Cerpen Iis
W. Kartadinata
Sejak mama membunuh papi dengan racun, sebuah panggilan
yang paling indah itu lenyap hingga dasar bumi. Jadilah aku camar yang tak
kenal induk. Menjadi beku di musim dingin karena menyendiri setelah dierami. Mama
tidak mengajariku terbang rendah di atas laut untuk menyambar ikan-ikan di
permukaan. Mama tidak mengajariku memasukkan kepala ke dalam air untuk mematuk
ikan yang sedang berenang. Mama pun tidak melindungiku dari mahluk pemangsa.
Tidak juga mama mengajariku tentang arti cinta. Membuatku tercabut dari musim
semi saatnya yang lain riuh memadu kasih dengan pasangannya.
Aku lahir tanggal 1 Mei 1925. Tepat satu tanggal dan
bulan kelahiran dengan Ratu Juliana. Sang pewaris tahta ratu Orange, negeri
kelahiran papi. Makanya, papi selalu merayakan hari kelahiranku sekaligus
memberikan penghormatan pada sang ratu. Lalu mempersembahkan sebuah ciuman
sambil berbisik ke telinga. Aku adalah Ratu Eveline milik papi dengan sempurna
kecemerlangan. Bahkan wajahku mengalahkan segala ratu di muka bumi ini. Maka
seluruh bunga di Hindia Belanda ini akan bermekaran jika senyum kupersembahkan.
Ah, papi memang pandai membuaiku. Berbeda dengan mama. Kekagumannya hanya
terlihat dari matanya. Namun aku tahu, mama sangat bangga dengan aku.
Semua orang takluk dengan kecantikanku. Tentu saja. Itu
karena rambut mayangku yang kecoklatan. Kulitku yang gading memugiring halus
sesempurna pualam. Wajahku adalah paduan gadis tercantik Sunda dengan ukiran
wajah papi yang tuan Belanda. Mataku gabungan kelopak mawar dengan sorot tajam
yang dimiliki papi. Hidungku ukiran dewi yang dipahat seorang mpu sebagai
mahakarya. Itulah lukisan papi tentang aku. Bahkan katanya, kalau aku tertawa,
gigiku gemerlapan melebihi barisan mutiara yang paling mahal. Aku benar-benar cangkokkan
melati susun dengan bunga tulip yang mekar sepanjang musim.
“Sayang, andaikan Van Haren masih hidup. Sudah pasti
keindahan wajahmu akan abadi dalam puisi.”
“Papi…” aku menggelayut manja. Tapi ketika itu muncul
mama. Dia membawakan papi sebilah tongkat dan topi. Lalu menyerahkannya dengan
sopan. Mirip seorang abdi. Setelah itu papi pergi setelah kecupan
mendarat di pipiku. Sementara mama hanya berdiri sambil menundukkan kepalanya.
“Serpolletku
sudah siap?”
“Ya Tuan.”
Beberapa orang bermunculan. Semua laki-laki. Kemudian
papi pergi.
Sekarang aku menyendiri. Mama berlalu ke dalam untuk
mengambil tisikan. Kemudian dia duduk kembali di dekatku. Tapi dia duduk di
kursi yang lebih rendah. Sebuah bantal besar yang berhias tisikan mama. Angin
menepi mengirimkan wangi pucuk-pucuk teh. Namun meskipun udara sangat dingin,
sajian segelas susu hangat cukup menyegarkan tenggorakanku. Selalu, mama yang
menyediakan untukku. Dengan sedikit gula, mirip susu kesukaan papi.
“Mama, rumah Mama jauh dari sini?”
“O, jauh sekali, Sayang.”
“Pantas Mama jarang ke rumah orang tua Mama.”
Ketika itu mamaku menunduk. Lalu memalingkan wajahnya
keluar.
“Apa Mama merindukan mereka?”
“Tentu saja, Sayang.”
“Kalau aku sekolah di Eropa, pasti aku juga akan merindukan
Mama. Kenapa Mama tidak mengunjungi mereka?”
“Mama belum meminta izin pada tuan, Sayang.”
“Mau Eve yang minta izinkan?”
“Tidak usah, Sayang.”
Mama masih memalingkan muka ke luar. Membiarkan
tisikannya menjuntai ke bantal.
“Kan kasihan Mama tidak bisa bertemu mereka.”
Mama menatap kosong, “Eve Sayang, sejak mama pergi dari
rumah orang tua mama dan tinggal di rumah ini, hidup mama sendiri. Mama harus menahan diri dan membunuh kerinduan mama pada
mereka. Mama harus menjadi diri mama sendiri. Mama tidak lagi bisa menjadi
bagian dari orang tua mama. Bagi mama, hidup manusia diciptakan dalam wujud
secara sendiri-sendiri. Oleh karena itu, seindah apa pun hubungan antarmanusia,
tetaplah dia sendiri dalam dirinya. Dia lahir sendiri, dan akan terkubur
sendiri pula.”
Aku memberenggut. Usiaku baru tujuh tahun. Mekipun ucapan
mama membingungkan. Tapi sedikit-sedikit isinya aku faham. Lalu kudekati mama
perlahan. Matanya basah. Bergelora amarah kubaca. Entah mengapa. Tapi mama
mengubahnya dengan senyuman. Kami berpelukan. Tubuh itu terasa hangat. Dua
belahan dadanya begitu matang kudekap. Wangi melati yang terkepit di balik
kutang mama mencongak kuncupnya. Kurasakan pula hembusan buah cengkeh yang
kerap menjadi makanan harian mama.
“Kamu sayang sama Mama?” bisiknya perlahan.
Aku mengangguk, “Tapi aku harus meninggalkan Mama untuk
waktu yang sangat lama.”
Mama mempererat pelukannya, “Tidak apa-apa, Sayang.
Perasaan sayangmu sama mama itu sudah cukup. Nanti kalau Eve sudah di Eropa,
Eve harus selalu rindukan mama, ya?”
“Iya, Eve akan kirim surat untuk mama. Makanya mama harus
belajar membaca. Mintalah diajari papi.”
“Iya, mama janji, nanti mama akan belajar.”
“Dengan papi Ma, paksa aja meskipun papi sibuk…””
Mama mengangguk. Lalu suasana sepi. Semilir angin menerpa gorden yang jendelanya terbuka.
Membuatnya seperti penari. Mama masih membelaiku. Terdengar sebuah senandung
dengan bahasa yang tidak kumengerti. Itu bahasa negeri mama yang lain yang
belum pernah kupelajari. Air mata mama kembali mengalir. Aku hanya terdiam. Aku
tidak mau mengganggu keasyikan mama bersenandung. Hingga mama mengusap pipi dan selesai dengan
senandungnya.
“Ma, Apa mama sayang sama papi?”
“Sayang yang terbesar yang pernah mama buat seumur hidup
mama adalah sayang sama papi.”
“Kenapa Ma?”
“Karena Eve, Sayang …”
Aku kembali memeluknya, “Aku sayang sama mama.”
Sampai sebuah detik. Waktu yang tidak kufahami maknanya.
Mama tiba pada titik di kala dirinya berada dalam sebuah keterasingan. Aku
sendiri tidak mengerti. Detik yang disebut telah menyeret mama pada dinding
jeruji besi. Membuatnya pergi dari rumahku, juga pergi meninggalkan aku. Aku
tidak faham, kepergian mama juga detik terpahit berikutnya setelah papi
meninggalkan kami. Bedanya, papi pergi untuk selamanya. Ya, papi mati. Di saat
cinta papi begitu besar padaku. Di saat aku baru faham tentang cinta itu. Di saat
papi teramat sehat. Dan sore itu, setelah untuk ke sekian kalinya papi membawa
seorang perempuan Belanda, namanya Rosana. Seorang perempuan berambut pirang, dengan
tinggi jauh di atas mama, juga cantik. Tapi kecantikannya tidak melebihi
kecantikan mama.
“Eveline, kamu melamun.”
“Aku kangen dengan mama. Aku ingin menjenguk mama.”
“Tidak ada gunanya, mungkin dia sudah melupakanmu.
Bukankah aku yang bertanggung jawab atas dirimu, Eve?” Rosana membelaiku,
“Mulai sekarang panggil dia Nyai, dia tidak pantas menjadi mama seorang gadis
Belanda cantik sepertimu.”
Rosana selalu bilang begitu.
“Tapi paling tidak, dia pernah memiliki aku. Ada darahku
di darahnya. Sejak umur tujuh tahun aku berpisah dengan mama.”
Sekarang tak ada jawaban. Rosana membelaiku. Perempuan ini mampu melumpuhkan rasa rinduku pada mama.
Melenyapkan sekian tanya, mengapa mama pergi meninggalkan semuanya. Rumah di
atas bukit teh yang setiap pagi menikmati sinar jingga sebelah timur. Di
sela-sela pohon nangka yang selalu mengirimkan riuh suara burung. Angin setiap
detik yang selalu setia. Membawa wangi getah pinus yang berjejer rapat di
sisi-sisi jalan. Tempat ini adalah satu titik di antara ribuan titik surga
terindah di tanah priangan. Tak ada yang bisa menggantikan. Namun
ketidakhadiran mama dan papi membuat semua berubah.
Rosana bisa menjadi obat bagiku di saat susah seperti
itu. Dialah perempuan kedua dalam hidupku setelah mama. Bahkan aku merasakan
dia bisa menjelma menjadi mama. Dia mengajariku tentang segala hal. Dengan Rosana aku bisa mengenal apa pun tentang hidup. Bahkan
tentang cinta seekor camar yang
tak pernah tergantikan. Katanya itu gambaran cinta Rosana pada papi yang
meninggalkannya di negeri Orange sendirian. Hingga memaksa perempuan itu
mengejar cinta sejatinya. Meskipun harus berhari-hari terapung di lautan sampai
bosan melihat pelabuhan. Rasa cintanya pada papi membuatku kagum padanya. Menjadikan
hidupku menyatu dengan hidupnya. Dan
pada pami yang kuanggap telah membagi cinta, aku tak pernah menyalahkan.
Memang benar, cinta mama ternyata bisa tergantikan.
Rosana cepat mengambil alih segala. Termasuk kekuasaan di rumah papi. Lama-kelamaan
ia pun sangat menikmati kehidupan di tengah-tengah lautan bumi putera yang indah
ini. Bahkan tidak terlalu lama Rosana mulai terbiasa dengan sarung dan kebaya. Perasaan
ajaibnya dengan pulau Jawa membuatnya melarangku untuk sekolah di Eropa.
Seperti cita-citaku sejak papi ada.
Sampai kudengar darinya sebuah negeri bernama Jepang. Sebuah
negeri yang girang kemajuan alang-kepalang. Pemilik orang-orang pendek itu mulai diperhitungkan. Tak
kusangka, mahluk yang mulai sering dibicarakan itu datang ke hadapanku tanpa
diundang!
Pada suatu siang, orang-orang pendek kuning itu datang ke
rumahku. Dengan pakaian serdadu yang serba aneh,
tidak rapi, disertai senjata panjang menjuntai hingga hampir menyentuh lantai.
Mereka mengancamku. Entah apa yang dikatakannya. Yang jelas ketika itu mereka
mengikatku. Membawaku entah ke mana. Memisahkanku dengan Rosana. Hingga detik
ini aku tidak lagi melihatnya. Aku kehilangan mama dan papi di usia 7 tahun.
Sekarang aku kehilangan Rosana. Padahal saat itu baru saja aku akan
memperingati ulang tahunku ke-17.
Sebuah
nama kudengar, Immamura. Dia adalah biang menyerahnya Jenderal Ter poorten. Itu
berarti matinya kekuatan Belanda. Dan sekarang, aku kehilangan segalanya. Juga
harga diriku. Orang-orang itu menyeretku tanpa perasaan ke tempat ini. Menjadikanku
mainan, boneka yang tidak berdaya. Dinding-dinding Pension Welgelegen adalah
saksi bahwa hidupku akan berlalu sia-sia. Entah sampai kapan.
Sejak aku ditelanjangi oleh nasib, selalu detik
menggelandangku pada penderitaan. Aku selalu ingin bunuh diri, tapi aku tidak
bisa melakukannya. Setiap para serdadu
itu tidak ada, aku selalu menikmati kesendirian. Menyapu sepi kamar yang selalu dikunci dari
luar. Menikmati kebisuanku sendiri. Menikmati dendam yang tak pernah berbentuk.
Ya, aku menjadi seonggok boneka yang terlempar di sudut kamar karena tidak
sedang dimainkan. Aku menjadi sang Eveline, ratu Pension yang dijadikan benda
taruhan. Keelokanku bukan lagi kebanggaan papi di masa lalu. Malah menjadi
biang neraka yang dibangun oleh ketidaktahudirian mahluk bernama takdir. Tak ada yang peduli ketika aku didera oleh
kesakitan yang dalam. Manakala aku diberangus di setiap pagi, siang hingga
malam oleh laki-laki secara bergantian.
Sesungguhnya apa salahku
hingga nasib menderaku seperti ini. Apa
ini hukuman bagi orang-orang terdekatku? Dosa mama yang menurut cerita
Rosana, di saat usiaku matang, telah membunuh papi dengan racun. Dosa papi
karena meninggalkan Rosana hingga penderitaan perempuan itu tak berujung. Atau
dosa Rosana yang telah merebut kebahagiaan dan segala kekuasaan keluargaku? Aku
tidak tahu. Tak ada yang bisa kutanya. Karena tak ada yang peduli dengan
diriku. Bahkan lantai kamar ini tidak bersahabat sejak kedatanganku.
**
Nama saya Nyai Asih Rumnasih. Sejak tinggal bersama Tuan Besar
saya suka dipanggil Nyai Harum. Itu artinya wangi.
Mungkin karena melati susun yang selalu saya selipkan di kutang saya sejak
tinggal dengan tuan besar. Umur saya empat belas tahun ketika abah dan eneh
mengantarkan saya ke rumah juragan lurah Endoh. Lalu jugaran Lurah
Endoh mengantarkan saya dengan delman ke rumah tuan besar di sperata Sinumbra. Tempat
yang cukup jauh dari kampung saya.
Saya
tahu, saya mau dijadikan nyai-nyai oleh tuan besar. Meskipun sebutan itu sangat
memalukan. Tapi saya rela melakukannya. Untuk apa memikirkan rasa malu. Hidup saya dan keselamatan abah dan eneh
menjadi di atas segalanya. Saya tahu, jika saya
tidak menurut, pasti abah dan eneh akan diancam bahkan disiksa oleh juragan
lurah. Saya tidak tega membayangkannya.
Makanya, supaya hidup mereka tentram, biarlah saya melakukannya. Dengan
demikian, abah tetap bisa menggarap sawah milik juragan mantri. Eneh masih bisa
menjagai adik-adik yang berjumlah tujuh orang.
Menurut orang sekampung, saya adalah mojang yang akan
menjadi bunga Cikiray. Meskipun jarang dicuci, rambut saya menyubur panjang.
Tetap tidak kurang keindahannya karena wajah dan kulit saya. Itu juga kata
orang-orang. Saya tidak tahu. Mengapa Gusti Allah menciptakan saya seperti ini.
Kata juragan lurah, abah ditunggangi malaikat paling cantik ketika bercinta
dengan eneh. Saya baru mengerti sekarang.
Setelah saya sampai di rumah tuan besar, yang pertama
dilakukan adalah mandi. Saya disuruh membersihkan seluruh daki di tubuh saya. Memang benar, setelah saya gosok dengan sabun wangi,
kulit saya menjadi halus dan terang. Ini mandi yang pertama kalinya menggunakan sabun. Saya juga keramas dengan
menggunakan sabun cair yang tidak kalah wanginya. Setelah itu saya disuruh
berganti kebaya baru dan diminta menyisir rambut yang acak-acakan. Ketika itu,
tuan memberikan saya lap besar. Tapi ketika saya hendak mengambilnya, tuan
besar malah menatap saya. Handuk itu tidak jadi diberikan. Dia malah mendekati
saya. Membopong tubuh saya. Rambut saya yang panjang masih menyisakan
tetes-tetes air di atas seprai warna putih. Tuan
besar memeluk saya sambil tertawa-tawa. Dan saya tidak bisa menolaknya.
Hidup
memang aneh. Gusti Allah tiba-tiba mengirim saya ke tempat ini. Meninggalkan
kebiasaan sehari-hari di kampung yang dihiasi kemiskinan. Membuat saya menjadi
perhiasan paling indah di rumah tuan besar. Rumah yang dikelilingi kebun teh.
Setiap detik saya menikmati hembusan angin pegunungan. Dengan kicau burung dari
pohon nangka yang subur merindang. Apalagi dengan kebaikan tuan besar. Baru
satu minggu berada di rumah itu, saya sudah mendapatkan banyak hadiah.
Gelang-gelang emas, cincin, giwang, kalung dengan liontin besar. Hidup saya
benar-benar berkecukupan. Pagi hari saya hanya membereskan ruang kamar, ruang
tamu, dan ruang kerja tuan besar. Sementara yang lainnya ada orang lain yang
ditugaskan. Setelahnya saya hanya duduk-duduk sambil merenda atau merajut. Tuan
besar jarang di rumah. Tapi saya tidak pernah merasakan kesepian. Apalagi
setelah kehadiran seorang bayi, yang murni anak tuan besar.
Sempat
terpikir untuk pulang menengok abah dan eneh di Cikiray, sambil membawa cucu
cantiknya. Tapi hasrat itu saya tolak mentah-mentah. Kehadiran saya di sisi abah dan eneh hanya akan menjadi bahan
gunjingan para tetangga. Makanya, melupakan segala kenangan di kampung dan mengubur
kerinduan kepada abah dan eneh harus saya lakukan. Kini, cukuplah hidup saya
bersama anak dan tuan besar. Meskipun saya menyadari, kehadiran anak saya tidak
mengubah status saya. Tetap saja saya hanya seorang nyai-nyai yang tidak
dinikahi oleh tuan besar. Membuat saya makin tidak ingin bertemu abah dan eneh,
karena saya malu, saya telah melahirkan seorang bayi tanpa pernikahan!
Padahal saya sangat mengharapkan pernikahan. Apalagi
melihat Eveline semakin besar. Tapi keinginan itu selalu saya simpan. Saya
tahu, tuan besar tidak suka dengan keinginan saya itu. Namun, dari hari ke
hari, kehadiran Eveline membuat perasaan saya pada tuan besar berkembang jauh.
Saya sangat mencintai tuan besar. Setiap malam, di kala tuan besar bekerja saya
tidak bisa meninggalkan pintu untuk membukanya. Atau ketika tuan besar bekerja
di dalam rumah saya selalu menunggunya. Lebih dari itu, lama-lama, perasaan itu
tumbuh menjadi cemburu manakala tuan besar ketahuan pulang malam. Bahkan lagi.
Puncaknya ketika di rumah ini hadir seorang noni Belanda, Rosana namanya.
Itu suara Rosana suatu malam yang larut di kamar kerja
tuan besar. Hingga malam itu tuan besar tidak masuk ke kamar tempat biasa kami
tidur. Sampai saya menemukan tubuhnya di kamar lain dengan selimut tebal dan di
samping perempuan itu. Saya tidak bisa membendung rasa marah padanya. Tapi saya
tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya menyadari hidup saya semakin tidak ada
artinya. Setelah tiga hari Rosana tinggal di situ, saya mulai suka menyendiri
keliling kebun teh. Menikmati aroma cantigi di kejauhan. Menatapi para pemetik
teh hingga berjam-jam. Sampai suatu pagi seorang laki-laki mengintai saya.
Setelah saya jauh berjalan.
“Mandor, Durman, mau ke mana?”
“Nyai, maafkan saya. Saya dari tadi mengikuti Nyai. Saya
khawatir, kita sudah hampir berada di bawah situ patenggang.”
Saya terperangah. Tapi kembali tenang.
“Nanti tuan besar mencari Nyai.”
“Saya tidak peduli, Mandor.”
“Mengapa?”
“Saya tidak dibutuhkan lagi di sana.”
“Maksud Nyai apa?”
“Saya sudah tidak cantik, Mandor.”
“Wah, Nyai salah. Nyai tetap bunga dari Cikiray.”
“Dia sudah mempunyai perempuan lain.”
Mandor Durman tersentak, “Kalau Nyai mau, saya bisa
membunuh tuan besar. Ini demi harga diri Nyai. Nyai adalah perempuan agung yang
masih berhak untuk dihargai. Apalagi mereka hanya bangsa asing yang merampas
kehidupan Nyai, juga kehidupan kita semua.”
“Tinggalkan saya Mandor, lagipula Mandor masih banyak
pekerjaan.”
Mandor itu masih terdiam. Menatap saya penuh kebingungan.
Ada sorot lain di matanya. Tapi saya kembali mengalihkan perhatian ke tempat
lain. Siapa pun akan tertawan hatinya oleh kehadiran saya. Dan mata mandor Durman,
itu semata-mata hanya pandang kekaguman. Saya melangkah lagi. Mandor Durman tak
ada lagi dalam pandangan.
Hingga sore menjelang, saya tersadar untuk pulang. Tapi
mendadak hati saya perih. Apa saya harus melangkahkan kaki saya ke rumah di
mana anak saya ada? Sementara sekarang ini ada seorang perempuan lain dengan
tidak tahu dirinya duduk santai di serambi. Menemani tuan besar minum kopi.
Dada ini terasa sesak. Tapi saya tidak berdaya. Sekali lagi akhirnya langkah
saya berputar ke arah jalan itu.
“Berhenti!”
Saya tersentak. Seorang tentara Belanda bersenjata tiba-tiba
menghadang langkah saya.
“Berhenti Nyai, dari tadi kamu orang dicari-cari! Rupanya
kabur ke sini!”
“Ampun Tuan, mengapa menangkap saya?”
“Alaah, jangan banyak tanya! Kamu orang ditangkap!”
Saya berusaha menahan tubuh saya. Saya meronta-ronta.
Tapi dua kali tamparan mendarat di pipi saya. Membuat semua gelap. Saya baru
tersadar sudah berada di sebuah sel tahanan. Kebaya saya sudah tidak berbentuk.
Lalu saya berusaha untuk bangkit bergeser ke sisi tembok yang warnanya gading
pudar, kotor, dan penuh tulisain. Tapi seluruh persendian saya ngilu. Rupanya,
inilah awal penderitaan saya. Rasa sakit yang mendera, setelah saya sadar tidak
ada lagi tuan besar dan Eveline di sisi saya. Dua sosok yang saya cintai. Lalu
siapa yang mengantarkan saya ke tempat ini?
“He, kamu pembunuh! Berdiri!”
Saya tersentak. Wajah tinggi besar dengan brewok putih
itu memandang saya dengan jijik. Dengan segenap kekuatan saya bangkit. Ruangan
itu sangat sempit, sehingga beberapa kali bergeser saya sudah sampai pada
jeruji di hadapan saya.
“Berdiri kowe!”
Untuk ke sekian kalinya dalam hidup saya setelah
kehadiran Rosana, air mata berurai.
“Saya bukan pembunuh, Tuan!”
“Dasar Inlander!” tiba-tiba senjata itu ditodongkan ke
wajah saya. Saya merasa menggigil, tubuh saya gemetar. Lalu setelah sesaat
bangkit, tubuh saya kembali rubuh. Dan saya tak ingat apa-apa…
“Hingga saya berada di sini, Mandor, ditolong Mandor.
Entah harus bilang apa lagi saya sama Mandor. Sehingga hidup saya tidak
terlunta lagi. Saya juga dapat pekerjaan di sini. Hanya satu keinginan saya
sekarang, bertemu dengan Evelline.” Tak terasa pipi saya basah.
Mandor itu menatap saya dengan penuh rasa bersalah.
“Saya tidak tahu, mengapa orang-orang Belanda itu menuduh
saya membunuh tuan besar. Padahal mandor tahu sendiri, saya berada di bawah
kaki Situ Patenggang ketika tuan besar terbunuh. Saya sangat mencintai tuan
besar. Mana mungkin saya membunuhnya. Saya yakin, Rosana adalah penyebab semua
ini, bahkan dialah yang membunuh tuan besar. Perempuan Belanda itu memang
licik. Orang-orang Belanda itu memang keparat. Menghukum saya tanpa pengadilan.
Untung saja, orang-orang Nipon sudah datang. Sekarang bergantian dia menjadi
makanan para prajurit Nipon…”
Mandor Durman masih terdiam. Dia menunduk, “Di mana pun
di bumi ini, tidak ada yang untung di bawah kaki penindasan, Nyai. Kita pun
menjadi korban keganasan para Dai Nippon. Lihat saja penderitaan…” suara Mandor
Durman terhenti seketika. Seperti baru menyadari sesuatu yang tidak saya fahami.
“Terima kasih Mandor, hanya kepada Mandor, sekarang ini
saya bisa minta pertolongan. Saya tidak tahu lagi kalau Mandor tidak ada. Saya
keluar dari Sukamiskin, tanpa tahu harus ke mana. Sekarang, saya ingin minta
tolong pada Mandor untuk mencari Eveline. Eveline, Mandor.”
“Apa Nyai tidak ingin mencari pembunuhnya?”
Saya menggeleng, “Itu sudah tidak penting lagi, Mandor
Durman. Saya sudah terima hukumannya. Tidak ada gunanya menemukan pembunuhnya,
karena tidak akan mengembalikan kebahagiaan saya yang hilang. Saat ini saja
hanya ingin Eveline, Eveline, Mandor.”
Saya berusaha meneliti wajahnya. Tapi dia masih menunduk,
“Mandor mau menolong saya kan? Jangan biarkan saya kehilangan semuanya. Abah
dan eneh, adik-adik, tuan besar, lalu anak saya. Saya tidak mau kehilangan dia,
Mandor. Dialah tujuan hidup saya, dia perhiasan yang paling berharga bagi saya.
Tolonglah saya, Mandor.”
Mandor itu menarik nafas lelah, “Sudahlah Nyai, lupakan
semuanya. Sekarang ini Nyai sudah aman di sini. Itu sudah cukup buat Nyai.”
“Tidak, Mandor, saya harus bertemu Eveline.”
“Tapi…”
“Apa saya tidak boleh meninggalkan tempat ini untuk
mencari Eveline?”
Mandor Durman masih diam. Dia meneliti wajah saya.
Kebingungan saya. Akhirnya saya pun terdiam. Menatap sekeliling. Bangunan ini
memang kokoh melindungi saya. Tapi saya tidak tahu sampai kapan saya harus
berada di sini. Menjadi tukang cuci di tempat ini tidak saja dibayar murah,
tapi juga membutuhkan tenaga besar.
Saya tidak pernah bertanya, bagaimana awalnya Mandor
Durman sehingga menjadi penunggu kunci kamar-kamar di Pension Welgelegen ini. Sebuah
gedung mirip penginapan yang dikhususkan untuk tentara Jepang. Dengan sekian
perempuan cantik yang bisa menjadi teman mereka bersenang-senang. Tapi saya
jarang menemui mereka. Kecuali helaian-helaian pakaian milik para perempuan.
Selalu saya berpikir, anak saya pasti seusia mereka jika saja dia bisa ditemukan.
Tapi di mana saya mencarinya.
“Ini sebuah hotel, Nyai. Tapi sejak Jepang datang, dia menjadikan tempat ini penginapan yang di dalamnya dihuni para perempuan cantik untuk santapan para
prajurit Jepang.” Mandor Durman mengalihkan pembicaraan.
Sungguh, kata-kata itu membuat hati saya perih. Hidup
saya juga tidak jauh berbeda nistanya dengan para penghuni Pension Welgelegen
ini.
“Oya, nyonya Rosana sudah dibawa ke penampungan Cihapit.
Siapa pun orang-orang Belanda, bahkan Indo Belanda, mereka ditampung oleh Dai
Nipon.”
Saya terhenyak. Cihapit? Bukankah itu tempat penampungan
yang penuh penyiksaan? Saya mendadak menelan ludah. Bukan Rosana yang ada dalam
pikiran saya. Tapi Eveline… Ya, Eveline, gadis itu sudah bertahun-tahun tak
menjadi hiasan pandangan saya. Gusti Allah, wajah indonya itu, dia pasti akan
dibawa juga oleh serdadu.
“Mandor, lalu anak saya?”
Mandor itu terdiam.
“Mandor, kira-kira dia di mana?”
Mandor itu menggeleng. Lalu kepalanya kembali tertunduk,
“Maafkan saya, Nyai. Saya tidak bisa menjaga Nona Eveline. Saya tidak kuasa.
Saat itu nyonya Rosana begitu menguasai semuanya. Termasuk menguasai nona. Namun
saya sudah tidak tahu lagi, di mana nona Eveline setelah nyonya Rosana dibawa
ke Cihapit. Yang saya tahu, nona Eveline tidak di sana.”
Saya menunduk. Ketika itu, bermunculan wajah-wajah cantik
dari dalam ruangan rias yang terletak di ujung gedung. Seperti biasa, saya
sebagai tukang cuci tidak berani mengawasi keberadaan mereka. Saya berlalu ke
belakang. Membawa setumpuk cucian. Hanya wangi parfum yang bisa saya rasakan.
“Nyai, tolong buatkan segelas susu dengan sedikit gula.”
Saya menelan ludah. Segera saya teringat tuan besar dan puteri
saya. Rasanya kenangan masa lalu kembali terulang saat ini.
“Antarkan ke kamar.”
Saya hanya mengangguk. Tapi
ketika itu muncul mandor Durman.
“Biarkan saya yang antarkan, Nyai. Dia dalam pengawasan.
Sudah beberapa hari sakit. Jadi harus disembunyikan karena banyak prajurit yang
mengiinginkan dia.”
Saya tidak membantahnya. Mandor Durman mengambil baki
minuman itu. Lalu melangkah ke dalam.
Saya termangu. Lalu saya letakkan tubuh lelah dan tua
saya di atas bangku kayu dekat dapur. Tapi tidak memakan waktu lama, tiba-tiba
dari dalam terdengar teriakan. Membuat saya tergeragap. Meneliti keributan di
dalam. Beberapa perempuan berlarian. Mandor Durman berdiri memaku. Wajahnya
kosong menatap kegaguan saya. Saya baru tahu, gadis yang baru dikirimi segelas
susu dengan sedikit gula itu telah meninggal!
Gusti Allah. Apa lagi ini? Nasib buruk apa lagi yang bakal menimpa saya? Apa dia
meninggal setelah minum susu? Duh, apa ini berarti saya akan kembali dituduh
membunuh sementara saya tidak melakukannya? Saya ingin menjerit. Tapi ketuaan
saya membuat saya malu dan berusaha menahan diri. Untunglah ketika itu mandor
Durman datang. Meski wajahnya tampak gugup, dia masih berusaha menenangkan
saya.
“Nyai, tenang, tidak terjadi apa-apa.”
Ketika itu juga muncul seorang prajurit. Mendadak darah
saya berdesir. Saya memejamkan mata. Pasti prajurit itu akan menahan saya,
seperti dulu ketika saya ditangkap di tengah semilir angin dan wangi daun-daun
teh.
“Bu,
Asih. Kami minta tolong untuk memandikan dan mengurus mayat itu.”
Saya
tergeragap. Hendak meyakinkan wajah itu, tapi saya tak berani melakukannya.
“Jangan, Tuan!” entah mengapa tiba-tiba suara mandor
Durman mengagetkan. Tapi saya tahu, Mandor itu tidak bisa membantah lagi.
Karena prajurit itu langsung membentaknya. Membuat mandor Durman hanya terdiam
mengikuti gerak langkah saya ke arah dalam.
Suasana di dalam begitu mencekam. Namun ada pula beberapa
prajurit yang masih tertawa-tawa. Begitu saya muncul mereka terdiam. Saya juga
melihat beberapa orang memperhatikan wajah saya.
“Bawa saja ke belakang, Mandor,” seru seorang prajurit.
Ketika itu juga mandor Durman membawa jasad lemah itu ke
belakang, lalu menidurkan di atas bangku dekat sisi dapur. Beberapa ember berisi
air telah disediakan. Saya terkesiap melihat sosok itu. Gadis itu adalah puteri
pemilik segala kecantikan. Meskipun wajahnya memucat tanpa warna. Rambutnya bergelombang
coklat keemasan. Dan kelopak mawar itu… Entah mengapa, tiba-tiba perasaan saya
mendadak aneh. Wajah itu mengingatkan saya pada Eve yang kini entah di mana
berada. Jika dia ada mungkin gadis itu akan seindah ini. Sayang, saya tidak
bisa membayangkan, seperti apa wajahnya ketika saya pergi untuk sebuah
penistaan.
Tapi Gusti Allah! Saya mulai tidak bisa menguasai keadaan.
Ketika perlahan tangan saya membuka baju dalamnya. Saya menemukan sekuntum
melati susun terselip di belahan dadanya yang matang. Bunga itu sudah layu dan
coklat kusam! Saya menatap sosok itu dalam-dalam. Ada kepiluan yang aneh.
Adakah gadis molek ini…? Tanpa saya sadari, mata saya mulai membasah. Lalu dengan
pandangan samar saya telusuri wajahnya, alisnya, bulu matanya, kelopak mawar
indahnya, pahatan sempurna hidungnya, lalu saya buka mulutnya. Tidak! Deretan
mutiara itu! Saya telusuri dagunya, lehernya yang jenjang, lalu… Perih dada ini,
Gustiii! Mengapa nasib begitu kejam pada saya. Lalu saya elus bahu kirinya,
saya yakinkan diri bahwa gadis cantik ini memiliki tahi lalat di sana….
“Maafkan saya Nyai. Saya tidak bermaksud merahasiakan ini
pada Nyai. Tapi inilah yang harus saya lakukan. Saya tidak mau melihat Nyai
menderita lebih lama lagi dengan menyaksikan kehidupan nona Eveline yang tidak
punya pilihan. Biar saja, cukup saya yang menjadi penjaga puteri Nyai selama
ini. Inilah pengabdian saya yang terakhir bagi nona Eveline, untuk menebus
kesalahan saya pada Nyai…”
Saya masih meraung-raung di pangkuan Mandor Durman.
Bahkan saya tidak peduli dengan apa yang diucapkannya. Hingga senja temaram.
Langit Bandung membungkam. Hanya lampu-lampu menjadi penghiasi bangunan Pension
Welgelegen ini. Mengantarkan tawa para serdadu. Membawa para gadis pada dinding-dinding
penghinanaan yang entah kapan berakhir. Bangsa ini semakin remuk diberdaya oleh
ketidakadilan dan angkara murka.
Pension Welgelegen suatu sore. Ini hari terakhir saya di
tempat ini. Meski hati saya hancur, saya harus bisa bertahan. Dengan sebuah
gaun yang saya temukan di kamar Eveline, saya akan pergi dari tempat ini.
“Nyai, tunggu saya. Saya bisa mengantarkan Nyai sampai
Cikiray.”
“Jangan Mandor, mandor sangat dibutuhkan di tempat ini.”
“Tidak Nyai. Saya pun sudah tua. Saya sudah berjanji pada
diri saya, sampai kapan pun saya akan berada di sisi Nyai…”
Saya
menatap wajah Mandor Durman. Garis-garis di wajahnya sudah nampak.
Tapi
maafkan saya, Nyai. Saya takut menjadi dosa jika saya terus membawa benda yang
bukan hak saya.”
“Maksud
Mandor apa?”
Lalu
dia mengeluarkan sebungkus kain putih. Dia membuka helaiannya perlahan. Saya
tersentak. Sebentuk cincin
bermata putih berkilatan terhampar di atasnya. Benda itu mengingatkan saya pada
tuan besar.
“Ini milik tuan besar. Bukan punya saya. Maafkan saya
Nyai.”
Saya makin bingung. Sekian tahun peristiwa itu terjadi. Tidak
mungkin saya mau mengingatnya kembali. Itu adalah masa lalu saya yang harus
dikubur dalam-dalam. Tapi cincin
ini? bagaimana mungkin bisa berada di tangan Mandor Durman?
“Nyai,
mohon ampun, Nyai telah berkorban untuk sesuatu yang tidak pantas. Sekali lagi
saya mohon ampun.”
Saya
masih bingung.
“Andaikan
Nyai tahu, betapa besar harapan saya ingin mengabdi pada Nyai dengan penuh jiwa
dan raga saya…”
Saya
masih bengong. Begitu pun ketika mandor itu memasukkan cincin tadi ke jari
saya, “Sejak Nyai tinggal di perkebunan, saya jatuh cinta dengan Nyai. Saya tidak rela Nyai hidup dengan tuan besar, karena saya
tahu, hidup Nyai akan berakhir seperti ini…”
Saya tersentak. Tapi sesaat saja. Siapa pun bisa
mengatakan ini pada saya. Apalagi tuan besar sudah tidak menguasai hidup saya.
Tapi apalah gunanya, saya tak lagi punya pilihan. Selain pergi jauh untuk
menikmati kesendirian.
“Mandor, apa ini ada hubungannya dengan pembunuhan tuan
besar?”
Mandor itu terdiam. Kepalanya tertunduk dan dia berlalu ke belakang. Saya
menatap punggung yang mulai membungkuk itu. Lalu perlahan saya membuka cincin
itu. Apakah mungkin Mandor Durman? Tuan besar tidak pernah melepaskan cincin
ini dari tangannya, kecuali orang yang mengantarkannya pada kematian..
***
Selesai
Eneh= emak, ibu
Inlander= julukan bangsa Belanda terhadap orang pribumi
sebagai penghinaan
Serpollet= sejenis mobil di zaman Belanda
[1] Pernah ada aturan zaman Gubernur Jenderal
Jan Pieter Zoen Coen tentang larangan para pembesar Belanda membawa istri ke
negeri Hindia Belanda (Indonesia) ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar