Jumat, 31 Agustus 2018

Membaca Peradaban dalam Film


 Iis Wiati Kartadinata


Jumat, 31 Maret 2017, saya menonton sebuah film di bioskop di Kota Bogor. Judulnya Beauty and The Beast. Sebenarnya ini bukan fim baru. Tapi produsen film  yang dipimpin oleh David Hobermen dan Todd Lieberman merilisnya kembali dengan sajian yang amat keren. Walt Disney Pictures menyajikan kembali sebuah tontonan yang amat fantastis. Film ini dibintangi oleh Emma Watson sebagai Belle, Dan Steven  (Beast), Luke Evans, Kevin Kline, Josh Gad, Ewan McGregor, dan lain-lain. Film yang disutradarai oleh Bill Condon ini begitu memukau. Seperti biasa, Walt Disney Picture,  penyedia film fantasi ini, menyuguhkan teknik animasi yang luar biasa. Sekalipun orang sudah faham dengan alurnya dan sudah menonton kisah ini sebelumnya, tidak berarti Beauty and The Beast edisi 2017 akan kekurangan penonton karena kebosanan.
Tapi sesungguhnya bukan ini yang menjadi tujuan penulis. Masalahnya bukan pada bagaimana canggihnya teknik fotografi, tim artistik dan wardrobe yang menampilkan fairy tale khas pada film Beauty and The Beast. Namun sesuatu yang mengagetkan penulis ketika baru saja kira-kira lima belas menit film itu berlangsung.
Mengenai isi cerita, hampir semua orang faham film ini. Yaitu tentang seorang gadis cantik yang saling jatuh cinta dengan seekor mahluk buruk jelmaan pangeran tampan. Namun ada sesuatu yang luar biasa di balik itu. Belle, dalam bahasa Perancis artinya cantik adalah seorang gadis yang dianggap unik, istimewa, dan berbeda dari gadis-gadis yang ada di desanya. Kenapa istimewa? Dia bukan gadis yang setiap hari berdandan lalu menggoda pemuda tampan. Dia juga bukan gadis yang berkumpul di tempat cuci baju sambil menggunjingkan orang lain. Tapi Belle punya keistimewaan karena memiliki kecerdasan dan keinginan untuk menjadi manusia yang istimewa. Mengapa dia tumbuh menjadi gadis seperti itu? Bahkan dia menolak uluran cinta seorang pemuda paling gagah dan tampan (Gaston, diperankan oleh Luke Evans) yang merupakan pujaan gadis-gadis di kampungnya. Perbedaan itu ternyata karena satu hobinya yang berbeda dengan gadis lain. Hobi Belle yaitu membaca buku! (Bahkan ternyata membaca buku juga hobi Emma Watson dalam kehidupan nyata).
Film ini bergenre romantis, fantasi dan musikal. Menurut saya, Evan Spiliotopoulos sebagai salah satu penulis skenario Beauty and The Beast entah sadar atau tidak sadar telah menyisipkan sisi edukatif ke dalam skenarionya. Bisa juga, ya karena kesadaran akan tulisan dan buku memang sudah tumbuh sejak abad yang sangat jauh di negeri tempatnya/setting film ini. Sehingga otomatis saja penulis skenario memunculkan kebiasaan ini dalam filmnya tanpa tujuan tertentu, misalnya khusus mengajarkan pentingnya membaca. Penulis skenario tidak mengajarkan itu tapi mempertontonkan sebuah peradaban yang sudah ada pada waktu itu.
Tak hanya itu, adegan yang menampilkan makna serupa juga muncul pada bagian cerita berikutnya. Ketika itu Belle, sang gadis yang cinta buku ini, disodorkan pada sebuah perpustakaan di kerajaan sang mahluk buruk (Beast) itu. Buku dengan ribuan jumlahnya tertata rapi hingga keseluruhan dinding ruang baca istana, dengan lemari yang luar biasa tingginya. Belle bukan sekedar terkagum-kagum. Tapi juga memperlihatkan sebuah euforia di wajahnya. Melihat ribuan baris buku seakan-akan matanya mengatakan bahwa dia telah menemukan sebuah surga! Film yang benar-benar keren. Bahkan penulis terkesan ketika penonton disodorkan pada beberapa adegan ketika Belle dan Beast membaca buku, bahkan beberapa kali di sebuah taman bersalju. Ada sebersit pertanyaan. Mengapa membaca buku? Mengapa tidak melakukan hal yang lain? Itulah wajah Perancis pada waktu itu yang diwakili oleh adegan-adegan dalam film Beauty and The Beast.
Film adalah refleksi dari kehidupan nyata. Film ini memiliki setting kira-kira abad pertengahan. Namun penulis skenario mewujudkan sebuah keadaan yang tidak sengaja mengarah pada sisi edukasi yang luar biasa. Di negeri sana, ini hal yang sangat biasa. Tapi bagi penulis yang menonton film ini, ini sungguh luar biasa. Bisa saja keistimewaan seorang gadis (Belle) ini karena misalnya jago memasak, atau pemberani, atau hal lain yang umum pada seeorang gadis. Tapi di Perancis, maka buku menjadi jawabannya.
Lupakan, tentang gaya bicara Belle yang tidak menunjukkan bahwa dia gadis Perancis. Bagi penulis, film ini adalah tetap film musikal yang berisi dan juga sangat indah.
Peradaban dalam bahasa Inggrisnya disebut civilization. Menurut berbagai sumber, jika disimpulkan, peradaban adalah suatu bagian dari kebudayaan yang tinggi, halus, indah, dan maju. Arnold Toynbee, dalam bukunya menyatakan bahwa peradaban adalah suatu kebudayaan yang sudah mencapai taraf perkembangan teknologi yang lebih tinggi, seluruh hasil budi daya manusia, yang mencakup kepada seluruh aspek kehidupan manusia, baik fisik (misalnya bangunan, jalan), ataupun nonfisik (nilai-nilai, tatanan, seni budaya, ataupun iptek).
Merujuk pada pengertian-pengertian tersebut, penulis berpikir bahwa muara dari peradaban adalah ilmu pengetahuan. Dan segala sumber dari ilmu pengetahuan adalah buku. Hal ini berarti bahwa, jika sebuah negeri disebut beradab, maka mau tidak mau, buku menjadi bagian dari negeri tersebut. Berkaitan dengan film Beauty and The Beast, Peradaban di negeri Perancis sudah terlihat sejak abad pertengahan. Sesuai dengan setting waktu di film itu.
Film adalah refleksi dari kehidupan nyata. Lalu bagaimana dengan negeri ini? Nampaknya masih jarang film-film yang menyuguhkan pemandangan seperti itu. Apakah karena negeri ini masih merangkak menuju sebuah peradaban? Bahkan ketika penulis disodorkan pada tokoh kutu buku dalam cerita-cerita versi Indonesia, mereka jarang diperlihatkan dengan tokoh yang cantik, ganteng, dan keren. Tapi mereka berkaca mata tebal, bahkan terkadang menjadi bahan cemoohan teman-temannya.  Paling tidak untuk beberapa cerita yang sempat saya tonton dalam bentuk sinetron. Karena memang tidak semua begitu. Di era tahun 80-an, ketika film yang dibintangi Rano Karno muda dan Yessie Gusman sedang berjaya, pengarang Edi D. Iskandar masih menawarkan gagasan tokoh utama yang rajin belajar (membaca), dengan sosok yang tampan dan menjadi pujaan. Misalnya dalam film Gita Cinta dari SMA, begitu pun dengan film Roman Picisan. Atau film Usia 18 yang dibintangi oleh Dian Hasry juga memperlihatkan kisah pemuda tampan yang rajin belajar. Namun nampaknya baru sampai di situ. Berikutnya sineas Indonesia banyak menghasilkan karya-karya yang bernuansa percintaan dengan musik dan jagoan di dalamnya (film-film Rhoma irama), atau film silat, dan film-film Warkop yang selalu box office pada tahun 80-an. Lalu muncul era Lupus karya Hilman Hariwijaya yang menampilkan kisah kelucuan anak sekolah, meski dengan tokoh yang baik hati dan sederhana. Berikutnya era Si Boy, pemuda tampan nan kaya serta baik hati juga pintar. Tapi tetap sisi kebiasaan membaca tokoh belum dimunculkan.
Bukan berarti film-film Indonesia kurang menyuguhkan hal itu. Masih ada film-film yang menawarkan sebuah janji kemajuan bagi bangsa ini. Sebut saja film Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Film yang menceritakan perjuangan enam orang santri ini begitu menginspirasi penonton untuk mengejar mimpi di masa depan, dengan kerja keras dan bersungguh-sungguh. Ada juga film Mimpi Sejuta Dollar yang menginspirasi dari kehidupan nyata Merry Riana yang berjuang dari nol hingga mencapai kesuksesan. Lalu ada 5 CM karya Doni Dhirgantoro yang menawarkan sebuah gagasan menumbuhkan rasa nasionalisme dan persahabatan. Film yang pernah fenomenal juga tak pernah kita lupa, yaitu Laskar Pelangi. Tentang semangat kerja keras anak-anak Belitong untuk mendapatkan pendidikan. Atau banyak film lain yang menginspirasi. Misalnya Surat Kecil untuk Tuhan, Sabtu Bersama Bapak, Sang Pencerah, Athirah, dan lain-lain. Terlalu banyak jika disebutkan satu-persatu. Namun sekali lagi, film yang khusus menyentuh kegiatan membaca masih bisa dihitung dengan jari. Sebut saja film Gie, atau Ada Apa dengan Cinta 1 yang menawarkan penonton muda pada apresiasi sastra. Atau Habibie- Ainun yang secara tidak langsung memperlihatkan semangat kerja keras Habibie muda dengan membaca buku. Jika ada film yang nampaknya mengarah pada kegiatan membaca, sebut saja judul film Iqro (garapan Salman Film Academy) yang telah tayang Januari lalu, bukan dikhususkan ke membaca buku secara mum, namun membaca Al-Quran yang wajib bagi penganut Islam.
Demikianlah, penulis menunggu adanya film yang inspiratif dalam kegiatan membaca, terutama bagi anak-anak sekolah. Misalnya saja kisah Adam Malik yang rajin membaca sejak kecil, Hatta yang begitu kentalnya dengan buku meskipun di dalam penjara, atau Gus Dur yang sejak usia belasan sudah melek sastra asing. Begitu banyak tokoh kita sejak dulu. W.R. Soepratman belum tentu menciptakan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” jika sebelumnya tidak membaca pengumuman tentang sayembara menulis lagu. Begitu pun HAMKA, Tan Malaka,  Ajip Rosidi, Taufik Ismail, Chairil Tanjung, dan banyak sekali tokoh lainnya.


Jika tak bisa dari tokoh besar, banyak sekali tokoh kecil yang bisa diangkat. Seperti halnya Belle dalam Beauty and The Beast. Dia hanya gadis desa dengan cita-cita menjadi manusia yang bisa berpikir bebas!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar