Cerpen Iis W. Kartadinata
“Selamat, Bu! Anda mendapat gelar guru favorit tahun
ini!”
“Terima kasih, terima kasih.”
Puluhan pasang tangan meraihku. Puluhan pasang mata
menyerbuku. Orang-orang merangkulku. Luar biasa. Dua bingkisan berukuran kecil
dan sedang terhampar di hadapanku. Aku tahu isinya. Karena meskipun itu rahasia sekolah, tapi para guru sudah
mendapat bocoran. Kalau bukan blackberry tipe terbaru, pasti kamera digital
yang harganya paling mahal. Sedangkan bingkisan
yang lain, sudah tentu laptop dengan spek paling mutakhir.
“Hadiah
ini akan sangat bermanfaat bagi pekerjaan Bu Lis, juga hobi Bu Lis.” Bisik bu Non, kepala sekolah ini, “Semoga tetap menjadi
guru profesional!”
Tentu saja. Sudah pasti aku akan mencetak diriku menjadi
guru profesional. Kutatap bingkisan-bingkisan itu. Senyumku mengembang
sempurna. Inilah mungkin wajah tercantikku yang bisa kupersembahkan pada waktu.
Karena saat seperti ini menjadi salah satu bagian yang kutunggu dalam karirku
sebagai guru. Tidak hanya hadiahnya. Tapi juga kepercayaan anak-anak dalam
polling pemilihan guru terbaik yang digelar setiap tahun.
“Selamat pagi, Bu Lis…” seorang anak laki-laki muncul
mengagetkanku. Wajahnya cerah. Ahmad Alaydrus, salah satu muridku. Wangi parfum
meruap. Bergamot menyegarkan hidung dan melengkapi wangi ruanganku. Pakaiannya
dimasukkan ke celana yang tersetrika rapi. Gesper warna hitam.
“Oya, selamat pagi, Sayang. Ada apa?”
“Bu, mumpung belum bel, boleh saya konsultasi dengan Ibu
soal persiapan presentasi kelompok kami nanti siang?”
“Boleh, tentang apa ya?”
“Saya kuatir teman-teman bertanya tentang proses kreatif
yang dilakukan Umar Kayam. Boleh kami buka laptop? Kami punya data tentang
kreativitas beliau melalui rekaman seminar dulu sewaktu beliau masih hidup.”
“Wah, bagus itu. Dari mana datanya?”
“Dari kakak saya yang dulu kuliah di UGM.”
“Lho, itu kan bisa jadi bagian dalam presentasi nanti?”
“Iya, sih Bu. Cuma, data yang ini adalah data lain yang
tidak kami laporkan pada makalah kami. Juga
data ini kami buat tidak dalam format power point. Tapi flash.”
“O
itu. Sepertinya tidak masalah ya.
Yang penting kalian bisa menggali sedalam-dalamnya informasi tentang penulis
novel di Indonesia. Tapi awas, tidak kopi peist… (copy-paste). Kalian gali
informasi dari buku-buku atau internet, tapi tentu saja itu hanya pelengkap
data saja. Ok?”
“Sip, Bu, terima kasih ya.”
“Sama-sama.”
Ahmad Alaydrus berlalu ke luar. Aku mengangkat tubuh. Menarik nafas panjang. Sisa bergamotnya masih terasa.
Segar di kepala. Ahmad hanya salah satu muridku dari ratusan murid dengan
kondisi yang tentu sama. Selain ganteng, dia taat, rajin, cerdas, bersih, dan
menyenangkan. Gambaran tipe ideal seorang anak SMA. Aku menyebut mereka
generasi harapan bangsa. Lihat saja karya-karya di ruang bahasa ini. Seluruh
karya menggambarkan keluasan berpikir seorang pewaris negeri. Tumpukan makalah
yang isinya berbobot. Karya-karya berupa kumpulan cerpen dan puisi yang pantas
diterbitkan. Bahkan novel siswa yang tidak kalah bagus dari karya seorang
novelis muda terkenal. Deretan portofolio dengan karya-karya bermutu. Arsip
majalah sekolah dengan sajian cover menarik dan rubrikasi yang lengkap.
Termasuk arsip majalah dinding dengan isi dan penataan yang luar biasa.
Siswa-siswaku memang mengagumkan!
Lalu aku berkeliling meneliti seluruh ruangan yang
berukuran delapan kali tujuh meter ini. Pak Haekal belum muncul setelah tadi
pagi dipanggil oleh bu Non untuk persiapan olimpiade sastra. Kami adalah dua
guru sastra dari empat guru bahasa dan sastra di sekolah ini. Hanya, untuk
ruangan bahasa yang ini cukup aku dan pak Haekal yang memegangnya. Ruangan moving yang lain dipegang oleh dua guru bahasa
berbeda.
Ruangan ini tertata rapi. Dari arah pintu mataku langsung
bersitatap dengan lemari kaca yang berisi dokumen-dokumen sastra. Seperti
penghargaan untuk siswa, dan sampel buku-buku sastra lama. Di sebelahnya
berdiri loker-loker berisi karya-karya siswa. Seperti makalah-makalah, arsip
majalah sekolah, naskah-naskah puisi dan cerpen yang dijilid rapi, juga naskah
novel. Sementara pada bagian dinding di atasnya berderet foto-foto sastrawan,
termasuk cerpenis, novelis, penulis drama, dan penyair. Setelah mataku tertuju
pada deretan bangku dan meja yang berjumlah dua puluh lima pasang, barulah aku
tersadar. Aku belum mengecek kembali data internet yang ku-down load semalam. Tentu saja sudah kuubah ke dalam format power
point. Tinggal menambah sedikit data dari buku terbitan MLC, salah satu lini
Mizan. Lalu kubuka laptop lamaku, yang sudah agak loyo. (Oya, aku kini
mempunyai dua laptop disamping laptop hadiah itu. Hanya yang baru aku belum
begitu faham karena semua programnya belum kupelajari).
Sebelum ku-klik eksplore, aku cek Ben-Q yang menggantung permanen di langit-langit. Ternyata sudah
menyala. Dengan demikian aku tinggal memijit remote untuk menjalankan program.
Lalu kuhubungkan kabel LCD tersebut untuk terhubung ke laptopku. Langsung layar yang menempel di dinding, yang bersisian
dengan papan tulis berwarna putih itu menyala. Aku menarik nafas panjang. Tanpa kuklik lagi grafik option, out put, notebook, seperti sebelumnya
agar program yang kusiapkan muncul di layar. Semua sudah diatur otomatis. Betapa idealnya mengajar
dalam situasi seperti ini. Sekarang saatnya mengambil buku Andaikan Buku itu Sepotong Pizza, karangan Hernowo yang menjadi
salah satu koleksi perpustakaan ruang kelas sastra ini. Dia ikut tertata rapi
dengan koleksi buku yang lain di lemari pada bagian belakang meja dan kursi.
Tempat yang nyaman, karena di sini tergelar karpet warna coklat dengan tiga
bantal besar bermotif abstrak. Di bagian dindingnya yang memanjang hingga
dinding yang berseberangan dengan lemari kaca dan loker-loker, pajangan display
dengan warna-warna mencolok cukup menyemarakkan suasana. Berisi karya-karya
siswa pula. Aku mengambilnya. Lalu mulai
bekerja. Tak lama kemudian
muncul pak Haekal.
“Pagi Bu Guru,” sapanya, wajahnya tampak sumringah. Lalu
menghampiri salah satu meja yang berseberangan di sebelah kanan. Meja kerjaku
di sebelah kiri.
“Wah, wajah Pak Haekal cerah pagi ini. Ada kabar baik
rupanya?”
“Alhamdulillah, Bu. Kabar baik. Oya Bu, saya baru dengar kabar,
tunjangan guru akan dinaikkan lagi!”
“Apa? Sepagi ini sudah ada kabar bagus begitu?”
“Ya, sudah semestinya Bu. Profesionalitas kita dituntut.
Ya, sudah sepantasnyalah mendapat penghargaan serupa begitu dari pemerintah.
Lagipula, semua yang kita lakukan kan, perlu dana… lihat Bu, hasil jepretan
saya ketika field-trip ke arsip nasional dan pusat dokumentasi H.B. Jassin
kemarin. Bagus sekali. Pasti masih kalah dengan kamera Ibu yang baru.”
“Wah, pak Haekal ini. Saya kan belum beli kamera lagi,” tanganku masih mengutak-atik
tuts-tuts keyboard di laptop.
“Lho,
lalu hadiah kemarin apa selain laptop, Bu?”
“Blackberry,
Pak.”
“Gila!
Beruntung sekali Anda, Nona! Wah-wah wah, tahun depan saya harus bersekutu
dengan siswa agar jadi guru favorit versi mereka juga.”
“Ngga
perlu bersekutu, Pak.”
“Terus apa? Dengan serangan fajar?”
Aku tertawa, “Mana mau mereka uang kita, Pak. Pemerintah
dan sekolah sudah cukup kaya untuk membiayai mereka.”
Pak Haekal pun tertawa, “Padahal saya sudah bertahajud
tiap malam…”
Aku tertawa. Tapi
tawa kami mendadak terhenti ketika pintu diketuk dan langsung terbuka. Lalu
pak Sarip, seorang office boy,
melongokkan kepalanya, “Assalamualaikum, Bu, Pak. AC-nya aman?”
Aku
mengangguk. Sementara pak Haekal menjentikkan ibu jarinya, “Sip.”
Lalu
pak Sarip berlalu sambil menyisakan senyuman. Tak lama kemudian ketukan kembali
muncul. Setelah pintu terbuka berhamburanlah siswa-siswa masuk. Aku baru sadar.
Ini moving yang pertama. Sebelas IPA
tiga. Dengan materi presentasi makalah mereka!
“Assalamualaikum,
Selamat pagi Pak, Bu!”
“Pagi anak-anakku, apa kabar kalian?”
Senyum para siswa mengembang. Tak ada gambaran kesulitan
di wajah mereka. Termasuk perihal uang sekolah, uang jajan. Apalagi sekolah
sudah gratis. Apa lagi?
Kami memulai belajar dengan doa.
“Anak-anak, pagi ini, pak Haekal akan membantu ibu
menjadi juri presentasi kalian! Kalian setuju?” suaraku renyah diakhiri
senyuman.
“Baik, Bu……” mereka serempak. Bahkan diantaranya ada yang
mengangkat jempol mereka.
Jam empat aku baru bangkit untuk waktu ashar. Kulirik di
meja, santapan snack time yang terhidang pukul sembilan pagi tadi masih bersisa
sepotong roti. Termasuk jintan hitam yang selalu disiapkan sekolah secara
gratis. Lalu kulahap habis, termasuk jintannya. Setelah itu aku bangkit. Kuklik
remote AC. Ruangan itu kutinggalkan.
Kuhirup udara luar dengan segar. Lingkungan sekolah ini
begitu asri. Semburat warna tembaga di sebelah barat berpuisi di balik
deretan pohon palem. Diseringai alunan musik klasik yang meresap hingga hamparan rumput hijau. Musik itu keluar
dari speaker yang terpasang di tiap penjuru gedung sekolah. Udara serupa remaja
yang sedang jatuh cinta. Hangat dan segar.
Sekolah ini terletak di pinggir utara kota Bandung.
Sesuai dengan kontur tanah yang dimiliki khas dinding-dinding bumi Bandung,
sekolah ini juga memperlihatkan struktur tanah yang berundak-undak. Tempat ini
sangat sarat bagi anak didik yang mendamba kenyamanan dalam belajar. Aku bangga bisa mengajar di tempat ini.
Sekolah ini menampung siswa-siswinya dalam kelengkapan sarana pembelajaran. Pertama, gedung administrasi dua lantai
bersatu dengan aula yang terletak pada bagian muka. Kemudian di belakangnya
berdiri tiga lantai dengan ruang-ruang kelas moving yang lengkap. Berdampingan dengan lapangan basket dan futsal.
Setelahnya berdiri gedung yang berisi perpustakaan dengan koleksi buku super
lengkap. Termasuk ruang audio visual dan beberapa ruang laboratorium. Mulai
laboratorium IPA, bahasa, dan komputer. Sementara pada sisi sebelah kanan,
berhimpitan dengan lapangan basket terbentang lapangan rumput yang dipagari
deretan pohon palem raja yang berselangan dengan pohon kersen yang merindang. Tumbuh juga pada tiga sudut pohon lengkeng yang selalu
ditunggu buahnya. Pada sisi sebelah kiri berdiri megah mesjid berarsitektur
Kudus. Di sampingnya gedung kreativitas siswa, tempat di mana siswa berkreasi,
mulai teater, musik, redaktur majalah, OSIS, dll. Tempat ini bersebrangan dengan
kantin yang sangat luas dan terbuka, serta toko koperasi. Di antara gedung
asrama dengan ujung kantin ada jalan yang menghubungkan satu gedung yang lain.
Tiada lain gedung yang di dalamnya terdapat kolam renang tertutup. Dilengkapi tempat olah raga dan fitness. Satu
hal lagi yang istimewa, jaringan hotspot telah menyebar ke seluruh area
sekolah, di mana pun sudutnya. Menyenangkan bukan?
Tidak hanya itu, kerja keras
guru di sekolah ini diapresiasi dengan berbagai macam tunjangan. Tentu saja
gaji dan tunjangan pemerintah yang sangat menjanjikan.
Di sini aku bisa menuangkan
segenap kemampuan, ilmu, dan segala kreativitasku dalam membimbing anak-anak.
Berbekal pengetahuan lewat buku-buku pengembangan diri sebagai guru. Termasuk
berbagai macam pelatihan belajar aktif dan lain-lainnya mulai tingkat lokal,
nasional, bahkan internasional. Seperti buku Revolusi Cara Belajar karangan Dryden dan Vos, Quantum Learning
dan Quantum Teaching. Dua buah buku penting pembelajaran yang ditulis oleh seorang perempuan kelahiran Seatle, Amerika, Bobbi
DePorter. Juga mantan guru yang pengacara, Mike Hernacki, serta Sarah Singer
Nourie. Meskipun itu buku-buku lama, tapi tetap berlaku sebagai kunci untuk
membuka pintu dalam kegiatan belajar mengajar.
Ada juga buku-buku yang lain, seperti The Accelerated Learning,
Multipele Intelegences alias kecerdasan majemuk, buku Sekolah Para Juara,
dan lain-lain. Termasuk pula buku-buku penting yang khusus berkenaan dengan
materi Bahasa Indonesia. Mulai buku pengarang lokal hingga buku luar. Buku-buku
itu kerap menyuruh pembacanya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Buku-buku yang meminta mempraktikkan segala jenis pembelajaran sastra, baik
membaca, menyimak, berbicara dan menulis. Hingga
semua tidak berada dalam tataran teori. Untunglah fasilitas dan dana di sekolah
ini sangat mendukung semua guru untuk melakukan itu. Bahkan memanfaatkan
belajar dengan program E-learning.
Buku Kecerdasan Emosional atau Emotional Intelligence milik Daniel
Goleman, seorang lulusan Harvard dengan gelar Ph.D.-nya juga memberiku
semangat. Karena dengan
memompa kecerdasan emosi, apa pun cara belajar bisa diikuti.
Aku memasuki ruang guru yang mulai sepi. Segera
aroma lemon dan hawa dingin air conditioner menyergapku. Di sana hanya mengambil jaket sebagai pelengkap
perangkatku pulang dengan menggunakan sepeda motor.
“Bu, sebentar.”
Aku menoleh. Sosok pak Dahlan, kepala tata usaha
mengagetkanku, “Bu, sudah mengisi pengajuan untuk alat tulis kantor?”
Aku baru ingat, “Oya, Pak. Catatannya saya simpan di laci meja. Perlu sekarang?”
“Besok pagi tidak apa-apa. Pak Sanen baru belanja besok
siang, saya baru mendatanya besok pagi.”
“Baiklah kalau begitu. Saya pamit, Pak. Assalamualaikum.”
Pak Dahlan mengangguk. “Waalaikum salam.”
Aku berlalu menuju tempat parkir. Tinggal beberapa buah sepeda motor pegawai tata usaha
yang terparkir. Sisanya dua buah
Kijang mirip pak Dahlan dan bu Non. Berarti
hanya aku, guru yang masih berada di sekolah ini. Lalu aku membenahi penampilanku menjadi seperti pembalap.
Kunaiki motor dengan pasti. Kuputar kunci kontak. Bunyi mesinnya yang lembut
mengisyaratkan aku untuk segera meninggalkan tempat itu. Lalu kuputar gas. Dan byerrrrrrr, kusibak jalanan aspal
diantar mentari sore yang merah tembaga.
.................
“Bu Lis!”
“Aku tersentak.”
“Ada apa?”
“Bangun, Bu. Bangun. Istigfar.”
Lalu seseorang mendekatkan gelas ke mulutku. Kuhirup aroma teh manis
hangat. Lalu mereguknya sedikit. Badanku mulai normal. Penglihatanku yang
awalnya gelap perlahan memudar. Bayang-bayang manusia mulai kelihatan.
“Syukurlah sekarang Bu Lis sudah sadar.” Seseorang juga memijiti kakiku.
“Memangnya saya kenapa, Bu?” suaraku lemas.
“Bu Lis baru saja pingsan.”
Aku kebingungan. Lalu gambaran pengalamanku yang tadi kembali terhampar.
Aku tersentak. Itu semua bukan kenyataan? Jadi? Ketika itu pula air mataku
meleleh.
“Tenang Bu Lis, tenang. Istigfar.”
Sekarang aku menangis. Orang-orang di sekelilingku mulai kebingungan. Yang
memijiti kakiku makin kuat saja hingga ke lengan-lengan.
Aku bangkit. Tapi mendadak gerakku terhenti. Seluruh
persendianku ngilu, “Kenapa saya?”
“Tadi Ibu jatuh, terpeleset di kamar mandi. Ngelamun ya?”
Aku terhenyak. Kutatap pak Sarip yang tengah menguruti
pergelangan kakiku. Pakaiannya kemeja lusuh kota-kotak kuning, bukan biru
seperti sebelum ini. Aroma minyak tawon meruap. Bukan bergamot milik muridku atau wangi lemon yang menyegarkan.
“Tenang ya, tadi bu Lis
jatuh. Untung saya lewat ke depan WC. Maklum, keramik tua,” ujar pak Sarip.
Aku meringis. Kutatap sekeliling, atap langit-langit
ruang guru yang warnanya sudah putih gading. Tidak terasa lagi aroma lemon dan
dingin AC. Semua kembali ke alamku yang yang asli. Beberapa rekan guru
memperhatikanku resah. Ada juga siswa yang mengintip dari jauh. Seragam
putihnya sudah berwarna gading. Benar-benar
tidak ada aroma bergamot seperti
milik Ahmad Alaydrus.
“Hampir satu jam bu Lis pingsan.”
“Jadi…?”
“Jadinya Cuma Bu Lis yang belum tanda tangan.”
“Tanda tangan apa?”
“Yang jelas bukan tanda tangan gaji…”
Entah mengapa semua tertawa.
“Tanda tangan apa, Pak Sarip?”
“Saya tidak tahu, Bu Lis,” dia malah terkekeh.
“Kesiapan demonstrasi besok.”
Aku terperangah. Pikiranku kembali tertata. Ingin rasanya
menjerit, lalu kembali ke alamku yang tadi. Meskipun aku harus pingsan lagi.
Atau bahkan tidak bangun lagi sama sekali. Karena alam yang kujalani tadi
adalah angan hidupku sebagai seorang guru.
Wajah bu Irma, sahabatku malah bengong, “Kamu tidak lupa
kan?”
Aku menggeleng. Kuperoleh kertas yang siap dicetak ablón.
Tulisannya menamparku keras sekali…
……..PERHATIKAN NASIB KAMI, PARA GURU HONOR……..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar