Iis Wiati Kartadinata
Jumat, 31 Maret 2017, saya menonton sebuah film di bioskop di Kota Bogor. Judulnya Beauty and The Beast. Sebenarnya ini bukan fim baru. Tapi produsen film yang dipimpin oleh David Hobermen dan Todd Lieberman merilisnya kembali dengan sajian yang amat keren. Walt Disney Pictures menyajikan kembali sebuah tontonan yang amat fantastis. Film ini dibintangi oleh Emma Watson sebagai Belle, Dan Steven (Beast), Luke Evans, Kevin Kline, Josh Gad, Ewan McGregor, dan lain-lain. Film yang disutradarai oleh Bill Condon ini begitu memukau. Seperti biasa, Walt Disney Picture, penyedia film fantasi ini, menyuguhkan teknik animasi yang luar biasa. Sekalipun orang sudah faham dengan alurnya dan sudah menonton kisah ini sebelumnya, tidak berarti Beauty and The Beast edisi 2017 akan kekurangan penonton karena kebosanan.
Tapi
sesungguhnya bukan ini yang menjadi tujuan penulis. Masalahnya bukan pada
bagaimana canggihnya teknik fotografi, tim artistik dan wardrobe yang menampilkan fairy
tale khas pada film Beauty and The
Beast. Namun sesuatu yang mengagetkan penulis ketika baru saja kira-kira lima
belas menit film itu berlangsung.
Mengenai
isi cerita, hampir semua orang faham film ini. Yaitu tentang seorang gadis
cantik yang saling jatuh cinta dengan seekor mahluk buruk jelmaan pangeran
tampan. Namun ada sesuatu yang luar biasa di balik itu. Belle, dalam bahasa
Perancis artinya cantik adalah seorang gadis yang dianggap unik, istimewa, dan
berbeda dari gadis-gadis yang ada di desanya. Kenapa istimewa? Dia bukan gadis
yang setiap hari berdandan lalu menggoda pemuda tampan. Dia juga bukan gadis
yang berkumpul di tempat cuci baju sambil menggunjingkan orang lain. Tapi Belle
punya keistimewaan karena memiliki kecerdasan dan keinginan untuk menjadi
manusia yang istimewa. Mengapa dia tumbuh menjadi gadis seperti itu? Bahkan dia
menolak uluran cinta seorang pemuda paling gagah dan tampan (Gaston, diperankan
oleh Luke Evans) yang merupakan pujaan gadis-gadis di kampungnya. Perbedaan itu
ternyata karena satu hobinya yang berbeda dengan gadis lain. Hobi Belle yaitu
membaca buku! (Bahkan ternyata membaca buku juga hobi Emma Watson dalam
kehidupan nyata).
Film
ini bergenre romantis, fantasi dan musikal. Menurut saya, Evan Spiliotopoulos sebagai salah
satu penulis skenario Beauty and The
Beast entah sadar atau tidak sadar telah menyisipkan sisi edukatif ke dalam
skenarionya. Bisa juga, ya karena kesadaran akan tulisan dan buku memang sudah
tumbuh sejak abad yang sangat jauh di negeri tempatnya/setting film ini.
Sehingga otomatis saja penulis skenario memunculkan kebiasaan ini dalam filmnya
tanpa tujuan tertentu, misalnya khusus mengajarkan pentingnya membaca. Penulis
skenario tidak mengajarkan itu tapi mempertontonkan sebuah peradaban yang sudah
ada pada waktu itu.
Tak
hanya itu, adegan yang menampilkan makna serupa juga muncul pada bagian cerita
berikutnya. Ketika itu Belle, sang gadis yang cinta buku ini, disodorkan pada
sebuah perpustakaan di kerajaan sang mahluk buruk (Beast) itu. Buku dengan ribuan jumlahnya tertata rapi hingga
keseluruhan dinding ruang baca istana, dengan lemari yang luar biasa tingginya.
Belle bukan sekedar terkagum-kagum. Tapi juga memperlihatkan sebuah euforia di
wajahnya. Melihat ribuan baris buku seakan-akan matanya mengatakan bahwa dia
telah menemukan sebuah surga! Film yang benar-benar keren. Bahkan penulis terkesan
ketika penonton disodorkan pada beberapa adegan ketika Belle dan Beast membaca
buku, bahkan beberapa kali di sebuah taman bersalju. Ada sebersit pertanyaan.
Mengapa membaca buku? Mengapa tidak melakukan hal yang lain? Itulah wajah
Perancis pada waktu itu yang diwakili oleh adegan-adegan dalam film Beauty and The Beast.
Film
adalah refleksi dari kehidupan nyata. Film ini memiliki setting kira-kira abad
pertengahan. Namun penulis skenario mewujudkan sebuah keadaan yang tidak
sengaja mengarah pada sisi edukasi yang luar biasa. Di negeri sana, ini hal
yang sangat biasa. Tapi bagi penulis yang menonton film ini, ini sungguh luar
biasa. Bisa saja keistimewaan seorang gadis (Belle) ini karena misalnya jago
memasak, atau pemberani, atau hal lain yang umum pada seeorang gadis. Tapi di Perancis,
maka buku menjadi jawabannya.
Lupakan,
tentang gaya bicara Belle yang tidak menunjukkan bahwa dia gadis Perancis. Bagi
penulis, film ini adalah tetap film musikal yang berisi dan juga sangat indah.
Peradaban
dalam bahasa Inggrisnya disebut civilization.
Menurut berbagai sumber, jika disimpulkan, peradaban adalah suatu bagian dari
kebudayaan yang tinggi, halus, indah, dan maju. Arnold Toynbee, dalam bukunya
menyatakan bahwa peradaban adalah suatu kebudayaan yang sudah mencapai taraf
perkembangan teknologi yang lebih tinggi, seluruh hasil budi daya manusia, yang
mencakup kepada seluruh aspek kehidupan manusia, baik fisik (misalnya bangunan,
jalan), ataupun nonfisik (nilai-nilai, tatanan, seni budaya, ataupun iptek).
Merujuk
pada pengertian-pengertian tersebut, penulis berpikir bahwa muara dari
peradaban adalah ilmu pengetahuan. Dan segala sumber dari ilmu pengetahuan
adalah buku. Hal ini berarti bahwa, jika sebuah negeri disebut beradab, maka
mau tidak mau, buku menjadi bagian dari negeri tersebut. Berkaitan dengan film Beauty and The Beast, Peradaban di
negeri Perancis sudah terlihat sejak abad pertengahan. Sesuai dengan setting
waktu di film itu.
Film
adalah refleksi dari kehidupan nyata. Lalu bagaimana dengan negeri ini?
Nampaknya masih jarang film-film yang menyuguhkan pemandangan seperti itu.
Apakah karena negeri ini masih merangkak menuju sebuah peradaban? Bahkan ketika
penulis disodorkan pada tokoh kutu buku dalam cerita-cerita versi Indonesia,
mereka jarang diperlihatkan dengan tokoh yang cantik, ganteng, dan keren. Tapi
mereka berkaca mata tebal, bahkan terkadang menjadi bahan cemoohan
teman-temannya. Paling tidak untuk
beberapa cerita yang sempat saya tonton dalam bentuk sinetron. Karena memang
tidak semua begitu. Di era tahun 80-an, ketika film yang dibintangi Rano Karno
muda dan Yessie Gusman sedang berjaya, pengarang Edi D. Iskandar masih
menawarkan gagasan tokoh utama yang rajin belajar (membaca), dengan sosok yang
tampan dan menjadi pujaan. Misalnya dalam film Gita Cinta dari SMA, begitu pun dengan film Roman Picisan. Atau film Usia
18 yang dibintangi oleh Dian Hasry juga memperlihatkan kisah pemuda tampan
yang rajin belajar. Namun nampaknya baru sampai di situ. Berikutnya sineas
Indonesia banyak menghasilkan karya-karya yang bernuansa percintaan dengan
musik dan jagoan di dalamnya (film-film Rhoma irama), atau film silat, dan
film-film Warkop yang selalu box office
pada tahun 80-an. Lalu muncul era Lupus
karya Hilman Hariwijaya yang menampilkan kisah kelucuan anak sekolah, meski
dengan tokoh yang baik hati dan sederhana. Berikutnya era Si Boy, pemuda tampan nan kaya serta baik hati juga pintar. Tapi
tetap sisi kebiasaan membaca tokoh belum dimunculkan.
Bukan
berarti film-film Indonesia kurang menyuguhkan hal itu. Masih ada film-film
yang menawarkan sebuah janji kemajuan bagi bangsa ini. Sebut saja film Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Film
yang menceritakan perjuangan enam orang santri ini begitu menginspirasi
penonton untuk mengejar mimpi di masa depan, dengan kerja keras dan
bersungguh-sungguh. Ada juga film Mimpi
Sejuta Dollar yang menginspirasi dari kehidupan nyata Merry Riana yang berjuang dari nol hingga mencapai kesuksesan. Lalu ada 5 CM karya Doni Dhirgantoro yang
menawarkan sebuah gagasan menumbuhkan rasa nasionalisme dan persahabatan. Film
yang pernah fenomenal juga tak pernah kita lupa, yaitu Laskar Pelangi. Tentang semangat kerja keras anak-anak Belitong
untuk mendapatkan pendidikan. Atau banyak film lain yang menginspirasi.
Misalnya Surat Kecil untuk Tuhan, Sabtu Bersama Bapak, Sang Pencerah, Athirah, dan lain-lain.
Terlalu banyak jika disebutkan satu-persatu. Namun sekali lagi, film yang
khusus menyentuh kegiatan membaca masih bisa dihitung dengan jari. Sebut saja film
Gie, atau Ada Apa dengan Cinta 1 yang menawarkan penonton muda pada apresiasi
sastra. Atau Habibie- Ainun yang
secara tidak langsung memperlihatkan semangat kerja keras Habibie muda dengan
membaca buku. Jika ada film yang nampaknya mengarah pada kegiatan membaca,
sebut saja judul film Iqro (garapan
Salman Film Academy) yang telah tayang Januari lalu, bukan dikhususkan ke
membaca buku secara mum, namun membaca Al-Quran yang wajib bagi penganut Islam.
Demikianlah, penulis menunggu adanya film yang inspiratif dalam
kegiatan membaca, terutama bagi anak-anak sekolah. Misalnya saja kisah Adam
Malik yang rajin membaca sejak kecil, Hatta yang begitu kentalnya dengan buku
meskipun di dalam penjara, atau Gus Dur yang sejak usia belasan sudah melek
sastra asing. Begitu banyak tokoh kita sejak dulu. W.R. Soepratman belum tentu
menciptakan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” jika sebelumnya tidak membaca
pengumuman tentang sayembara menulis lagu. Begitu pun HAMKA, Tan Malaka, Ajip Rosidi, Taufik Ismail, Chairil Tanjung,
dan banyak sekali tokoh lainnya.
Jika tak bisa dari tokoh besar, banyak sekali tokoh kecil yang
bisa diangkat. Seperti halnya Belle dalam Beauty
and The Beast. Dia hanya gadis desa dengan cita-cita menjadi manusia yang
bisa berpikir bebas!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar