi percuma, obat itu pun tak bisa menjadi jaminan kesehatan saya.
Saya terpuruk. Bangku sekolah yang menjadi obsesi saya waktu itu terus
membayang, dan itu sumber sakit sesungguhnya.
Ketika itu Bapak mulai marah pada mekanisme penerimaan
siswa baru.
“Jangan sakit ya, anak Bapak kan hebat dan kuat. Nanti
Bapak mau ketemu dengan Pak
kepala sekolahnya...”
Saya membeliak. Menatap
wajah bapak dengan sungguh-sungguh, tapi tanpa kata. Mulut saya terasa kering
dan kelu. Entah apa yang ada di kepala ini. Harapan itu tiba-tiba menyeruak.
Ada secercah sinar di hadapan, seiring dengan senyum dan anggukan Bapak.
Besoknya Bapak mendatangi rumah kepala
sekolah. Saya pahami sekarang, sepertinya aroma nepotisme kecil telah berjalan,
karena keputusannya, saya bisa sekolah, tapi sebagai anak bawang! Tak apalah.
Kalau bukan anak bawang, mungkin sampai saat ini saya akan menanggung dosa
sekeluarga akibat nepotisme kecil-kecilan.
Baiklah, saya menjadi anak bawang, tapi saya berjanji
akan menjadi anak bawang bombay!
Hal yang tak bisa saya lupa sampai sekarang, bapak akan
melakukan apa pun untuk saya, jika itu untuk hal-hal yang benar. Dengan
dukungan ibu, yang hidupnya sepenuh-penuhnya untuk bapak, tentu semua menjadi
berjalan sangat lancar.
Mengalirlah nyanyian-nyanyian dari mulut saya. Nyanyian
dari lagu-lagu yang sering saya putar di tape
recorder milik bapak. Lagu-lagu yang dari hari ke hari semakin mengental ke
telinga, hingga hafal
di luar kepala.
Banyak yang bapak dan ibu kenalkan, tentang nyanyian,
tentang dongengan-dongengan, hingga aroma pengajian. Hidup harus diwarnai banyak hal. Ungkapan itu baru saya pahami sekarang. Bapak yang
pernah sekolah PGA, bapak yang bukan sarjana, begitu kaya hidupnya dengan perumpamaan-perumpamaan.
Meskipun kariernya tidak terlalu sukses, menurut saya
Bapak teramat hebat dalam mendidik anaknya. Bersama ibu yang selalu sepakat dalam membimbing saya,
tak satu pun hal yang terasa berbuah cela, semua bermakna, dan terasa manis
hingga sekarang.
Bapak yang tak punya apa-apa,
bahkan terlahir dari kemiskinan orang tua semata, kini menjadi sosok penasihat
sebuah Yayasan Pendidikan gratis di kampung saya. Hal besar yang sama sekali
tidak bisa saya tiru kepahlawanan dan kebesaran jiwanya dalam mengelola sebuah
Yayasan Islam, sekolah gratis, bekerja tanpa pamrih apalagi mengeruk untung
besar.
Inilah arti kepahlawanan yang
saya dapatkan di zaman ini. Seorang lelaki yang berjiwa besar menjaga,
memelihara, dan bekerja keras membesarkan sebuah amanat suci, serta menjadi
bagian kecil dalam memelihara kecintaan pada bangsa ini.
😊terlahir dari jiwa besar: bapakku
sang pembina Yayasan Pendidikan Islam Nurulhidayah Miftahurroja
"H2C - Hello Hero Chalenge"
"Kisah Kecil Bersama Bapak"
Iis Wiati
Guru Bahasa Indonesia
Asal sekolah: SMAN 5 Kota Bogor