Kamis, 19 November 2020

 

CERITA KECIL BERSAMA BAPAK

Kisah: Iis Wiati

 

Membaca kata pahlawan tak pernah lepas dari satu kata yang identik dengan hasil, tentu saja bisa dinikmati siapa pun, meski tidak berwujud, tidak terlihat, yaitu jasa. Kata ini bahkan terkadang dilupakan oleh sebagian orang. Teronggok begitu saja dalam pemikiran-pemikiran sisa-sisa setelah hal-hal besar yang lebih penting untuk dijadikan bahan persoalan.

Pahlawan, hero, setiap mahluk hidup memilikinya. Bahkan berdirinya bangsa ini adalah karena jasa ribuan pahlawan yang telah gugur dalam riuhnya peperangan. Manusia lahir karena jasa seorang ibu, tentu saja tanpa menafikan kehadiran dan jasa seorang sosok bapak dalam hidup anaknya. Kemajuan bangsa ini juga berwujud karena kerja keras, bimbingan penuh keikhlasan, sebut saja jasa seorang pendidik. Bukan itu saja, kata pahlawan bisa melekat pada siapa pun. Para pekerja kasar, buruh, pegawai pemerintah hingga aparat keamanan yang tulus memberikan pelayanan kepada khalayak dalam membantu menyelesaikan urusan. Bisa juga, di zaman sekarang, seiring perkembangan situasi, kemajuan teknologi, dan maraknya pemberitaan, para selebrita beramai-ramai membantu kaum lemah dalam urusan memenuhi kebutuhan. Tanpa harus melihat lagi apa pretensi di balik semua itu. Pada hakikatnya mereka adalah pahlawan.

Di atas segalanya, pahlawan yang paling dekat dengan saya sampai akhir hayat adalah orang tua saya sendiri. Tak pernah terganti, tak bisa bersubstitusi. Ingatan saya tentang itu tak kan pernah lekang oleh waktu. Cinta saya pada mereka hidup dalam keabadian. Sekarang, nanti, bahkan hingga saya kembali bertemu mereka setelah kematian, dalam keabadian.

Cinta, itu bentuknya. Tidak kurang dari itu.

Saya terlahir dalam buaian senja yang merana karena datangnya malam, tapi mereka menyadarkan saya untuk tidak lelap dalam gelap. Dengan bimbingan mereka, saya selalu tersadar akan indahnya matahari pagi hingga senja yang menjadi cahaya ketika malam tiba.

Lalu mereka bercerita tentang kehebatan orang-orang di masa silam. Bagaimana Adam meninggalkan surga, bagaimana para raja besar bertahta, tentang Firaun dan Nabi Musa. Saya tercerahkan  dengan semuanya. Kisah-kisah itu membawa saya pada keinginan besar untuk mencari misteri di balik alam raya. Tentang manusia, sejarahnya, hingga cita-cita. Dan itu pada akhirnya saya temukan lewat buku-buku cerita, kisah-kisah besar manusia berpengaruh yang penuh warna dengan jasa-jasanya pula. Sejak itu saya menjadi ingin maju dan ingin menimba ilmu. Lebih dari itu, menjadi pemberi ilmu seperti juga ibu.

Dan hari ini. Semua berwujud. Saya menjadi seorang guru.

Ada cerita kecil ketika saya memulai semuanya. Saat itu usia saya baru menginjak 7 tahun. Sebuah massa, saatnya semua anak mulai menikmati bangku sekolah. Tapi tidak bagi saya. Sampai saya katakan, berkat merekalah saya bisa memulainya.

Inilah kisah saya.

Ketika itu, suatu pagi di tahun 80-an. Saya akan didaftarkan di sebuah sekolah dasar. Menjadi siswa sekolah adalah satu kebanggaan. Bahkan ketika usia lima tahun, saya sudah punya kerinduan tersendiri untuk masuk gerbang sekolah itu. Gerbang sekolah yang waktu itu punya getaran magic tersendiri. Anak-anak yang sudah masuk ke sana rasanya seperti orang yang sudah berhasil melewati sebuah ujian besar. Padahal sebenarnya gerbang sekolah itu tak lebih dari pagar bambu.

Saya melangkahkan kaki dengan riang. Sekolah dasar itu hampir dua kilometer jauhnya. Jalan yang sesekali berisi genangan lumpur, tanah becek diselingi batuan koral. Namun mereka mendadak bersahabat. Kaki saya pun tidak perlu tergelincir di atasnya. Apalagi terpeleset dan menyisakan kotoran di baju. Kala itu berwarna putih biru karena seragam belum sama setiap jenjang pendidikan seperti sekarang. Padahal saya belum resmi diterima sebagai siswa. Mungkin bahasa sekarang saya sudah ke-ge-eran.

Pohon deres yang menyubur di sisi kali seberang jalan mendadak bermakna. Begitu pula deretan tanaman bunga sepatu. Sesekali saya menyentuhnya, mengambil putiknya, lalu saya isap sarinya. Manis rasanya. Saya tersenyum sendiri sambil berlari-lari dan memegang putik itu. Bapak  berjalan mengikuti langkah saya di belakang.

Meskipun belum tercatat sebagai siswa baru, rasanya saya sudah menjadi siswa di sekolah itu. Sebuah sekolah negeri di pinggiran kampung yang ramai oleh kesenyapan. Bebas dari bising kendaraan, bebas dari bising mesin pabrik . Bahkan bebas dari keluh-kesah mulut-mulut manusianya. Langkah saya mantap di depan bapak.  Sampai-sampai beberapa kali saya lepaskan tangan bapak yang hendak menuntun. Karena sebenarnya saya ingin berlari sendirian.

Di depan sekolah sudah berkumpul para orang tua dan anak-anaknya.  Ketika itu saya langsung melangkah ke pintu ruangan tempat penerimaan siswa baru. Bapak menguntit dari belakang. Lalu bapak berjalan menuju meja salah seorang panitia. Saya terdiam di dekat sebuah meja kayu jati yang bagian tengahnya bolong berbentuk bulatan. Posisi saya hanya berjarak setengah meter dengan laki-laki tadi. Ketika itu mata saya mengintip catatan di buku besar miliknya. Sepertinya nama-nama siswa baru yang siap menjadi siswa tahun ini.

Setelah terjadi perbincangan antara bapak dengan laki-laki itu, bapak menyuruh saya berdiri di hadapannya. Laki-laki tadi menyuruh saya meletakkan tangan kanan saya di atas kepala, lalu menariknya ke arah kiri hingga jemari tangan ini harus menyentuh telinga yang sebelah kiri. Saya  menurut. Sialnya, jemari-jemari saya yang kecil ini tak sampai-sampai. Padahal sudah ditarik sekuat tenaga.

Bapak terdiam. Lalu petugas itu menyuruh saya keluar dulu.

“Saya diterima kan, Pak?” pertanyaan saya was-was karena melihat reaksi bapak,  “Pokoknya saya mau sekolah, Pak.”

“Iya, iya,” hanya itu jawaban bapak. Memang itu kebiasaan bapak kalau saya merengek. Hanya dengan kata ‘ iya’, sepertinya bapak berpikir saya sudah merasa puas. Karena pada akhirnya saya memang terdiam.

Sayang sekali, ternyata saya tidak diterima tahun ini. Gara-gara tangan kanan saya tidak bisa menyentuh telinga kiri saya. Demikianlah métode lama dalam hal mendaftarkan diri di sebuah sekolah dasar negeri pada zaman itu.

Ketika itulah rasanya saya ingin berteriak. Ingin menangis sekencang-kencangnya. Mengapa urusan tangan menjadi persoalan yang merepotkan untuk daftar sekolah. Mungkin jika  sudah pandai berpribahasa, ketika itu saya akan berteriak, inilah maknanya: apa daya tangan tak sampai.

Siang itu saya pulang dengan menekukkan kepala. Dari sekolah hingga rumah. Sampai  mata saya paham sekali batuan koral, tanah berpasir, bahkan kotoran kucing yang hampir terinjak. Hingga tidak terasa tengkuk saya terasa pegal. Sampai rumah tak bisa lagi ditahan, air mata ini deras mengalir. Lalu saya tersuruk ke kamar.

Terdengar di luar kamar percakapan bapak dan ibu. Tapi saya tak tertarik untuk mendengarnya. Saya sangat tahu apa yang mereka bicarakan. Hingga sore saya tak keluar kamar. Berulang kali ibu membujuk. Tapi saya tak peduli. Saya pun merasa percuma, apa pun keinginan saya, sekeras apa pun tangisan saya, pasti tak akan memberi jaminan saya bisa masuk sekolah. Semua terasa buntu. Omongan apa pun menjadi tak penting lagi. Karena hanya satu ingin saya. Sekolah.

Kekecewaan itu membuat saya sakit. Seminggu badan saya terasa panas. Sehingga harus disuntik. Lalu mantri suntik itu menyuruh saya minum obat yang teramat pahitnya. Sepahit kenyataan, saya tak bisa masuk sekolah. Tapi percuma, obat itu pun tak bisa menjadi jaminan kesehatan saya. Saya terpuruk. Bangku sekolah yang menjadi obsesi saya waktu itu terus membayang, dan itu sumber sakit sesungguhnya.

Ketika itu Bapak mulai marah pada mekanisme penerimaan siswa baru.

“Jangan sakit ya, anak Bapak kan hebat dan kuat. Nanti Bapak mau ketemu dengan Pak kepala sekolahnya...”

Saya membeliak. Menatap wajah bapak dengan sungguh-sungguh, tapi tanpa kata. Mulut saya terasa kering dan kelu. Entah apa yang ada di kepala ini. Harapan itu tiba-tiba menyeruak. Ada secercah sinar di hadapan, seiring dengan senyum dan anggukan Bapak.  

Besoknya Bapak mendatangi rumah kepala sekolah. Saya pahami sekarang, sepertinya aroma nepotisme kecil telah berjalan, karena keputusannya, saya bisa sekolah, tapi sebagai anak bawang! Tak apalah. Kalau bukan anak bawang, mungkin sampai saat ini saya akan menanggung dosa sekeluarga akibat nepotisme kecil-kecilan.

Baiklah, saya menjadi anak bawang, tapi saya berjanji akan menjadi anak bawang bombay!

Hal yang tak bisa saya lupa sampai sekarang, bapak akan melakukan apa pun untuk saya, jika itu untuk hal-hal yang benar. Dengan dukungan ibu, yang hidupnya sepenuh-penuhnya untuk bapak, tentu semua menjadi berjalan sangat lancar.

Mengalirlah nyanyian-nyanyian dari mulut saya. Nyanyian dari lagu-lagu yang sering saya putar di tape recorder milik bapak. Lagu-lagu yang dari hari ke hari semakin mengental ke telinga, hingga  hafal di luar kepala.

Banyak yang bapak dan ibu kenalkan, tentang nyanyian, tentang dongengan-dongengan, hingga aroma pengajian. Hidup harus diwarnai banyak hal. Ungkapan itu baru saya pahami sekarang. Bapak yang pernah sekolah PGA, bapak yang bukan sarjana, begitu kaya hidupnya dengan perumpamaan-perumpamaan. Meskipun kariernya tidak terlalu sukses, menurut saya Bapak teramat hebat dalam mendidik anaknya. Bersama ibu yang selalu sepakat dalam membimbing saya, tak satu pun hal yang terasa berbuah cela, semua bermakna, dan terasa manis hingga sekarang.

Bapak yang tak punya apa-apa, bahkan terlahir dari kemiskinan orang tua semata, kini menjadi sosok penasihat sebuah Yayasan Pendidikan gratis di kampung saya. Hal besar yang sama sekali tidak bisa saya tiru kepahlawanan dan kebesaran jiwanya dalam mengelola sebuah Yayasan Islam, sekolah gratis, bekerja tanpa pamrih apalagi mengeruk untung besar.

Inilah arti kepahlawanan yang saya dapatkan di zaman ini. Seorang lelaki yang berjiwa besar menjaga, memelihara, dan bekerja keras membesarkan sebuah amanat suci, serta menjadi bagian kecil dalam memelihara kecintaan pada bangsa ini.

😊terlahir dari jiwa besar: bapakku sang pembina Yayasan Pendidikan Islam Nurulhidayah Miftahurroja

"H2C - Hello Hero Chalenge"

"Kisah Kecil Bersama Bapak"

Iis Wiati

Guru Bahasa Indonesia

Asal sekolah: SMAN 5 Kota Bogor


Tidak ada komentar:

Posting Komentar