Minggu, 01 Desember 2019

SYAIR NESTAPA PURBAWISESA


SYAIR NESTAPA PURBAWISESA
Iis W. Kartadinata

Syair jilid 1
Semua bermula dari rasa bersalah seorang Patih, Purbawisesa...
Menangis, menangislah detik.
Hujan tak reda walaupun terik.
Hati tak juga menjadi baik.
Sebuah sesalan, detik pun tak bisa berkutik.

Mengosongkan hati tuk ketenangan.
Berhasrat riang hanyalah angan.
Menengadah meminta ampun kepada Tuhan.
Kiranya alam pun ikut berkenan.

Tapi detik tetaplah bisu.
Hati gundah kian membiru.
Dari hilir hingga ke hulu.
Jernih air itu tetaplah abu.

Inilah gundah Purbawisesa.
Patih setia Raja Nalendra.
Niat hendak mengukirkan wanita.
Yang tersembahkan nestapa raja.

Kerajaan Mandalawangi.
Wanginya tersohor ke penjuru negeri.
subur makmur lohjinawi.
Di tatar Sunda enam belas masehi.

Repeh rapih kaya raya.
Harta melimpah di mana-mana.
Rakyatnya hidup aman sentosa.
Mengabdikan hidup untuk Tuhan dan prabunya.


Prabu Sri Nalendra Waregasakti.
Memimpin negerinya dengan hati.
Memberi harapan hidup dengan bukti-bukti.
Bukan omong kosong dan janji-janji.

Itulah catatan yang tersebar dari dedaunan di masa silam.
Ketika pohon-pohonnya meranggas perlahan.
Dimakan waktu dan detik yang terus berjalan.
Tanpa halangan dan penanda berakhirnya kehidupan.


Syair jilid 2

Angin dari berbagai penjuru.
Mengisyarakan arti sebuah rindu.
Hasrat cinta kasih sang prabu.
Hasrat purba pemilik setiap kalbu.

Namun, kesepian juga yang terasa.
Sang prabu menjaga detik dalam kebal asa dan rasa.
Tanpa cinta di setiap sudut singgasana.
Tanpa kasih di setiap dinding-dinding istana.

Bunga-bunga selalu membisu.
Daun-daun menangkup layu.
Tak ada usap manis sang ratu.
Yang menyapa bercengkrama menjaga waktu.

Keputren itu selalu sepi.
Para pelayan menari-nari tanpa sang puteri.
Ikan-ikan berenang tanpa disaksikan para pemilik kecantikan sejati.
Sungguh, sebuah negeri dengan kesepian hakiki.


Wanita, perempuan. Ya wanita atau perempuan.
Adalah mahluk Tuhan yang dicipta tidak sekedar sebagai puan.
Tapi hakikat pemilik segala pelengkap kehidupan.
Bumi mencekam tanpa pemilik air mata sekaligus senyuman.

Hingga datanglah sebuah janji.
Hadirkan sang puteri suci sejati.
Janji Sang Patih seharga mati.
Janji yang tinggi sumpah nan sakti.

 “Aku adalah saksiku sendiri.
 wahai Patih yang baik hati.
Mengapa aku tak juga memiliki istri...”
Demikian, sabda Prabu Sri Nalendra Waregasakti.

“Betulkah Sang Prabu jujur dengan perasaan?
Bukankah hati tak bisa dipertanyakan,
Bahwa setiap mahluk Tuhan adalah pemilik kodrat yang tak bisa diperdebatkan.
Dan wujudnya bagi laki-laki adalah cinta pada perempuan.”

 Langit pun sanggup bersumpah sakti,
Bahwa Prabu berhak memiliki cinta sejati
Cinta yang paling tinggi dari sang Puteri
Prabu layak memiliki yang tercantik di Jagat ini.

Tanpa titah dari Baginda....
Izinkan Hamba Purbawisesa,
Patih setia yang tanpa cela
mencarinya sampai tepian surga.

Atau sekedar ke atap-atap langit.
Ke dinding-dinding bukit,
Adakah Prabu ingin perempuan secantik Nawang Wulan Sang bidadari?
Ataukah Prabu ingin secantik puteri Rara Oyi?”

“Kau cerita tentang Rara Oyi?
Adakah puteri lain secantik Rara Oyi?”

“Jika Tuhan berkehendak, tentu Tuhan Maha Pencipta Sejati.
Akan ada seratus Rara Oyi di bumi ini.
Tidak ada cela, cantik rupa cantik hati.
Sesegar kelapa muda dan pencipta berahi.”

“Sebagai Raja pengabdi pada negeri.
Demi langit Mandalawangi,
Yang meminta senyuman sang permaisuri.
Aku menyerah padamu, wahai patih yang yang baik hati.

Kau akan pandai mencari puteri secantik Sang Rara,
Sebersih Puteri Campa,
seharum sang Kandita[1],
puteri cantik pemilik raja-raja.”



Syair jilid 3

Mekarlah bunga-bunga.
Akan datang sang puteri pilihan Raja.
Pengisi kehidupan setiap sudut istana.
Penuh cinta perempuan sejati-sesejatinya.

Mengelanalah sang Patih negeri.
Menyisir setiap sisi-sisi bumi.
Hamparan pasir pantai yang tak bertepi.
Laut sedemikian dalam, gunung sedemikian tinggi.

Dua kesulitan itu tetap terselam, tetap terdaki.
Purbawisesa mencari dengan hati.
Menelisik lekuk sudut negeri,
mencari gerangan di mana jejak-jejak sang puteri.

Sebuah negeri menghentikan jelajah Purbawisesa.
Tepatnya di kerajaan pesisir selatan Jawa.
Tentulah masih sedarah sejiwa.
Keturunan puteri Sunda.

Bagian parahyangan yang menawan.
Menawarkan akan zaman baru bagi kehidupan.
Purbawisesa pun memutuskan.
Sang puteri itulah yang kelak akan dipersembahkan.

Puteri Ayu Lenggik Linggamanik.
Seorang puteri cantik yang lenggik.
Lenggik adalah bentuk tubuh yang cantik.
Gadis yang tinggi ramping menarik.

Dialah sang puteri pewaris negeri.
Buah cinta Prabu Wareguwulung dan permaisuri Mustikasari.
Bertahta di kerajaan Bones nan asri.
Cantiknya tersohor ke pelosok negeri.



Syair jilid 4

Tawaran pun dibentangkan.
Demi langit dan bumi semoga puteri berkenan.
Dengan sekian penawaran dipersembahkan.
Demi kejayaan Mandalawangi dan Bones agar tetap jaya berdampingan.

Purbawisesa patih setia.
Berharap terus tanpa putus asa.
Mengambil hati sang puteri demi rajanya.
Prabu Sri Nalendra yang sudah usia.

Tak ada rayu yang terlupakan.
Tak ada janji yang tak terucapkan.
Tak ada harap yang diputuskan.
Meski pada akhirnya Purbawisesa sepi jawaban.

Sang puteri punya hak memilih laki-laki.
Siapa dan bukan siapa baginya yang meruntuhkan hati.
Merampas kesepian dari hari ke hari.
Memberi warna bagi hidup sang puteri.

Meski sejarah tidak mengabari dengan siapa akhir hidupnya.
Linggamanik memiliki cinta yang tetap terjaga rahasianya.
Entah jagat yang mana yang hendak mempersatukan jiwanya.
Karena dengan siapa pun pada akhirnya tiada berita.

Setelah tawaran dibentangkan.
Demi kejayaan dua kerajaaan.
Demi kemashuran Prabu Nalendra yang dalam penantian.
Sang puteri menolak habis-habisan.

Purbawisesa patih setia.
Menggayuk sang puteri untuk junjunannya.
Meski dengan jalan gulita.
Hasrat sang puteri harus dijaga dengan mantra-mantra.

Sang patih tak mau peduli.
Cinta sang puteri harus ditanam di Mandalawangi.
Asal tidak melasikan hati sang puteri.
Karena manusia punya akal dan budi.


“Prabu Nalendra semoga berkenan...
 Seorang puteri kerajaan Bones di pesisir selatan.
Wajahnya cantik tak terkirakan.
Bahkan dengan kata-kata pun, mohon ampun, tidak bisa hamba bayangkan”



Syair jilid 5

Dia jelmaan para dewi,
Dialah gambaran Rara Oyi.
Lenggik Linggamanik seorang Puteri.
Keelokan yang terpancar seluruh negeri”

“Tak ada gunanya kau berbahasa basi.
Karena usiaku  terlalu tua untuk sebuah janji yang tak pasti.
Bawalah dia ke hadapanku di sini.
Pantaskah dia menjadi permaisuri?”

“Tujuh belas tahun dewasalah tentu
Seorang gadis untuk sang Prabu
Paut usia termakan kegagahan Prabu
Paut usia terkalahkan oleh tahta Prabu.”

“Apakah dia menerima lamaranku?”
Bisakah dirimu bersumpah untuk tahtaku?
“Hamba berjanji, sang puteri akan menerima lamaran Prabu.”
Demi langit demi bumi, demi kebahagiaan di atas tahtamu...”

Sedemikian percaya Purbawisesa pada hatinya.
Sembunyikan penolakan sang puteri yang sebenanrya.
Biarlah sang Prabu bahagia.
Perkara penolakan sang puteri, sejarah bisa mengubahnya.

Mengelanalah Purbawisesa.
Mencari segala ilmu di jagat raya.
Terutama ilmu penarik cinta.
Penakluk jitu bagi hati wanita.

Gunung-gunung menjadi punya imaji.
Langit-langit berdaya mencipta arti.
Tentang setiap gerak bumi.
Jagat raya dan putaran dahsyat matahari.

Di dalamnya pasti terkandung makna.
Itulah keyakinan Purbawisesa.
Tuhan pencipta segala.
Pasti menyimpan ilmu dengan segala rahasia.  

Juga cinta di dalamnya.  
Tentu kekuatan alam membantu segala rasa.
Melalui cipta rasa manusia. T
erutama pemilik ilmu dan keajaiban ghaib yang berdaya.  

Bukannya patih Purbawisesa.
Jika menyerah pada kegagalan sekalipun dinista.
Tetapi Purbawisesa yang cendekia segala perkara.
Apalagi hanya memikat hati Puteri Ayu untuk sang raja.

Kegagalan memikat sang puteri adalah kegagalan semesta.
Mandalawangi akan menjadi lautan nestapa.
Tentu sang patih menjadi tidak punya makna.
Untuk meneruskan pengabdiannya.

Hingga ketika sang Prabu jatuh cinta.
Pada gambar Linggamanik yang jelita.
Purbawisesa membulatkan niatnya.
Memberikan ajian pencipta rasa dalam alunan mantera-mantera.

Hingga lahirlah sebuah mantera.
Mantera pencipta rasa untuk si jelita.
Agar pada sang Prabu dia takluk juga.
Dengan pengabdian dan cinta sepenuh-penuhnya.

Tersebutlah Jampe Susuk Gelung.
Jampi-jampi penggugah rasa tak tanggung-tanggung.
Yang terkena bak tersesat di gunung-gunung.
Berhasrat cinta dengan perasaan gila yang melambung.



Syair jilid 6

Itulah usaha Purbawisesa.
Untuk kebahagiaan semata sang raja.
Biarkan sang raja mempelajarinya.
Membuktikan kesaktian jampi pada Puteri Ayu yang jelita sejelita-jelitanya.

Inilah jampi Susuk Gelung.
Jampi-jampi penggugah rasa tak tanggung-tanggung.
Yang terkena bak tersesat di gunung-gunung.
Berhasrat cinta dengan perasaan gila yang melambung.

Nu nanggtung di kuwung-kuwung
Nu calik di mega malang
Dikodet bentang ranggeuyan
Nya irung bentang timuran
Nya alis katumbirian
Nya tarang lancah mentrangan
Diteuteup ti hareup sieup
Disawang ti tukang lenjang
Mangka welas, mangka asih
Sing asih... Sing asih... Sing asih...

Demikianlah Purbawisesa menurunkan jampi-jampi pemberi jagat raya.
Untuk diterapkan pada si jelita.
Yang diajarkan pada sang Prabu untuk mengucapkannya.
Sambil menatap gambar tanpa sanggup berkedip mata.

Sang Prabu merasa digdaya.
Cintanya pasti terbalas si jelita.
Yakinlah dia akan hidup bahagia.
 Membangun negara dengan sang permaisuri sebagaimana layaknya.

Demikian pun patih Purbawisesa.
Senyum sumringah melihat kebahagiaan sang Raja.
Yakinlah sudah pengabdiannya.
Akan membangun kepercayaan raja untuk pengabdian-pengabdian yang lainnya.

Maka pergilah kembali sang patih menuju negeri tetangga.
Negeri yang makmur di selatan Jawa.
Di antara seringai air laut dan barisan ikan-ikan yang jadi saksinya.
Dia akan menjemput Puteri Ayu Lenggik Linggamanik untuk prabunya.

Perjalanan jauh menjadi tak ada artinya.
Jika si jelita Lengik Linggamanik menerima cinta sepenuh hatinya.
Lalu siap dipersunting oleh sang raja.
Mendampingi sang prabu hingga hidup matinya.

Berkhayallah Purbawisesa.
Tentang negeri Mandalawangi yang tak akan sepi lagi karena hadirnya permaisuri yang jelita.
Kelak melahirkan para puteri dan pangeran tampan untuk diasuhnya.
Belajar berperang di medan laga.

Sekalipun perang dilarang.
Sekalipun permusuhan dimustahilkan.
Tapi negeri harus tetap aman.
Maka prajurit haruslah siap dijejerkan.

Atau para puteri pengisi istana keputrian.
Siap-siap dipersuntingkan.
Dan sang patih menjadi tangan kanan.
Penentu siapa-siapa pangeran tampan.

Kelak pula mengatur acara-acara besar kerajaan.
Perhelatan-perhelatan besar yang mendatangkan tamu-tamu kebesaran.
Semua serba besar dan besar-besaran.
Untuk keperluan para puteri dan kegiatan membahagiakan para pangeran.

Memang ini terlalu jauh.
Khayal Purbawisesa harapan sungguh.
Tentu waktu dan takdir belumlah patuh.
Tentang bayangan Purbawisesa akan sang Prabu yang penuh pengaruh.



Syair jilid 7

Bagusnya kini Purbawisesa.
Berpikir jernih tentang sang raja.
Bagaimana persiapan ke depan untuk mempersunting si jelita.
Agar kelak bahagia menemani sang prabu selama-lamanya.

Maka disiapkan tekad yang bulat.
Meyakinkan hati sang Puteri agar terpikat.
Bahwa sang raja sungguh berniat.
Mempersunting sang puteri dunia akhirat.

Gambar sang puteri sudah ditangan.
Ajian pengasih sudah dihapalkan.
Yakinlah sang Purbawisesa tak ada lagi halangan.
Pasti hasrat sang Prabu akan tercapaikan.

Di hadapannya kini sang Puteri Ayu Lenggik Linggamanik.
Lenggik artinya langsing menarik.
Kecantikan semesta segala permata nan cantik.
Pemilik hati yang siapa pun akan tertarik.

Didengarnyalah patih Purbawisesa.
Patih utusan Mandalawangi yang berjaya.
Rajanya sang prabu Nalendra.
Pemilik kekuatan tiada tara.

Didengarnyalah pula hasrat sang Prabu.
Sang prabu yang berhak memilih segala ratu.
Namun segala kecantikan itu tidak bisa mengalahkan yang satu.
Yaitu kecantikan sang Puteri Ayu.

Namun langit tak memberi izin, bumi pun tak memberi restu.
Segala puja puji ditanggap dingin, Puteri Ayu hanya membisu.


  
Syair jilid 8

Inikah sebuah makna?
Bahwa usaha Purbawisesa sia-sia?
Tak bisa membuka hati sang jelita.
Yang diinginkan sang Nalendra.

Sang Puteri tak punya rasa.
Apalagi jatuh cinta.
Purbawisesa dibiarkannya.
Ungkapan cinta hanya angin lalu saja.

Cinta dan penolakan tipis jaraknya.
Sang puteri bebas menentukan pilihannya.
Perempuan menerima, tapi berhak menolaknya.
Karena perempuan bukan ciptaan Tuhan yang harus terus menerima titah sang raja.

Cinta adalah cinta.
Tidak pun adalah tidak.
Puteri Ayu berhak mengatur hatinya.
Menolak sang raja jadi permaisurinya.

Cinta tak bisa dipaksa.
Hati tak bisa diperdaya kuasa.
Puteri Ayu mengolah perasaannya.
Puteri Ayu menata budinya.

Empat puluh tujuh tahun umur sang raja.
Bukan alasan menolak cintanya.
Tujuh belas tahun usianya.
Bukan alasan menolak hasratnya.

Tapi cinta adalah cinta.
Tidak pun adalah tidak.
Sang puteri bebas menentukan pilihannya.
Sang puteri bebas menentukan hidupnya untuk siapa.

Angin kencang mengguncang batin seluruh Mandalawangi.
Titah sang prabu ditolak mentah-mentah oleh sang puteri.
Bahkan yang lebih menyakitkan lagi.
Sang Puteri Ayu Lenggik Linggamanik memilih minggat meninggalkan negeri.
Inilah awal petaka sang Prabu.
Cinta terlalu besar terlalu mengharu biru.
Menghapalkan ajian sampai masuk ke relung-relung kalbu.
Namun sang puteri hanya membawa petaka pencipta pilu.

Nestapa pun menggema.
Kerajaan tak lagi punya daya.
Semua karena rasa yang sudah tercipta.
Di hati sang prabu bagi si jelita.

Sampai titik yang paling tinggi.
Sang prabu sudah tak tahan mengawal hati.
Batin tercekik oleh hasrat diri.
Berujung kehilangan segala untuk waktu yang abadi.
*


 Syair jilid 9
Akulah Purbawisesa.
Patih segala patih yang sesungguhnya mencinta raja.
Membela kedigdayaan raja dan patuh segala titahnya.
Namun telah gagal membuat raja bahagia dengan cinta.

Akulah Purbawisesa.
Patih segala patih yang telah salah menerapkan mantra semesta.
Hingga berakhir petaka raja.
Sesungguhnya akulah sumber dari segala kekalahannya.

Jampi susuk gelung namanya.
Harusnya ditujukan bagi si jelita dengan memasukkan ajian ke gambarnya.
Agar terbuka hatinya untuk sang raja.
Dan siap menjadi pendamping hingga akhir hayatnya.

Sayangnya aku Purbawisesa.
Telah mengajarkan membaca ajian sambil menatap gambar si jelita.
Yang membuat sang prabu tak sanggup menata jiwa dan raganya.
Si jelita membuat seluruh hidup sang prabu merana.

Akulah Purbawisesa.
Patih yang telah menerapkan ajian dengan salah luar biasa.
Seharusnya Linggamanik yang menerimanya.
Tapi salah menerapkannya.

Akulah Purbawisesa.
Bersalah seumur hidupnya.
Melangkah gagal dalam urusan asmara.
Ternyata asmara lebih rumit dari perang di medan laga.

Kematian sang prabu itu.
Mengejar-ngejar kesalahanku.
Menunjuki bahwa sebabnya adalah aku.
Membuat nestapaku kian membiru.

Aku telah salah mengira.
Menerapkan urusan cinta bagi sang raja.
Seperti taktik perang di medan laga.
Hanya jago tebas pada musuh di depan mata.

Seharusnya cinta mengajariku.
Karena cinta berurusan dengan kalbu.
Dengan jiwa dan kecemerlangan batin yang tentu.
Bukan taktik perang meski sehebat taktik Sun Tzu.

Baiklah wahai sang jagat.
Segala nestapa menjadi lumat.
Oleh karena nestapa ini yang maha hebat.
Menyalahkanku sampai kiamat... 

Aku berjanji pada waktu.
Menyampaikan semua tentang kehilafanku.
Pada dinding-dinding bukit dan batu-batu.
Sebagai catatan sejarah masa lalu...


[1] Konon, nama Nyi Roro Kidul.
Raja Kerajaan Mandalawangi, konon sudah berumur, namun belum memiliki permaisuri. Inilah yang membuat Sang Patih terketuk hatinya untuk berjuang mendapatkan seorang gadis cantik untuk Sang Raja. Raja yang disebut konon bernama Prabu Sri Nalendra Waregasakti, raja dari Kerajaan Mandalawangi yang terkenal adem, ayem, tentram, repeh, rapih, kerta raharja...(kisah kira-kira abad ke-16)