Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Agustus 2018

ZIRBAD


Cerpen Iis W. Kartadinata

“Selamat, Bu! Anda mendapat gelar guru favorit tahun ini!”
“Terima kasih, terima kasih.”
Puluhan pasang tangan meraihku. Puluhan pasang mata menyerbuku. Orang-orang merangkulku. Luar biasa. Dua bingkisan berukuran kecil dan sedang terhampar di hadapanku. Aku tahu isinya. Karena meskipun itu rahasia sekolah, tapi para guru sudah mendapat bocoran. Kalau bukan blackberry tipe terbaru, pasti kamera digital yang harganya paling mahal. Sedangkan bingkisan yang lain, sudah tentu laptop dengan spek paling mutakhir. 
“Hadiah ini akan sangat bermanfaat bagi pekerjaan Bu Lis, juga hobi Bu Lis.” Bisik bu Non, kepala sekolah ini, “Semoga tetap menjadi guru profesional!”
Tentu saja. Sudah pasti aku akan mencetak diriku menjadi guru profesional. Kutatap bingkisan-bingkisan itu. Senyumku mengembang sempurna. Inilah mungkin wajah tercantikku yang bisa kupersembahkan pada waktu. Karena saat seperti ini menjadi salah satu bagian yang kutunggu dalam karirku sebagai guru. Tidak hanya hadiahnya. Tapi juga kepercayaan anak-anak dalam polling pemilihan guru terbaik yang digelar setiap tahun.
“Selamat pagi, Bu Lis…” seorang anak laki-laki muncul mengagetkanku. Wajahnya cerah. Ahmad Alaydrus, salah satu muridku. Wangi parfum meruap. Bergamot menyegarkan hidung dan melengkapi wangi ruanganku. Pakaiannya dimasukkan ke celana yang tersetrika rapi. Gesper warna hitam.
“Oya, selamat pagi, Sayang. Ada apa?”
“Bu, mumpung belum bel, boleh saya konsultasi dengan Ibu soal persiapan presentasi kelompok kami nanti siang?”
“Boleh, tentang apa ya?”
“Saya kuatir teman-teman bertanya tentang proses kreatif yang dilakukan Umar Kayam. Boleh kami buka laptop? Kami punya data tentang kreativitas beliau melalui rekaman seminar dulu sewaktu beliau masih hidup.”
“Wah, bagus itu. Dari mana datanya?”
“Dari kakak saya yang dulu kuliah di UGM.”
“Lho, itu kan bisa jadi bagian dalam presentasi nanti?”
“Iya, sih Bu. Cuma, data yang ini adalah data lain yang tidak kami laporkan pada makalah kami. Juga data ini kami buat tidak dalam format power point. Tapi flash.”
“O itu. Sepertinya tidak masalah ya. Yang penting kalian bisa menggali sedalam-dalamnya informasi tentang penulis novel di Indonesia. Tapi awas, tidak kopi peist… (copy-paste). Kalian gali informasi dari buku-buku atau internet, tapi tentu saja itu hanya pelengkap data saja. Ok?”
“Sip, Bu, terima kasih ya.”
“Sama-sama.”
Ahmad Alaydrus berlalu ke luar. Aku mengangkat tubuh. Menarik nafas panjang. Sisa bergamotnya masih terasa. Segar di kepala. Ahmad hanya salah satu muridku dari ratusan murid dengan kondisi yang tentu sama. Selain ganteng, dia taat, rajin, cerdas, bersih, dan menyenangkan. Gambaran tipe ideal seorang anak SMA. Aku menyebut mereka generasi harapan bangsa. Lihat saja karya-karya di ruang bahasa ini. Seluruh karya menggambarkan keluasan berpikir seorang pewaris negeri. Tumpukan makalah yang isinya berbobot. Karya-karya berupa kumpulan cerpen dan puisi yang pantas diterbitkan. Bahkan novel siswa yang tidak kalah bagus dari karya seorang novelis muda terkenal. Deretan portofolio dengan karya-karya bermutu. Arsip majalah sekolah dengan sajian cover menarik dan rubrikasi yang lengkap. Termasuk arsip majalah dinding dengan isi dan penataan yang luar biasa. Siswa-siswaku memang mengagumkan! 
Lalu aku berkeliling meneliti seluruh ruangan yang berukuran delapan kali tujuh meter ini. Pak Haekal belum muncul setelah tadi pagi dipanggil oleh bu Non untuk persiapan olimpiade sastra. Kami adalah dua guru sastra dari empat guru bahasa dan sastra di sekolah ini. Hanya, untuk ruangan bahasa yang ini cukup aku dan pak Haekal yang memegangnya. Ruangan moving yang lain dipegang oleh dua guru bahasa berbeda.
Ruangan ini tertata rapi. Dari arah pintu mataku langsung bersitatap dengan lemari kaca yang berisi dokumen-dokumen sastra. Seperti penghargaan untuk siswa, dan sampel buku-buku sastra lama. Di sebelahnya berdiri loker-loker berisi karya-karya siswa. Seperti makalah-makalah, arsip majalah sekolah, naskah-naskah puisi dan cerpen yang dijilid rapi, juga naskah novel. Sementara pada bagian dinding di atasnya berderet foto-foto sastrawan, termasuk cerpenis, novelis, penulis drama, dan penyair. Setelah mataku tertuju pada deretan bangku dan meja yang berjumlah dua puluh lima pasang, barulah aku tersadar. Aku belum mengecek kembali data internet yang ku-down load semalam. Tentu saja sudah kuubah ke dalam format power point. Tinggal menambah sedikit data dari buku terbitan MLC, salah satu lini Mizan. Lalu kubuka laptop lamaku, yang sudah agak loyo. (Oya, aku kini mempunyai dua laptop disamping laptop hadiah itu. Hanya yang baru aku belum begitu faham karena semua programnya belum kupelajari).
Sebelum ku-klik eksplore, aku cek Ben-Q yang menggantung permanen di langit-langit. Ternyata sudah menyala. Dengan demikian aku tinggal memijit remote untuk menjalankan program. Lalu kuhubungkan kabel LCD tersebut untuk terhubung ke laptopku. Langsung layar yang menempel di dinding, yang bersisian dengan papan tulis berwarna putih itu menyala. Aku menarik nafas panjang. Tanpa kuklik lagi grafik option, out put, notebook, seperti sebelumnya agar program yang kusiapkan muncul di layar. Semua sudah diatur otomatis. Betapa idealnya mengajar dalam situasi seperti ini. Sekarang saatnya mengambil buku Andaikan Buku itu Sepotong Pizza, karangan Hernowo yang menjadi salah satu koleksi perpustakaan ruang kelas sastra ini. Dia ikut tertata rapi dengan koleksi buku yang lain di lemari pada bagian belakang meja dan kursi. Tempat yang nyaman, karena di sini tergelar karpet warna coklat dengan tiga bantal besar bermotif abstrak. Di bagian dindingnya yang memanjang hingga dinding yang berseberangan dengan lemari kaca dan loker-loker, pajangan display dengan warna-warna mencolok cukup menyemarakkan suasana. Berisi karya-karya siswa pula.  Aku mengambilnya. Lalu mulai bekerja. Tak lama kemudian muncul pak Haekal.
“Pagi Bu Guru,” sapanya, wajahnya tampak sumringah. Lalu menghampiri salah satu meja yang berseberangan di sebelah kanan. Meja kerjaku di sebelah kiri. 
“Wah, wajah Pak Haekal cerah pagi ini. Ada kabar baik rupanya?”
“Alhamdulillah, Bu. Kabar baik. Oya Bu, saya baru dengar kabar, tunjangan guru akan dinaikkan lagi!”
“Apa? Sepagi ini sudah ada kabar bagus begitu?”
“Ya, sudah semestinya Bu. Profesionalitas kita dituntut. Ya, sudah sepantasnyalah mendapat penghargaan serupa begitu dari pemerintah. Lagipula, semua yang kita lakukan kan, perlu dana… lihat Bu, hasil jepretan saya ketika field-trip ke arsip nasional dan pusat dokumentasi H.B. Jassin kemarin. Bagus sekali. Pasti masih kalah dengan kamera Ibu yang baru.”
“Wah, pak Haekal ini. Saya kan belum beli kamera lagi,” tanganku masih mengutak-atik tuts-tuts keyboard di laptop.
“Lho, lalu hadiah kemarin apa selain laptop, Bu?”
“Blackberry, Pak.”
“Gila! Beruntung sekali Anda, Nona! Wah-wah wah, tahun depan saya harus bersekutu dengan siswa agar jadi guru favorit versi mereka juga.”
“Ngga perlu bersekutu, Pak.”
“Terus apa? Dengan serangan fajar?”
Aku tertawa, “Mana mau mereka uang kita, Pak. Pemerintah dan sekolah sudah cukup kaya untuk membiayai mereka.”
Pak Haekal pun tertawa, “Padahal saya sudah bertahajud tiap malam…”
Aku tertawa. Tapi tawa kami mendadak terhenti ketika pintu diketuk dan langsung terbuka. Lalu pak Sarip, seorang office boy, melongokkan kepalanya, “Assalamualaikum, Bu, Pak.  AC-nya aman?”
Aku mengangguk. Sementara pak Haekal menjentikkan ibu jarinya, “Sip.”
Lalu pak Sarip berlalu sambil menyisakan senyuman. Tak lama kemudian ketukan kembali muncul. Setelah pintu terbuka berhamburanlah siswa-siswa masuk. Aku baru sadar. Ini moving yang pertama. Sebelas IPA tiga. Dengan materi presentasi makalah mereka!
“Assalamualaikum, Selamat pagi Pak, Bu!”
“Pagi anak-anakku, apa kabar kalian?”
Senyum para siswa mengembang. Tak ada gambaran kesulitan di wajah mereka. Termasuk perihal uang sekolah, uang jajan. Apalagi sekolah sudah gratis. Apa lagi?
Kami memulai belajar dengan doa.
“Anak-anak, pagi ini, pak Haekal akan membantu ibu menjadi juri presentasi kalian! Kalian setuju?” suaraku renyah diakhiri senyuman.
“Baik, Bu……” mereka serempak. Bahkan diantaranya ada yang mengangkat jempol mereka.

Jam empat aku baru bangkit untuk waktu ashar. Kulirik di meja, santapan snack time yang terhidang pukul sembilan pagi tadi masih bersisa sepotong roti. Termasuk jintan hitam yang selalu disiapkan sekolah secara gratis. Lalu kulahap habis, termasuk jintannya. Setelah itu aku bangkit. Kuklik remote AC. Ruangan itu kutinggalkan.
Kuhirup udara luar dengan segar. Lingkungan sekolah ini begitu asri. Semburat warna tembaga di sebelah barat  berpuisi di balik deretan pohon palem. Diseringai alunan musik klasik yang meresap hingga hamparan rumput hijau. Musik itu keluar dari speaker yang terpasang di tiap penjuru gedung sekolah. Udara serupa remaja yang sedang jatuh cinta. Hangat dan segar.
Sekolah ini  terletak di pinggir utara kota Bandung. Sesuai dengan kontur tanah yang dimiliki khas dinding-dinding bumi Bandung, sekolah ini juga memperlihatkan struktur tanah yang berundak-undak. Tempat ini sangat sarat bagi anak didik yang mendamba kenyamanan dalam belajar.  Aku bangga bisa mengajar di tempat ini. Sekolah ini menampung siswa-siswinya dalam kelengkapan sarana pembelajaran.  Pertama, gedung administrasi dua lantai bersatu dengan aula yang terletak pada bagian muka. Kemudian di belakangnya berdiri tiga lantai dengan ruang-ruang kelas moving yang lengkap. Berdampingan dengan lapangan basket dan futsal. Setelahnya berdiri gedung yang berisi perpustakaan dengan koleksi buku super lengkap. Termasuk ruang audio visual dan beberapa ruang laboratorium. Mulai laboratorium IPA, bahasa, dan komputer. Sementara pada sisi sebelah kanan, berhimpitan dengan lapangan basket terbentang lapangan rumput yang dipagari deretan pohon palem raja yang berselangan dengan pohon kersen yang merindang. Tumbuh juga  pada tiga sudut pohon lengkeng yang selalu ditunggu buahnya. Pada sisi sebelah kiri berdiri megah mesjid berarsitektur Kudus. Di sampingnya gedung kreativitas siswa, tempat di mana siswa berkreasi, mulai teater, musik, redaktur majalah, OSIS, dll. Tempat ini bersebrangan dengan kantin yang sangat luas dan terbuka, serta toko koperasi. Di antara gedung asrama dengan ujung kantin ada jalan yang menghubungkan satu gedung yang lain. Tiada lain gedung yang di dalamnya terdapat kolam renang tertutup.  Dilengkapi tempat olah raga dan fitness. Satu hal lagi yang istimewa, jaringan hotspot telah menyebar ke seluruh area sekolah, di mana pun sudutnya. Menyenangkan bukan?
Tidak hanya itu, kerja keras guru di sekolah ini diapresiasi dengan berbagai macam tunjangan. Tentu saja gaji dan tunjangan pemerintah yang sangat menjanjikan.
Di sini aku bisa menuangkan segenap kemampuan, ilmu, dan segala kreativitasku dalam membimbing anak-anak. Berbekal pengetahuan lewat buku-buku pengembangan diri sebagai guru. Termasuk berbagai macam pelatihan belajar aktif dan lain-lainnya mulai tingkat lokal, nasional, bahkan internasional. Seperti buku Revolusi Cara Belajar  karangan Dryden dan Vos, Quantum Learning dan Quantum Teaching. Dua buah buku penting pembelajaran yang ditulis oleh seorang perempuan kelahiran Seatle, Amerika, Bobbi DePorter. Juga mantan guru yang pengacara, Mike Hernacki, serta Sarah Singer Nourie. Meskipun itu buku-buku lama, tapi tetap berlaku sebagai kunci untuk membuka pintu dalam kegiatan belajar mengajar.  Ada juga buku-buku yang lain, seperti The Accelerated Learning, Multipele Intelegences alias kecerdasan majemuk, buku Sekolah Para Juara, dan lain-lain. Termasuk pula buku-buku penting yang khusus berkenaan dengan materi Bahasa Indonesia. Mulai buku pengarang lokal hingga buku luar. Buku-buku itu kerap menyuruh pembacanya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Buku-buku yang meminta mempraktikkan segala jenis pembelajaran sastra, baik membaca, menyimak, berbicara dan menulis. Hingga semua tidak berada dalam tataran teori. Untunglah fasilitas dan dana di sekolah ini sangat mendukung semua guru untuk melakukan itu. Bahkan memanfaatkan belajar dengan program E-learning. Buku Kecerdasan Emosional atau Emotional Intelligence milik Daniel Goleman, seorang lulusan Harvard dengan gelar Ph.D.-nya juga memberiku semangat. Karena dengan memompa kecerdasan emosi, apa pun cara belajar bisa diikuti. 

Aku memasuki ruang guru yang mulai sepi. Segera aroma lemon dan hawa dingin air conditioner menyergapku. Di sana hanya mengambil jaket sebagai pelengkap perangkatku pulang dengan menggunakan sepeda motor.
“Bu, sebentar.”
Aku menoleh. Sosok pak Dahlan, kepala tata usaha mengagetkanku, “Bu, sudah mengisi pengajuan untuk alat tulis kantor?”
Aku baru ingat, “Oya, Pak. Catatannya saya simpan di laci meja. Perlu sekarang?”
“Besok pagi tidak apa-apa. Pak Sanen baru belanja besok siang, saya baru mendatanya besok pagi.”
“Baiklah kalau begitu. Saya pamit, Pak. Assalamualaikum.”
Pak Dahlan mengangguk. “Waalaikum salam.”
Aku berlalu menuju tempat parkir. Tinggal beberapa buah sepeda motor pegawai tata usaha yang terparkir. Sisanya dua buah Kijang mirip pak Dahlan dan bu Non. Berarti hanya aku, guru yang masih berada di sekolah ini. Lalu aku membenahi penampilanku menjadi seperti pembalap. Kunaiki motor dengan pasti. Kuputar kunci kontak. Bunyi mesinnya yang lembut mengisyaratkan aku untuk segera meninggalkan tempat itu. Lalu kuputar gas. Dan byerrrrrrr, kusibak jalanan aspal diantar mentari sore yang merah tembaga.
.................
“Bu Lis!”
“Aku tersentak.”
“Ada apa?”
“Bangun, Bu. Bangun. Istigfar.”
Lalu seseorang mendekatkan gelas ke mulutku. Kuhirup aroma teh manis hangat. Lalu mereguknya sedikit. Badanku mulai normal. Penglihatanku yang awalnya gelap perlahan memudar. Bayang-bayang manusia mulai kelihatan.
“Syukurlah sekarang Bu Lis sudah sadar.” Seseorang juga memijiti kakiku.
“Memangnya saya kenapa, Bu?” suaraku lemas.
“Bu Lis baru saja pingsan.”
Aku kebingungan. Lalu gambaran pengalamanku yang tadi kembali terhampar. Aku tersentak. Itu semua bukan kenyataan? Jadi? Ketika itu pula air mataku meleleh.
“Tenang Bu Lis, tenang. Istigfar.”
Sekarang aku menangis. Orang-orang di sekelilingku mulai kebingungan. Yang memijiti kakiku makin kuat saja hingga ke lengan-lengan.
Aku bangkit. Tapi mendadak gerakku terhenti. Seluruh persendianku ngilu, “Kenapa saya?”
“Tadi Ibu jatuh, terpeleset di kamar mandi. Ngelamun ya?”
Aku terhenyak. Kutatap pak Sarip yang tengah menguruti pergelangan kakiku. Pakaiannya kemeja lusuh kota-kotak kuning, bukan biru seperti sebelum ini. Aroma minyak tawon meruap. Bukan bergamot milik muridku atau wangi lemon yang menyegarkan.
“Tenang ya, tadi bu Lis  jatuh. Untung saya lewat ke depan WC. Maklum, keramik tua, ujar pak Sarip.
Aku meringis. Kutatap sekeliling, atap langit-langit ruang guru yang warnanya sudah putih gading. Tidak terasa lagi aroma lemon dan dingin AC. Semua kembali ke alamku yang yang asli. Beberapa rekan guru memperhatikanku resah. Ada juga siswa yang mengintip dari jauh. Seragam putihnya sudah berwarna gading. Benar-benar tidak ada aroma bergamot seperti milik Ahmad Alaydrus.
“Hampir satu jam bu Lis pingsan.”
“Jadi…?”
“Jadinya Cuma Bu Lis yang belum tanda tangan.”
“Tanda tangan apa?”
“Yang jelas bukan tanda tangan gaji…”
Entah mengapa semua tertawa.
“Tanda tangan apa, Pak Sarip?”
“Saya tidak tahu, Bu Lis, dia malah terkekeh.
“Kesiapan demonstrasi besok.”
Aku terperangah. Pikiranku kembali tertata. Ingin rasanya menjerit, lalu kembali ke alamku yang tadi. Meskipun aku harus pingsan lagi. Atau bahkan tidak bangun lagi sama sekali. Karena alam yang kujalani tadi adalah angan hidupku sebagai seorang guru.
Wajah bu Irma, sahabatku malah bengong, “Kamu tidak lupa kan?”
Aku menggeleng. Kuperoleh kertas yang siap dicetak ablón. Tulisannya menamparku keras sekali…
……..PERHATIKAN NASIB KAMI, PARA GURU HONOR……..

Kamis, 30 Agustus 2018

Pension Welgelegen


Cerpen Iis W. Kartadinata

            Sejak mama membunuh papi dengan racun, sebuah panggilan yang paling indah itu lenyap hingga dasar bumi. Jadilah aku camar yang tak kenal induk. Menjadi beku di musim dingin karena menyendiri setelah dierami. Mama tidak mengajariku terbang rendah di atas laut untuk menyambar ikan-ikan di permukaan. Mama tidak mengajariku memasukkan kepala ke dalam air untuk mematuk ikan yang sedang berenang. Mama pun tidak melindungiku dari mahluk pemangsa. Tidak juga mama mengajariku tentang arti cinta. Membuatku tercabut dari musim semi saatnya yang lain riuh memadu kasih dengan pasangannya. 
Aku lahir tanggal 1 Mei 1925. Tepat satu tanggal dan bulan kelahiran dengan Ratu Juliana. Sang pewaris tahta ratu Orange, negeri kelahiran papi. Makanya, papi selalu merayakan hari kelahiranku sekaligus memberikan penghormatan pada sang ratu. Lalu mempersembahkan sebuah ciuman sambil berbisik ke telinga. Aku adalah Ratu Eveline milik papi dengan sempurna kecemerlangan. Bahkan wajahku mengalahkan segala ratu di muka bumi ini. Maka seluruh bunga di Hindia Belanda ini akan bermekaran jika senyum kupersembahkan. Ah, papi memang pandai membuaiku. Berbeda dengan mama. Kekagumannya hanya terlihat dari matanya. Namun aku tahu, mama sangat bangga dengan aku.
Semua orang takluk dengan kecantikanku. Tentu saja. Itu karena rambut mayangku yang kecoklatan. Kulitku yang gading memugiring halus sesempurna pualam. Wajahku adalah paduan gadis tercantik Sunda dengan ukiran wajah papi yang tuan Belanda. Mataku gabungan kelopak mawar dengan sorot tajam yang dimiliki papi. Hidungku ukiran dewi yang dipahat seorang mpu sebagai mahakarya. Itulah lukisan papi tentang aku. Bahkan katanya, kalau aku tertawa, gigiku gemerlapan melebihi barisan mutiara yang paling mahal. Aku benar-benar cangkokkan melati susun dengan bunga tulip yang mekar sepanjang musim. 
“Sayang, andaikan Van Haren masih hidup. Sudah pasti keindahan wajahmu akan abadi dalam puisi.”
“Papi…” aku menggelayut manja. Tapi ketika itu muncul mama. Dia membawakan papi sebilah tongkat dan topi. Lalu menyerahkannya dengan sopan. Mirip seorang abdi. Setelah itu papi pergi setelah kecupan mendarat di pipiku. Sementara mama hanya berdiri sambil menundukkan kepalanya.
Serpolletku sudah siap?”
“Ya Tuan.”
Beberapa orang bermunculan. Semua laki-laki. Kemudian papi pergi.
Sekarang aku menyendiri. Mama berlalu ke dalam untuk mengambil tisikan. Kemudian dia duduk kembali di dekatku. Tapi dia duduk di kursi yang lebih rendah. Sebuah bantal besar yang berhias tisikan mama. Angin menepi mengirimkan wangi pucuk-pucuk teh. Namun meskipun udara sangat dingin, sajian segelas susu hangat cukup menyegarkan tenggorakanku. Selalu, mama yang menyediakan untukku. Dengan sedikit gula, mirip susu kesukaan papi.
“Mama, rumah Mama jauh dari sini?”
“O, jauh sekali, Sayang.”
“Pantas Mama jarang ke rumah orang tua Mama.”
Ketika itu mamaku menunduk. Lalu memalingkan wajahnya keluar.
“Apa Mama merindukan mereka?”
“Tentu saja, Sayang.”
“Kalau aku sekolah di Eropa, pasti aku juga akan merindukan Mama. Kenapa Mama tidak mengunjungi mereka?”
“Mama belum meminta izin pada tuan, Sayang.”
“Mau Eve yang minta izinkan?”
“Tidak usah, Sayang.”
Mama masih memalingkan muka ke luar. Membiarkan tisikannya menjuntai ke bantal.
“Kan kasihan Mama tidak bisa bertemu mereka.”
Mama menatap kosong, “Eve Sayang, sejak mama pergi dari rumah orang tua mama dan tinggal di rumah ini, hidup mama sendiri. Mama harus menahan diri dan membunuh kerinduan mama pada mereka. Mama harus menjadi diri mama sendiri. Mama tidak lagi bisa menjadi bagian dari orang tua mama. Bagi mama, hidup manusia diciptakan dalam wujud secara sendiri-sendiri. Oleh karena itu, seindah apa pun hubungan antarmanusia, tetaplah dia sendiri dalam dirinya. Dia lahir sendiri, dan akan terkubur sendiri pula.”
Aku memberenggut. Usiaku baru tujuh tahun. Mekipun ucapan mama membingungkan. Tapi sedikit-sedikit isinya aku faham. Lalu kudekati mama perlahan. Matanya basah. Bergelora amarah kubaca. Entah mengapa. Tapi mama mengubahnya dengan senyuman. Kami berpelukan. Tubuh itu terasa hangat. Dua belahan dadanya begitu matang kudekap. Wangi melati yang terkepit di balik kutang mama mencongak kuncupnya. Kurasakan pula hembusan buah cengkeh yang kerap menjadi makanan harian mama.
“Kamu sayang sama Mama?” bisiknya perlahan.
Aku mengangguk, “Tapi aku harus meninggalkan Mama untuk waktu yang sangat lama.”
Mama mempererat pelukannya, “Tidak apa-apa, Sayang. Perasaan sayangmu sama mama itu sudah cukup. Nanti kalau Eve sudah di Eropa, Eve harus selalu rindukan mama, ya?”
“Iya, Eve akan kirim surat untuk mama. Makanya mama harus belajar membaca. Mintalah diajari papi.”
“Iya, mama janji, nanti mama akan belajar.”
“Dengan papi Ma, paksa aja meskipun papi sibuk…””
Mama mengangguk. Lalu suasana sepi. Semilir angin menerpa gorden yang jendelanya terbuka. Membuatnya seperti penari. Mama masih membelaiku. Terdengar sebuah senandung dengan bahasa yang tidak kumengerti. Itu bahasa negeri mama yang lain yang belum pernah kupelajari. Air mata mama kembali mengalir. Aku hanya terdiam. Aku tidak mau mengganggu keasyikan mama bersenandung. Hingga mama mengusap pipi dan selesai dengan senandungnya.
“Ma, Apa mama sayang sama papi?”
“Sayang yang terbesar yang pernah mama buat seumur hidup mama adalah sayang sama papi.”
“Kenapa Ma?”
“Karena Eve, Sayang …”
Aku kembali memeluknya, “Aku sayang sama mama.”
Sampai sebuah detik. Waktu yang tidak kufahami maknanya. Mama tiba pada titik di kala dirinya berada dalam sebuah keterasingan. Aku sendiri tidak mengerti. Detik yang disebut telah menyeret mama pada dinding jeruji besi. Membuatnya pergi dari rumahku, juga pergi meninggalkan aku. Aku tidak faham, kepergian mama juga detik terpahit berikutnya setelah papi meninggalkan kami. Bedanya, papi pergi untuk selamanya. Ya, papi mati. Di saat cinta papi begitu besar padaku. Di saat aku baru faham tentang cinta itu. Di saat papi teramat sehat. Dan sore itu, setelah untuk ke sekian kalinya papi membawa seorang perempuan Belanda, namanya Rosana.  Seorang perempuan berambut pirang, dengan tinggi jauh di atas mama, juga cantik. Tapi kecantikannya tidak melebihi kecantikan mama.
“Eveline, kamu melamun.”
“Aku kangen dengan mama. Aku ingin menjenguk mama.”
“Tidak ada gunanya, mungkin dia sudah melupakanmu. Bukankah aku yang bertanggung jawab atas dirimu, Eve?” Rosana membelaiku, “Mulai sekarang panggil dia Nyai, dia tidak pantas menjadi mama seorang gadis Belanda cantik sepertimu.”
Rosana selalu bilang begitu.
“Tapi paling tidak, dia pernah memiliki aku. Ada darahku di darahnya. Sejak umur tujuh tahun aku berpisah dengan mama.”
Sekarang tak ada jawaban. Rosana membelaiku. Perempuan ini mampu melumpuhkan rasa rinduku pada mama. Melenyapkan sekian tanya, mengapa mama pergi meninggalkan semuanya. Rumah di atas bukit teh yang setiap pagi menikmati sinar jingga sebelah timur. Di sela-sela pohon nangka yang selalu mengirimkan riuh suara burung. Angin setiap detik yang selalu setia. Membawa wangi getah pinus yang berjejer rapat di sisi-sisi jalan. Tempat ini adalah satu titik di antara ribuan titik surga terindah di tanah priangan. Tak ada yang bisa menggantikan. Namun ketidakhadiran mama dan papi membuat semua berubah.
Rosana bisa menjadi obat bagiku di saat susah seperti itu. Dialah perempuan kedua dalam hidupku setelah mama. Bahkan aku merasakan dia bisa menjelma menjadi mama. Dia mengajariku tentang segala hal. Dengan Rosana aku bisa mengenal apa pun tentang hidup. Bahkan tentang cinta seekor camar yang tak pernah tergantikan. Katanya itu gambaran cinta Rosana pada papi yang meninggalkannya di negeri Orange sendirian. Hingga memaksa perempuan itu mengejar cinta sejatinya. Meskipun harus berhari-hari terapung di lautan sampai bosan melihat pelabuhan. Rasa cintanya pada papi membuatku kagum padanya. Menjadikan hidupku menyatu dengan hidupnya.  Dan pada pami yang kuanggap telah membagi cinta, aku tak pernah menyalahkan.
Memang benar, cinta mama ternyata bisa tergantikan. Rosana cepat mengambil alih segala. Termasuk kekuasaan di rumah papi. Lama-kelamaan ia pun sangat menikmati kehidupan di tengah-tengah lautan bumi putera yang indah ini. Bahkan tidak terlalu lama Rosana mulai terbiasa dengan sarung dan kebaya. Perasaan ajaibnya dengan pulau Jawa membuatnya melarangku untuk sekolah di Eropa. Seperti cita-citaku sejak papi ada.
Sampai kudengar darinya sebuah negeri bernama Jepang. Sebuah negeri yang girang kemajuan alang-kepalang. Pemilik orang-orang pendek itu mulai diperhitungkan. Tak kusangka, mahluk yang mulai sering dibicarakan itu datang ke hadapanku tanpa diundang!
Pada suatu siang, orang-orang pendek kuning itu datang ke rumahku. Dengan pakaian serdadu yang serba aneh, tidak rapi, disertai senjata panjang menjuntai hingga hampir menyentuh lantai. Mereka mengancamku. Entah apa yang dikatakannya. Yang jelas ketika itu mereka mengikatku. Membawaku entah ke mana. Memisahkanku dengan Rosana. Hingga detik ini aku tidak lagi melihatnya. Aku kehilangan mama dan papi di usia 7 tahun. Sekarang aku kehilangan Rosana. Padahal saat itu baru saja aku akan memperingati ulang tahunku ke-17.
Sebuah nama kudengar, Immamura. Dia adalah biang menyerahnya Jenderal Ter poorten. Itu berarti matinya kekuatan Belanda. Dan sekarang, aku kehilangan segalanya. Juga harga diriku. Orang-orang itu menyeretku tanpa perasaan ke tempat ini. Menjadikanku mainan, boneka yang tidak berdaya. Dinding-dinding Pension Welgelegen adalah saksi bahwa hidupku akan berlalu sia-sia. Entah sampai kapan.
Sejak aku ditelanjangi oleh nasib, selalu detik menggelandangku pada penderitaan. Aku selalu ingin bunuh diri, tapi aku tidak bisa melakukannya.  Setiap para serdadu itu tidak ada, aku selalu menikmati kesendirian.  Menyapu sepi kamar yang selalu dikunci dari luar. Menikmati kebisuanku sendiri. Menikmati dendam yang tak pernah berbentuk. Ya, aku menjadi seonggok boneka yang terlempar di sudut kamar karena tidak sedang dimainkan. Aku menjadi sang Eveline, ratu Pension yang dijadikan benda taruhan. Keelokanku bukan lagi kebanggaan papi di masa lalu. Malah menjadi biang neraka yang dibangun oleh ketidaktahudirian mahluk bernama takdir. Tak ada yang peduli ketika aku didera oleh kesakitan yang dalam. Manakala aku diberangus di setiap pagi, siang hingga malam oleh laki-laki secara bergantian.
Sesungguhnya apa salahku hingga nasib menderaku seperti ini. Apa  ini hukuman bagi orang-orang terdekatku? Dosa mama yang menurut cerita Rosana, di saat usiaku matang, telah membunuh papi dengan racun. Dosa papi karena meninggalkan Rosana hingga penderitaan perempuan itu tak berujung. Atau dosa Rosana yang telah merebut kebahagiaan dan segala kekuasaan keluargaku? Aku tidak tahu. Tak ada yang bisa kutanya. Karena tak ada yang peduli dengan diriku. Bahkan lantai kamar ini tidak bersahabat sejak kedatanganku.
**
Nama saya Nyai Asih Rumnasih. Sejak tinggal bersama Tuan Besar saya suka dipanggil Nyai Harum. Itu artinya wangi. Mungkin karena melati susun yang selalu saya selipkan di kutang saya sejak tinggal dengan tuan besar. Umur saya empat belas tahun ketika abah dan eneh mengantarkan saya ke rumah juragan lurah Endoh. Lalu  jugaran Lurah Endoh mengantarkan saya dengan delman ke rumah tuan besar di sperata Sinumbra. Tempat yang cukup jauh dari kampung saya.
Saya tahu, saya mau dijadikan nyai-nyai oleh tuan besar. Meskipun sebutan itu sangat memalukan. Tapi saya rela melakukannya. Untuk apa memikirkan rasa malu. Hidup saya dan keselamatan abah dan eneh menjadi di atas segalanya. Saya tahu, jika saya tidak menurut, pasti abah dan eneh akan diancam bahkan disiksa oleh juragan lurah. Saya tidak tega membayangkannya. Makanya, supaya hidup mereka tentram, biarlah saya melakukannya. Dengan demikian, abah tetap bisa menggarap sawah milik juragan mantri. Eneh masih bisa menjagai adik-adik yang berjumlah tujuh orang.
Menurut orang sekampung, saya adalah mojang yang akan menjadi bunga Cikiray. Meskipun jarang dicuci, rambut saya menyubur panjang. Tetap tidak kurang keindahannya karena wajah dan kulit saya. Itu juga kata orang-orang. Saya tidak tahu. Mengapa Gusti Allah menciptakan saya seperti ini. Kata juragan lurah, abah ditunggangi malaikat paling cantik ketika bercinta dengan eneh. Saya baru mengerti sekarang.
Setelah saya sampai di rumah tuan besar, yang pertama dilakukan adalah mandi. Saya disuruh membersihkan seluruh daki di tubuh saya. Memang benar, setelah saya gosok dengan sabun wangi, kulit saya menjadi halus dan terang. Ini mandi yang pertama kalinya menggunakan sabun. Saya juga keramas dengan menggunakan sabun cair yang tidak kalah wanginya. Setelah itu saya disuruh berganti kebaya baru dan diminta menyisir rambut yang acak-acakan. Ketika itu, tuan memberikan saya lap besar. Tapi ketika saya hendak mengambilnya, tuan besar malah menatap saya. Handuk itu tidak jadi diberikan. Dia malah mendekati saya. Membopong tubuh saya. Rambut saya yang panjang masih menyisakan tetes-tetes air di atas seprai warna putih. Tuan besar memeluk saya sambil tertawa-tawa. Dan saya tidak bisa menolaknya.
Hidup memang aneh. Gusti Allah tiba-tiba mengirim saya ke tempat ini. Meninggalkan kebiasaan sehari-hari di kampung yang dihiasi kemiskinan. Membuat saya menjadi perhiasan paling indah di rumah tuan besar. Rumah yang dikelilingi kebun teh. Setiap detik saya menikmati hembusan angin pegunungan. Dengan kicau burung dari pohon nangka yang subur merindang. Apalagi dengan kebaikan tuan besar. Baru satu minggu berada di rumah itu, saya sudah mendapatkan banyak hadiah. Gelang-gelang emas, cincin, giwang, kalung dengan liontin besar. Hidup saya benar-benar berkecukupan. Pagi hari saya hanya membereskan ruang kamar, ruang tamu, dan ruang kerja tuan besar. Sementara yang lainnya ada orang lain yang ditugaskan. Setelahnya saya hanya duduk-duduk sambil merenda atau merajut. Tuan besar jarang di rumah. Tapi saya tidak pernah merasakan kesepian. Apalagi setelah kehadiran seorang bayi, yang murni anak tuan besar.
Sempat terpikir untuk pulang menengok abah dan eneh di Cikiray, sambil membawa cucu cantiknya. Tapi hasrat itu saya tolak mentah-mentah. Kehadiran saya di sisi abah dan eneh hanya akan menjadi bahan gunjingan para tetangga. Makanya, melupakan segala kenangan di kampung dan mengubur kerinduan kepada abah dan eneh harus saya lakukan. Kini, cukuplah hidup saya bersama anak dan tuan besar. Meskipun saya menyadari, kehadiran anak saya tidak mengubah status saya. Tetap saja saya hanya seorang nyai-nyai yang tidak dinikahi oleh tuan besar. Membuat saya makin tidak ingin bertemu abah dan eneh, karena saya malu, saya telah melahirkan seorang bayi tanpa pernikahan!
Padahal saya sangat mengharapkan pernikahan. Apalagi melihat Eveline semakin besar. Tapi keinginan itu selalu saya simpan. Saya tahu, tuan besar tidak suka dengan keinginan saya itu. Namun, dari hari ke hari, kehadiran Eveline membuat perasaan saya pada tuan besar berkembang jauh. Saya sangat mencintai tuan besar. Setiap malam, di kala tuan besar bekerja saya tidak bisa meninggalkan pintu untuk membukanya. Atau ketika tuan besar bekerja di dalam rumah saya selalu menunggunya. Lebih dari itu, lama-lama, perasaan itu tumbuh menjadi cemburu manakala tuan besar ketahuan pulang malam. Bahkan lagi. Puncaknya ketika di rumah ini hadir seorang noni Belanda, Rosana namanya.
“Apa salahnya kulanggar aturan Jan Pieter yang kuno itu…[1]
Itu suara Rosana suatu malam yang larut di kamar kerja tuan besar. Hingga malam itu tuan besar tidak masuk ke kamar tempat biasa kami tidur. Sampai saya menemukan tubuhnya di kamar lain dengan selimut tebal dan di samping perempuan itu. Saya tidak bisa membendung rasa marah padanya. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya menyadari hidup saya semakin tidak ada artinya. Setelah tiga hari Rosana tinggal di situ, saya mulai suka menyendiri keliling kebun teh. Menikmati aroma cantigi di kejauhan. Menatapi para pemetik teh hingga berjam-jam. Sampai suatu pagi seorang laki-laki mengintai saya. Setelah saya jauh berjalan.
“Mandor, Durman, mau ke mana?”
“Nyai, maafkan saya. Saya dari tadi mengikuti Nyai. Saya khawatir, kita sudah hampir berada di bawah situ patenggang.”
Saya terperangah. Tapi kembali tenang.
“Nanti tuan besar mencari Nyai.”
“Saya tidak peduli, Mandor.”
“Mengapa?”
“Saya tidak dibutuhkan lagi di sana.”
“Maksud Nyai apa?”
“Saya sudah tidak cantik, Mandor.”
“Wah, Nyai salah. Nyai tetap bunga dari Cikiray.”
“Dia sudah mempunyai perempuan lain.”
Mandor Durman tersentak, “Kalau Nyai mau, saya bisa membunuh tuan besar. Ini demi harga diri Nyai. Nyai adalah perempuan agung yang masih berhak untuk dihargai. Apalagi mereka hanya bangsa asing yang merampas kehidupan Nyai, juga kehidupan kita semua.”
“Tinggalkan saya Mandor, lagipula Mandor masih banyak pekerjaan.”
Mandor itu masih terdiam. Menatap saya penuh kebingungan. Ada sorot lain di matanya. Tapi saya kembali mengalihkan perhatian ke tempat lain. Siapa pun akan tertawan hatinya oleh kehadiran saya. Dan mata mandor Durman, itu semata-mata hanya pandang kekaguman. Saya melangkah lagi. Mandor Durman tak ada lagi dalam pandangan.
Hingga sore menjelang, saya tersadar untuk pulang. Tapi mendadak hati saya perih. Apa saya harus melangkahkan kaki saya ke rumah di mana anak saya ada? Sementara sekarang ini ada seorang perempuan lain dengan tidak tahu dirinya duduk santai di serambi. Menemani tuan besar minum kopi. Dada ini terasa sesak. Tapi saya tidak berdaya. Sekali lagi akhirnya langkah saya berputar ke arah jalan itu.
“Berhenti!”
Saya tersentak. Seorang tentara Belanda bersenjata tiba-tiba menghadang langkah saya.
“Berhenti Nyai, dari tadi kamu orang dicari-cari! Rupanya kabur ke sini!”
“Ampun Tuan, mengapa menangkap saya?”
“Alaah, jangan banyak tanya! Kamu orang ditangkap!”
Saya berusaha menahan tubuh saya. Saya meronta-ronta. Tapi dua kali tamparan mendarat di pipi saya. Membuat semua gelap. Saya baru tersadar sudah berada di sebuah sel tahanan. Kebaya saya sudah tidak berbentuk. Lalu saya berusaha untuk bangkit bergeser ke sisi tembok yang warnanya gading pudar, kotor, dan penuh tulisain. Tapi seluruh persendian saya ngilu. Rupanya, inilah awal penderitaan saya. Rasa sakit yang mendera, setelah saya sadar tidak ada lagi tuan besar dan Eveline di sisi saya. Dua sosok yang saya cintai. Lalu siapa yang mengantarkan saya ke tempat ini?
“He, kamu pembunuh! Berdiri!”
Saya tersentak. Wajah tinggi besar dengan brewok putih itu memandang saya dengan jijik. Dengan segenap kekuatan saya bangkit. Ruangan itu sangat sempit, sehingga beberapa kali bergeser saya sudah sampai pada jeruji di hadapan saya.
“Berdiri kowe!”
Untuk ke sekian kalinya dalam hidup saya setelah kehadiran Rosana, air mata berurai.
“Saya bukan pembunuh, Tuan!”
“Dasar Inlander!” tiba-tiba senjata itu ditodongkan ke wajah saya. Saya merasa menggigil, tubuh saya gemetar. Lalu setelah sesaat bangkit, tubuh saya kembali rubuh. Dan saya tak ingat apa-apa…

“Hingga saya berada di sini, Mandor, ditolong Mandor. Entah harus bilang apa lagi saya sama Mandor. Sehingga hidup saya tidak terlunta lagi. Saya juga dapat pekerjaan di sini. Hanya satu keinginan saya sekarang, bertemu dengan Evelline.” Tak terasa pipi saya basah.
Mandor itu menatap saya dengan penuh rasa bersalah.
“Saya tidak tahu, mengapa orang-orang Belanda itu menuduh saya membunuh tuan besar. Padahal mandor tahu sendiri, saya berada di bawah kaki Situ Patenggang ketika tuan besar terbunuh. Saya sangat mencintai tuan besar. Mana mungkin saya membunuhnya. Saya yakin, Rosana adalah penyebab semua ini, bahkan dialah yang membunuh tuan besar. Perempuan Belanda itu memang licik. Orang-orang Belanda itu memang keparat. Menghukum saya tanpa pengadilan. Untung saja, orang-orang Nipon sudah datang. Sekarang bergantian dia menjadi makanan para prajurit Nipon…”
Mandor Durman masih terdiam. Dia menunduk, “Di mana pun di bumi ini, tidak ada yang untung di bawah kaki penindasan, Nyai. Kita pun menjadi korban keganasan para Dai Nippon. Lihat saja penderitaan…” suara Mandor Durman terhenti seketika. Seperti baru menyadari sesuatu yang tidak saya fahami.
“Terima kasih Mandor, hanya kepada Mandor, sekarang ini saya bisa minta pertolongan. Saya tidak tahu lagi kalau Mandor tidak ada. Saya keluar dari Sukamiskin, tanpa tahu harus ke mana. Sekarang, saya ingin minta tolong pada Mandor untuk mencari Eveline. Eveline, Mandor.”
“Apa Nyai tidak ingin mencari pembunuhnya?”
Saya menggeleng, “Itu sudah tidak penting lagi, Mandor Durman. Saya sudah terima hukumannya. Tidak ada gunanya menemukan pembunuhnya, karena tidak akan mengembalikan kebahagiaan saya yang hilang. Saat ini saja hanya ingin Eveline, Eveline, Mandor.”
Saya berusaha meneliti wajahnya. Tapi dia masih menunduk, “Mandor mau menolong saya kan? Jangan biarkan saya kehilangan semuanya. Abah dan eneh, adik-adik, tuan besar, lalu anak saya. Saya tidak mau kehilangan dia, Mandor. Dialah tujuan hidup saya, dia perhiasan yang paling berharga bagi saya. Tolonglah saya, Mandor.”
Mandor itu menarik nafas lelah, “Sudahlah Nyai, lupakan semuanya. Sekarang ini Nyai sudah aman di sini. Itu sudah cukup buat Nyai.”
“Tidak, Mandor, saya harus bertemu Eveline.”
“Tapi…”
“Apa saya tidak boleh meninggalkan tempat ini untuk mencari Eveline?”
Mandor Durman masih diam. Dia meneliti wajah saya. Kebingungan saya. Akhirnya saya pun terdiam. Menatap sekeliling. Bangunan ini memang kokoh melindungi saya. Tapi saya tidak tahu sampai kapan saya harus berada di sini. Menjadi tukang cuci di tempat ini tidak saja dibayar murah, tapi juga membutuhkan tenaga besar.
Saya tidak pernah bertanya, bagaimana awalnya Mandor Durman sehingga menjadi penunggu kunci kamar-kamar di Pension Welgelegen ini. Sebuah gedung mirip penginapan yang dikhususkan untuk tentara Jepang. Dengan sekian perempuan cantik yang bisa menjadi teman mereka bersenang-senang. Tapi saya jarang menemui mereka. Kecuali helaian-helaian pakaian milik para perempuan. Selalu saya berpikir, anak saya pasti seusia mereka jika saja dia bisa ditemukan. Tapi di mana saya mencarinya.
“Ini sebuah hotel, Nyai. Tapi sejak Jepang datang, dia menjadikan tempat ini penginapan yang di dalamnya dihuni para perempuan cantik untuk santapan para prajurit Jepang.” Mandor Durman mengalihkan pembicaraan.
Sungguh, kata-kata itu membuat hati saya perih. Hidup saya juga tidak jauh berbeda nistanya dengan para penghuni Pension Welgelegen ini.
“Oya, nyonya Rosana sudah dibawa ke penampungan Cihapit. Siapa pun orang-orang Belanda, bahkan Indo Belanda, mereka ditampung oleh Dai Nipon.”
Saya terhenyak. Cihapit? Bukankah itu tempat penampungan yang penuh penyiksaan? Saya mendadak menelan ludah. Bukan Rosana yang ada dalam pikiran saya. Tapi Eveline… Ya, Eveline, gadis itu sudah bertahun-tahun tak menjadi hiasan pandangan saya. Gusti Allah, wajah indonya itu, dia pasti akan dibawa juga oleh serdadu.
“Mandor, lalu anak saya?”
Mandor itu terdiam.
“Mandor, kira-kira dia di mana?”
Mandor itu menggeleng. Lalu kepalanya kembali tertunduk, “Maafkan saya, Nyai. Saya tidak bisa menjaga Nona Eveline. Saya tidak kuasa. Saat itu nyonya Rosana begitu menguasai semuanya. Termasuk menguasai nona. Namun saya sudah tidak tahu lagi, di mana nona Eveline setelah nyonya Rosana dibawa ke Cihapit. Yang saya tahu, nona Eveline tidak di sana.”
Saya menunduk. Ketika itu, bermunculan wajah-wajah cantik dari dalam ruangan rias yang terletak di ujung gedung. Seperti biasa, saya sebagai tukang cuci tidak berani mengawasi keberadaan mereka. Saya berlalu ke belakang. Membawa setumpuk cucian. Hanya wangi parfum yang bisa saya rasakan.
“Nyai, tolong buatkan segelas susu dengan sedikit gula.”
Saya menelan ludah. Segera saya teringat tuan besar dan puteri saya. Rasanya kenangan masa lalu kembali terulang saat ini.
“Antarkan ke kamar.”
Saya hanya mengangguk. Tapi ketika itu muncul mandor Durman.
“Biarkan saya yang antarkan, Nyai. Dia dalam pengawasan. Sudah beberapa hari sakit. Jadi harus disembunyikan karena banyak prajurit yang mengiinginkan dia.”
Saya tidak membantahnya. Mandor Durman mengambil baki minuman itu. Lalu melangkah ke dalam.
Saya termangu. Lalu saya letakkan tubuh lelah dan tua saya di atas bangku kayu dekat dapur. Tapi tidak memakan waktu lama, tiba-tiba dari dalam terdengar teriakan. Membuat saya tergeragap. Meneliti keributan di dalam. Beberapa perempuan berlarian. Mandor Durman berdiri memaku. Wajahnya kosong menatap kegaguan saya. Saya baru tahu, gadis yang baru dikirimi segelas susu dengan sedikit gula itu telah meninggal!
Gusti Allah. Apa lagi ini? Nasib buruk apa lagi yang bakal menimpa saya? Apa dia meninggal setelah minum susu? Duh, apa ini berarti saya akan kembali dituduh membunuh sementara saya tidak melakukannya? Saya ingin menjerit. Tapi ketuaan saya membuat saya malu dan berusaha menahan diri. Untunglah ketika itu mandor Durman datang. Meski wajahnya tampak gugup, dia masih berusaha menenangkan saya.
“Nyai, tenang, tidak terjadi apa-apa.”
Ketika itu juga muncul seorang prajurit. Mendadak darah saya berdesir. Saya memejamkan mata. Pasti prajurit itu akan menahan saya, seperti dulu ketika saya ditangkap di tengah semilir angin dan wangi daun-daun teh.
“Bu, Asih. Kami minta tolong untuk memandikan dan mengurus mayat itu.”
Saya tergeragap. Hendak meyakinkan wajah itu, tapi saya tak berani melakukannya.
“Jangan, Tuan!” entah mengapa tiba-tiba suara mandor Durman mengagetkan. Tapi saya tahu, Mandor itu tidak bisa membantah lagi. Karena prajurit itu langsung membentaknya. Membuat mandor Durman hanya terdiam mengikuti gerak langkah saya ke arah dalam.
Suasana di dalam begitu mencekam. Namun ada pula beberapa prajurit yang masih tertawa-tawa. Begitu saya muncul mereka terdiam. Saya juga melihat beberapa orang memperhatikan wajah saya.
“Bawa saja ke belakang, Mandor,” seru seorang prajurit.
Ketika itu juga mandor Durman membawa jasad lemah itu ke belakang, lalu menidurkan di atas bangku dekat sisi dapur. Beberapa ember berisi air telah disediakan. Saya terkesiap melihat sosok itu. Gadis itu adalah puteri pemilik segala kecantikan. Meskipun wajahnya memucat tanpa warna. Rambutnya bergelombang coklat keemasan. Dan kelopak mawar itu… Entah mengapa, tiba-tiba perasaan saya mendadak aneh. Wajah itu mengingatkan saya pada Eve yang kini entah di mana berada. Jika dia ada mungkin gadis itu akan seindah ini. Sayang, saya tidak bisa membayangkan, seperti apa wajahnya ketika saya pergi untuk sebuah penistaan.
Tapi Gusti Allah! Saya mulai tidak bisa menguasai keadaan. Ketika perlahan tangan saya membuka baju dalamnya. Saya menemukan sekuntum melati susun terselip di belahan dadanya yang matang. Bunga itu sudah layu dan coklat kusam! Saya menatap sosok itu dalam-dalam. Ada kepiluan yang aneh. Adakah gadis molek ini…? Tanpa saya sadari, mata saya mulai membasah. Lalu dengan pandangan samar saya telusuri wajahnya, alisnya, bulu matanya, kelopak mawar indahnya, pahatan sempurna hidungnya, lalu saya buka mulutnya. Tidak! Deretan mutiara itu! Saya telusuri dagunya, lehernya yang jenjang, lalu… Perih dada ini, Gustiii! Mengapa nasib begitu kejam pada saya. Lalu saya elus bahu kirinya, saya yakinkan diri bahwa gadis cantik ini memiliki tahi lalat di sana….
“Maafkan saya Nyai. Saya tidak bermaksud merahasiakan ini pada Nyai. Tapi inilah yang harus saya lakukan. Saya tidak mau melihat Nyai menderita lebih lama lagi dengan menyaksikan kehidupan nona Eveline yang tidak punya pilihan. Biar saja, cukup saya yang menjadi penjaga puteri Nyai selama ini. Inilah pengabdian saya yang terakhir bagi nona Eveline, untuk menebus kesalahan saya pada Nyai…”
Saya masih meraung-raung di pangkuan Mandor Durman. Bahkan saya tidak peduli dengan apa yang diucapkannya. Hingga senja temaram. Langit Bandung membungkam. Hanya lampu-lampu menjadi penghiasi bangunan Pension Welgelegen ini. Mengantarkan tawa para serdadu. Membawa para gadis pada dinding-dinding penghinanaan yang entah kapan berakhir. Bangsa ini semakin remuk diberdaya oleh ketidakadilan dan angkara murka.

Pension Welgelegen suatu sore. Ini hari terakhir saya di tempat ini. Meski hati saya hancur, saya harus bisa bertahan. Dengan sebuah gaun yang saya temukan di kamar Eveline, saya akan pergi dari tempat ini.
“Nyai, tunggu saya. Saya bisa mengantarkan Nyai sampai Cikiray.”
“Jangan Mandor, mandor sangat dibutuhkan di tempat ini.”
“Tidak Nyai. Saya pun sudah tua. Saya sudah berjanji pada diri saya, sampai kapan pun saya akan berada di sisi Nyai…”
Saya menatap wajah Mandor Durman. Garis-garis di wajahnya sudah nampak.
Tapi maafkan saya, Nyai. Saya takut menjadi dosa jika saya terus membawa benda yang bukan hak saya.”
“Maksud Mandor apa?”
Lalu dia mengeluarkan sebungkus kain putih. Dia membuka helaiannya perlahan. Saya tersentak. Sebentuk cincin bermata putih berkilatan terhampar di atasnya. Benda itu mengingatkan saya pada tuan besar.
“Ini milik tuan besar. Bukan punya saya. Maafkan saya Nyai.”
Saya makin bingung. Sekian tahun peristiwa itu terjadi. Tidak mungkin saya mau mengingatnya kembali. Itu adalah masa lalu saya yang harus dikubur dalam-dalam. Tapi cincin ini? bagaimana mungkin bisa berada di tangan Mandor Durman?
“Nyai, mohon ampun, Nyai telah berkorban untuk sesuatu yang tidak pantas. Sekali lagi saya mohon ampun.”
Saya masih bingung.
“Andaikan Nyai tahu, betapa besar harapan saya ingin mengabdi pada Nyai dengan penuh jiwa dan raga saya…”
Saya masih bengong. Begitu pun ketika mandor itu memasukkan cincin tadi ke jari saya, “Sejak Nyai tinggal di perkebunan, saya jatuh cinta dengan Nyai. Saya tidak rela Nyai hidup dengan tuan besar, karena saya tahu, hidup Nyai akan berakhir seperti ini…”
Saya tersentak. Tapi sesaat saja. Siapa pun bisa mengatakan ini pada saya. Apalagi tuan besar sudah tidak menguasai hidup saya. Tapi apalah gunanya, saya tak lagi punya pilihan. Selain pergi jauh untuk menikmati kesendirian.
“Mandor, apa ini ada hubungannya dengan pembunuhan tuan besar?”
Mandor itu terdiam. Kepalanya tertunduk dan dia berlalu ke belakang. Saya menatap punggung yang mulai membungkuk itu. Lalu perlahan saya membuka cincin itu. Apakah mungkin Mandor Durman? Tuan besar tidak pernah melepaskan cincin ini dari tangannya, kecuali orang yang mengantarkannya pada kematian..
***
Selesai


Eneh= emak, ibu
Inlander= julukan bangsa Belanda terhadap orang pribumi sebagai penghinaan
Serpollet= sejenis mobil di zaman Belanda


[1] Pernah ada aturan zaman Gubernur Jenderal Jan Pieter Zoen Coen tentang larangan para pembesar Belanda membawa istri ke negeri Hindia Belanda (Indonesia) ini.