SYAIR
NESTAPA PURBAWISESA
Iis W.
Kartadinata
Syair
jilid 1
Semua bermula dari rasa bersalah seorang Patih,
Purbawisesa...
Menangis,
menangislah detik.
Hujan
tak reda walaupun terik.
Hati
tak juga menjadi baik.
Sebuah
sesalan, detik pun tak bisa berkutik.
Mengosongkan
hati tuk ketenangan.
Berhasrat
riang hanyalah angan.
Menengadah
meminta ampun kepada Tuhan.
Kiranya
alam pun ikut berkenan.
Tapi
detik tetaplah bisu.
Hati
gundah kian membiru.
Dari
hilir hingga ke hulu.
Jernih
air itu tetaplah abu.
Inilah
gundah Purbawisesa.
Patih
setia Raja Nalendra.
Niat
hendak mengukirkan wanita.
Yang
tersembahkan nestapa raja.
Kerajaan
Mandalawangi.
Wanginya
tersohor ke penjuru negeri.
subur
makmur lohjinawi.
Di
tatar Sunda enam belas masehi.
Repeh
rapih kaya raya.
Harta
melimpah di mana-mana.
Rakyatnya
hidup aman sentosa.
Mengabdikan
hidup untuk Tuhan dan prabunya.
Prabu
Sri Nalendra Waregasakti.
Memimpin
negerinya dengan hati.
Memberi
harapan hidup dengan bukti-bukti.
Bukan
omong kosong dan janji-janji.
Itulah
catatan yang tersebar dari dedaunan di masa silam.
Ketika
pohon-pohonnya meranggas perlahan.
Dimakan
waktu dan detik yang terus berjalan.
Tanpa
halangan dan penanda berakhirnya kehidupan.
Syair
jilid 2
Angin
dari berbagai penjuru.
Mengisyarakan
arti sebuah rindu.
Hasrat
cinta kasih sang prabu.
Hasrat
purba pemilik setiap kalbu.
Namun,
kesepian juga yang terasa.
Sang
prabu menjaga detik dalam kebal asa dan rasa.
Tanpa
cinta di setiap sudut singgasana.
Tanpa
kasih di setiap dinding-dinding istana.
Bunga-bunga
selalu membisu.
Daun-daun
menangkup layu.
Tak
ada usap manis sang ratu.
Yang
menyapa bercengkrama menjaga waktu.
Keputren
itu selalu sepi.
Para
pelayan menari-nari tanpa sang puteri.
Ikan-ikan
berenang tanpa disaksikan para pemilik kecantikan sejati.
Sungguh,
sebuah negeri dengan kesepian hakiki.
Wanita,
perempuan. Ya wanita atau perempuan.
Adalah
mahluk Tuhan yang dicipta tidak sekedar sebagai puan.
Tapi
hakikat pemilik segala pelengkap kehidupan.
Bumi
mencekam tanpa pemilik air mata sekaligus senyuman.
Hingga
datanglah sebuah janji.
Hadirkan
sang puteri suci sejati.
Janji
Sang Patih seharga mati.
Janji
yang tinggi sumpah nan sakti.
“Aku
adalah saksiku sendiri.
wahai Patih yang
baik hati.
Mengapa aku tak juga memiliki istri...”
Demikian, sabda Prabu Sri Nalendra Waregasakti.
“Betulkah Sang Prabu jujur dengan
perasaan?
Bukankah hati tak bisa dipertanyakan,
Bahwa setiap mahluk Tuhan adalah pemilik
kodrat yang tak bisa diperdebatkan.
Dan wujudnya bagi laki-laki adalah cinta
pada perempuan.”
Langit pun sanggup bersumpah sakti,
Bahwa Prabu berhak memiliki cinta sejati
Cinta yang paling tinggi dari sang
Puteri
Prabu layak memiliki yang tercantik di
Jagat ini.
Tanpa titah dari Baginda....
Izinkan Hamba Purbawisesa,
Patih setia yang tanpa cela
mencarinya sampai tepian surga.
Atau sekedar ke atap-atap langit.
Ke dinding-dinding bukit,
Adakah Prabu ingin perempuan secantik
Nawang Wulan Sang bidadari?
Ataukah Prabu ingin secantik puteri Rara
Oyi?”
“Kau cerita tentang Rara Oyi?
Adakah puteri lain secantik Rara Oyi?”
“Jika Tuhan berkehendak, tentu Tuhan
Maha Pencipta Sejati.
Akan ada seratus Rara Oyi di bumi ini.
Tidak ada cela, cantik rupa cantik hati.
Sesegar kelapa muda dan pencipta
berahi.”
“Sebagai Raja pengabdi pada negeri.
Demi langit Mandalawangi,
Yang meminta senyuman sang permaisuri.
Aku menyerah padamu, wahai patih yang
yang baik hati.
Kau akan pandai mencari puteri secantik Sang
Rara,
Sebersih Puteri Campa,
seharum sang Kandita[1],
puteri cantik pemilik raja-raja.”
Syair
jilid 3
Mekarlah
bunga-bunga.
Akan
datang sang puteri pilihan Raja.
Pengisi
kehidupan setiap sudut istana.
Penuh
cinta perempuan sejati-sesejatinya.
Mengelanalah sang Patih negeri.
Menyisir setiap sisi-sisi bumi.
Hamparan pasir pantai yang tak
bertepi.
Laut sedemikian dalam, gunung
sedemikian tinggi.
Dua kesulitan itu tetap terselam, tetap
terdaki.
Purbawisesa mencari dengan hati.
Menelisik lekuk sudut negeri,
mencari gerangan di mana jejak-jejak sang
puteri.
Sebuah negeri menghentikan jelajah
Purbawisesa.
Tepatnya di kerajaan pesisir selatan
Jawa.
Tentulah masih sedarah sejiwa.
Keturunan puteri Sunda.
Bagian parahyangan yang menawan.
Menawarkan akan zaman baru bagi
kehidupan.
Purbawisesa pun memutuskan.
Sang puteri itulah yang kelak akan
dipersembahkan.
Puteri Ayu Lenggik Linggamanik.
Seorang puteri cantik yang lenggik.
Lenggik adalah bentuk tubuh yang
cantik.
Gadis yang tinggi ramping menarik.
Dialah sang puteri pewaris negeri.
Buah cinta Prabu Wareguwulung dan permaisuri
Mustikasari.
Bertahta di kerajaan Bones nan asri.
Cantiknya tersohor ke pelosok negeri.
Syair
jilid 4
Tawaran pun dibentangkan.
Demi langit dan bumi semoga puteri
berkenan.
Dengan sekian penawaran
dipersembahkan.
Demi kejayaan Mandalawangi dan Bones agar
tetap jaya berdampingan.
Purbawisesa patih setia.
Berharap terus tanpa putus asa.
Mengambil hati sang puteri demi
rajanya.
Prabu Sri Nalendra yang sudah usia.
Tak ada rayu yang terlupakan.
Tak ada janji yang tak terucapkan.
Tak ada harap yang diputuskan.
Meski pada akhirnya Purbawisesa sepi
jawaban.
Sang puteri punya hak memilih
laki-laki.
Siapa dan bukan siapa baginya yang
meruntuhkan hati.
Merampas kesepian dari hari ke hari.
Memberi warna bagi hidup sang puteri.
Meski sejarah tidak mengabari dengan
siapa akhir hidupnya.
Linggamanik memiliki cinta yang tetap
terjaga rahasianya.
Entah jagat yang mana yang hendak
mempersatukan jiwanya.
Karena dengan siapa pun pada akhirnya
tiada berita.
Setelah tawaran dibentangkan.
Demi kejayaan dua kerajaaan.
Demi kemashuran Prabu Nalendra yang
dalam penantian.
Sang puteri menolak habis-habisan.
Purbawisesa patih setia.
Menggayuk sang puteri untuk junjunannya.
Meski dengan jalan gulita.
Hasrat sang puteri harus dijaga dengan
mantra-mantra.
Sang patih tak mau peduli.
Cinta sang puteri harus ditanam di Mandalawangi.
Asal tidak melasikan hati sang puteri.
Karena manusia punya akal dan budi.
“Prabu Nalendra semoga berkenan...
Seorang puteri kerajaan Bones di
pesisir selatan.
Wajahnya cantik tak terkirakan.
Bahkan dengan kata-kata pun, mohon ampun, tidak bisa hamba bayangkan”
Syair
jilid 5
Dia jelmaan para dewi,
Dialah gambaran Rara Oyi.
Lenggik Linggamanik seorang Puteri.
Keelokan yang terpancar seluruh
negeri”
“Tak ada gunanya kau berbahasa basi.
Karena usiaku terlalu tua untuk
sebuah janji yang tak pasti.
Bawalah dia ke hadapanku di sini.
Pantaskah dia menjadi permaisuri?”
“Tujuh belas tahun dewasalah tentu
Seorang gadis untuk sang Prabu
Paut usia termakan kegagahan Prabu
Paut usia terkalahkan oleh tahta
Prabu.”
“Apakah dia menerima lamaranku?”
Bisakah dirimu bersumpah untuk
tahtaku?
“Hamba berjanji, sang puteri akan
menerima lamaran Prabu.”
Demi langit demi bumi, demi
kebahagiaan di atas tahtamu...”
Sedemikian percaya Purbawisesa pada
hatinya.
Sembunyikan penolakan sang puteri yang
sebenanrya.
Biarlah sang Prabu bahagia.
Perkara penolakan sang puteri, sejarah
bisa mengubahnya.
Mengelanalah Purbawisesa.
Mencari segala ilmu di jagat raya.
Terutama ilmu penarik cinta.
Penakluk jitu bagi hati wanita.
Gunung-gunung menjadi punya imaji.
Langit-langit berdaya mencipta arti.
Tentang setiap gerak bumi.
Jagat raya dan putaran dahsyat
matahari.
Di dalamnya pasti terkandung makna.
Itulah keyakinan Purbawisesa.
Tuhan pencipta segala.
Pasti menyimpan ilmu dengan segala
rahasia.
Juga cinta di dalamnya.
Tentu kekuatan alam membantu segala
rasa.
Melalui cipta rasa manusia. T
erutama pemilik ilmu dan keajaiban
ghaib yang berdaya.
Bukannya patih Purbawisesa.
Jika menyerah pada kegagalan sekalipun
dinista.
Tetapi Purbawisesa yang cendekia
segala perkara.
Apalagi hanya memikat hati Puteri Ayu
untuk sang raja.
Kegagalan memikat sang puteri adalah
kegagalan semesta.
Mandalawangi akan menjadi lautan
nestapa.
Tentu sang patih menjadi tidak punya
makna.
Untuk meneruskan pengabdiannya.
Hingga ketika sang Prabu jatuh cinta.
Pada gambar Linggamanik yang jelita.
Purbawisesa membulatkan niatnya.
Memberikan ajian pencipta rasa dalam
alunan mantera-mantera.
Hingga lahirlah sebuah mantera.
Mantera pencipta rasa untuk si jelita.
Agar pada sang Prabu dia takluk juga.
Dengan pengabdian dan cinta
sepenuh-penuhnya.
Tersebutlah Jampe Susuk Gelung.
Jampi-jampi penggugah rasa tak
tanggung-tanggung.
Yang terkena bak tersesat di
gunung-gunung.
Berhasrat cinta dengan perasaan gila
yang melambung.
Syair
jilid 6
Itulah usaha Purbawisesa.
Untuk kebahagiaan semata sang raja.
Biarkan sang raja mempelajarinya.
Membuktikan kesaktian jampi pada
Puteri Ayu yang jelita sejelita-jelitanya.
Inilah jampi Susuk Gelung.
Jampi-jampi penggugah rasa tak
tanggung-tanggung.
Yang terkena bak tersesat di
gunung-gunung.
Berhasrat cinta dengan perasaan gila
yang melambung.
Nu nanggtung di kuwung-kuwung
Nu calik di mega malang
Dikodet bentang ranggeuyan
Nya irung bentang timuran
Nya alis katumbirian
Nya tarang lancah mentrangan
Diteuteup ti hareup sieup
Disawang ti tukang lenjang
Mangka welas, mangka asih
Sing asih... Sing asih... Sing asih...
Demikianlah Purbawisesa menurunkan
jampi-jampi pemberi jagat raya.
Untuk diterapkan pada si jelita.
Yang diajarkan pada sang Prabu untuk
mengucapkannya.
Sambil menatap gambar tanpa sanggup
berkedip mata.
Sang Prabu merasa digdaya.
Cintanya pasti terbalas si jelita.
Yakinlah dia akan hidup bahagia.
Membangun negara dengan sang permaisuri
sebagaimana layaknya.
Demikian pun patih Purbawisesa.
Senyum sumringah melihat kebahagiaan
sang Raja.
Yakinlah sudah pengabdiannya.
Akan membangun kepercayaan raja untuk
pengabdian-pengabdian yang lainnya.
Maka pergilah kembali sang patih
menuju negeri tetangga.
Negeri yang makmur di selatan Jawa.
Di antara seringai air laut dan
barisan ikan-ikan yang jadi saksinya.
Dia akan menjemput Puteri Ayu Lenggik
Linggamanik untuk prabunya.
Perjalanan jauh menjadi tak ada
artinya.
Jika si jelita Lengik Linggamanik
menerima cinta sepenuh hatinya.
Lalu siap dipersunting oleh sang raja.
Mendampingi sang prabu hingga hidup
matinya.
Berkhayallah Purbawisesa.
Tentang negeri Mandalawangi yang tak
akan sepi lagi karena hadirnya permaisuri yang jelita.
Kelak melahirkan para puteri dan
pangeran tampan untuk diasuhnya.
Belajar berperang di medan laga.
Sekalipun perang dilarang.
Sekalipun permusuhan dimustahilkan.
Tapi negeri harus tetap aman.
Maka prajurit haruslah siap dijejerkan.
Atau para puteri pengisi istana
keputrian.
Siap-siap dipersuntingkan.
Dan sang patih menjadi tangan kanan.
Penentu siapa-siapa pangeran tampan.
Kelak pula mengatur acara-acara besar
kerajaan.
Perhelatan-perhelatan besar yang
mendatangkan tamu-tamu kebesaran.
Semua serba besar dan besar-besaran.
Untuk keperluan para puteri dan
kegiatan membahagiakan para pangeran.
Memang ini terlalu jauh.
Khayal Purbawisesa harapan sungguh.
Tentu waktu dan takdir belumlah patuh.
Tentang bayangan Purbawisesa akan sang
Prabu yang penuh pengaruh.
Syair
jilid 7
Bagusnya kini Purbawisesa.
Berpikir jernih tentang sang raja.
Bagaimana persiapan ke depan untuk
mempersunting si jelita.
Agar kelak bahagia menemani sang prabu
selama-lamanya.
Maka disiapkan tekad yang bulat.
Meyakinkan hati sang Puteri agar
terpikat.
Bahwa sang raja sungguh berniat.
Mempersunting sang puteri dunia
akhirat.
Gambar sang puteri sudah ditangan.
Ajian pengasih sudah dihapalkan.
Yakinlah sang Purbawisesa tak ada lagi
halangan.
Pasti hasrat sang Prabu akan
tercapaikan.
Di hadapannya kini sang Puteri Ayu
Lenggik Linggamanik.
Lenggik artinya langsing menarik.
Kecantikan semesta segala permata nan
cantik.
Pemilik hati yang siapa pun akan
tertarik.
Didengarnyalah patih Purbawisesa.
Patih utusan Mandalawangi yang
berjaya.
Rajanya sang prabu Nalendra.
Pemilik kekuatan tiada tara.
Didengarnyalah pula hasrat sang Prabu.
Sang prabu yang berhak memilih segala
ratu.
Namun segala kecantikan itu tidak bisa
mengalahkan yang satu.
Yaitu kecantikan sang Puteri Ayu.
Namun langit tak memberi izin, bumi
pun tak memberi restu.
Segala puja puji ditanggap dingin,
Puteri Ayu hanya membisu.
Syair
jilid 8
Inikah sebuah makna?
Bahwa usaha Purbawisesa sia-sia?
Tak bisa membuka hati sang jelita.
Yang diinginkan sang Nalendra.
Sang Puteri tak punya rasa.
Apalagi jatuh cinta.
Purbawisesa dibiarkannya.
Ungkapan cinta hanya angin lalu saja.
Cinta dan penolakan tipis jaraknya.
Sang puteri bebas menentukan
pilihannya.
Perempuan menerima, tapi berhak
menolaknya.
Karena perempuan bukan ciptaan Tuhan
yang harus terus menerima titah sang raja.
Cinta adalah cinta.
Tidak pun adalah tidak.
Puteri Ayu berhak mengatur hatinya.
Menolak sang raja jadi permaisurinya.
Cinta tak bisa dipaksa.
Hati tak bisa diperdaya kuasa.
Puteri Ayu mengolah perasaannya.
Puteri Ayu menata budinya.
Empat puluh tujuh tahun umur sang
raja.
Bukan alasan menolak cintanya.
Tujuh belas tahun usianya.
Bukan alasan menolak hasratnya.
Tapi cinta adalah cinta.
Tidak pun adalah tidak.
Sang puteri bebas menentukan
pilihannya.
Sang puteri bebas menentukan hidupnya
untuk siapa.
Angin kencang mengguncang batin
seluruh Mandalawangi.
Titah sang prabu ditolak mentah-mentah
oleh sang puteri.
Bahkan yang lebih menyakitkan lagi.
Sang Puteri Ayu Lenggik Linggamanik
memilih minggat meninggalkan negeri.
Inilah awal petaka sang Prabu.
Cinta terlalu besar terlalu mengharu
biru.
Menghapalkan ajian sampai masuk ke
relung-relung kalbu.
Namun sang puteri hanya membawa petaka
pencipta pilu.
Nestapa pun menggema.
Kerajaan tak lagi punya daya.
Semua karena rasa yang sudah tercipta.
Di hati sang prabu bagi si jelita.
Sampai titik yang paling tinggi.
Sang prabu sudah tak tahan mengawal
hati.
Batin tercekik oleh hasrat diri.
Berujung kehilangan segala untuk waktu
yang abadi.
*
Syair
jilid 9
Akulah Purbawisesa.
Patih segala patih yang sesungguhnya
mencinta raja.
Membela kedigdayaan raja dan patuh
segala titahnya.
Namun telah gagal membuat raja bahagia
dengan cinta.
Akulah Purbawisesa.
Patih segala patih yang telah salah
menerapkan mantra semesta.
Hingga berakhir petaka raja.
Sesungguhnya akulah sumber dari segala
kekalahannya.
Jampi susuk gelung namanya.
Harusnya ditujukan bagi si jelita
dengan memasukkan ajian ke gambarnya.
Agar terbuka hatinya untuk sang raja.
Dan siap menjadi pendamping hingga
akhir hayatnya.
Sayangnya aku Purbawisesa.
Telah mengajarkan membaca ajian sambil
menatap gambar si jelita.
Yang membuat sang prabu tak sanggup
menata jiwa dan raganya.
Si jelita membuat seluruh hidup sang
prabu merana.
Akulah Purbawisesa.
Patih yang telah menerapkan ajian
dengan salah luar biasa.
Seharusnya Linggamanik yang
menerimanya.
Tapi salah menerapkannya.
Akulah Purbawisesa.
Bersalah seumur hidupnya.
Melangkah gagal dalam urusan asmara.
Ternyata asmara lebih rumit dari
perang di medan laga.
Kematian sang prabu itu.
Mengejar-ngejar kesalahanku.
Menunjuki bahwa sebabnya adalah aku.
Membuat nestapaku kian membiru.
Aku telah salah mengira.
Menerapkan urusan cinta bagi sang raja.
Seperti taktik perang di medan laga.
Hanya jago tebas pada musuh di depan
mata.
Seharusnya cinta mengajariku.
Karena cinta berurusan dengan kalbu.
Dengan jiwa dan kecemerlangan batin
yang tentu.
Bukan taktik perang meski sehebat taktik
Sun Tzu.
Baiklah wahai sang jagat.
Segala nestapa menjadi lumat.
Oleh karena nestapa ini yang maha
hebat.
Menyalahkanku sampai kiamat...
Aku berjanji pada waktu.
Menyampaikan semua tentang
kehilafanku.
Pada dinding-dinding bukit dan
batu-batu.
Sebagai catatan sejarah masa lalu...
Raja Kerajaan Mandalawangi, konon sudah berumur, namun belum memiliki permaisuri. Inilah yang membuat Sang Patih terketuk hatinya untuk berjuang mendapatkan seorang gadis cantik untuk Sang Raja. Raja yang disebut konon bernama Prabu Sri Nalendra Waregasakti, raja dari Kerajaan Mandalawangi yang terkenal adem, ayem, tentram, repeh, rapih, kerta raharja...(kisah kira-kira abad ke-16)