Iis Wiati Kartadinata
1)
Pada dasarnya karya
sastra ditulis oleh pengarangnya dalam lingkup ruang dan waktu bern ama fakta dan realita, bahkan sejarah
kehidupan di dalamnya. Boleh jadi pendapat penulis tidak terlalu salah.
Mengingat karya sastra ditulis oleh pengarangnya tidak lepas dari situasi
sosial budaya ketika karya sastra itu dibuat. Teeuw menuliskan, karya sastra
tidak ditulis dalam situasi kekosongan budayanya (Teeuw dalam Pradopo,
1995:178). Bahkan lebih ekstrem, Teeuw menyatakan, ada kalanya karya sastra
disebut sebagai dokumen sosial: lewat sastra pembaca seringkali jauh lebih baik
dari lewat tulisan sosiologi manapun juga, dapat menghayati hakikat eksistensi
manusia dengan segala permasalahannya (1988:236).
Di samping lukisan
fakta, realita, dan sejarah kehidupan, sastra ditulis juga berdasarkan
keyakinan, perasaan, keinginan dari pengarangnya. Terjadilah perkawinan silang
yang ideal menghasilkan karya dengan perangkat unsur-unsur cerita sebagai mas
kawinnya. Kedua domain tersebut harus memadu serasi dan tidak bisa berdiri
sendiri-sendiri. Masing-masing hidup secara komplementer. A. Teeuw dalam
bukunya menjelaskan sebagai berikut: Dalam sebutan lain adalah pemaduan antara kenya taan
(mimesis) dan kreasi (creatio). Menurut penganut teori creatio, karya seni
adalah sesuatu yang pada hakikatnya baru, asli, ciptaan dalam arti yang
sungguh-sungguh. Sedangkan penganut teori mimesis, karya seni merupakan
pencerminan, peniruan ataupun pembayangan realitas. (1988:236).
2)
Tulisan ini akan
saya mulai dengan sebuah petikan surat
yang ditulis oleh salah satu tokoh sentral pada novel tersebut:
… Ganjil benar keadaan di
kampung kami sekarang. Karena pada beberapa bulan yang lalu, datang kemari
seorang anak muda dari Mengkasar, tentu engkau ingat, Zainuddin namanya. Dia
tinggal tidak beberapa jauh dari rumahku, dengan bakonya. Tetapi bako jauh.
Tabiatnya yang halus menumbuhkan kasihan kita, tetapi di dalam kampung dia
tidak mendapat penghargaan yang semestinya. Sebab dia seorang anak pisang,
ayahnya seorang buangan yang telah mati di rantau. Meskipun dia dibawa orang
bergaul, dia tidak diberi hak duduk di kepala rumah jika terjadi peralatan adat-beradat,
sebab dia tidak berhak duduk di situ. Bukanlah orang mencela perangainya, hanya
yang dipandang orang kurang ialah bangsanya. Alangkah kejamnya adat negeri kita
ini, sahabatku. [1]
Tentu saja paragraf tersebut bukan satu-satunya contoh
yang memberikan gambaran eksplisit berupa kenyataan tentang nilai-nilai yang
disodorkan oleh pengarang. Saya juga yakin bukan semata-mata sudah menjadi
latah, tema-tema serupa yang diangkat pada novel-novel yang muncul pada periode
ini, seperti halnya Siti Nurbaya
karya Marah Rusli, Belenggu buah
imajinasi Armijn Pane, atau Salah Asuhan
hasil pemikiran Abdul Muis, dll. Nam un tema yang diketengahkan
adalah gambaran kehidupan pada masa itu. Karena setiap karya yang muncul tentu
saja merupakan refleksi dan bukti totalitas pengarang dalam menanggapi keberagaman
kondisi masyarakatnya.
Berbicara tentang gambaran masyarakat pada kurun waktu
tertentu, adalah memikirkan bagaimana kecenderungan pola-pola sosial yang
berlaku pada saat itu. Dalam hal ini, di tangan pengarang segala perbuatan
manusia dan pola prilaku masyarakat terekam melalui tulisannya. Aristoteles
menyebutnya, seorang pengarang karena daya cipta artistiknya mampu menampilkan
perbuatan manusia. Ketika itulah terjalinnya hubungan antara karya sastra
dengan kenya taan.
Dalam sastra dikenal dengan sebutan mimesis, dengan penafsiran arti, bahwa
sastra harus mencerminkan kenya taan.
Teori ini dikenalkan oleh Plato (428-348) dan muridnya Aristoteles (384-322)
yang dari abad ke abad sangat berpengaruh terhadap teori-teori seni dan sastra
di Eropa.[2]
Plato mengartikan mimesis hanya sebatas seni melukiskan kenya taan.
Sedangkan Aristoteles, mimesis tidak semata-mata menjiplak kenya taan, melainkan merupakan proses kreatif
sambil bertitik tolak pada kenya taan.
Dalam bukunya, Poetica, Aristoteles mengungkapkan bahwa
sastra tidak lagi dipandang sebagai kopi atau jiplakan mengenai kenya taan,
melainkan sebagai suatu ungkapan atau perwujudan mengenai universalia
(konsep-konsep umum). [3]
Konsep-konsep itu dalam pandangan Aristoteles berupa kodrat manusia, perkataan
dan kebenaran universal yang berlaku di mana-mana. Sastra tidak hanya
menampilkan sebuah peristiwa yang hanya satu kali terjadi seperti halnya
sejarah. Tetapi peristiwa konkret yang dibeberkan kembali sekaligus ditafsirkan
probability yang memadukan visi,
penafsiran pengarang dan kenya taan
sehingga memberikan makna bagi eksistensi manusia. Karya yang diciptakan
menurut Aristoteles menjadi sarana pengetahuan yang khas, cara yang unik untuk
membayangkan pemahaman tentang aspek atau tahap situasi manusia yang tidak dapat
diungkapkan dan dikomunikasikan dengan jalan lain. [4]
Dalam hal ini sastra tidak hanya dipandang sebagai jiplakan kenya taan
semata. Melainkan sebuah proses kreatif tentang kenya taan.
Meski pada akhirnya konsep mimesis Aristoteles sering
ditafsirkan secara sempit.[5]
Namun kajian ini tidak terpengaruh oleh hal itu. Penulis hanya bertitik tolak
dari teori mimesis yang menjadi patokan[6]
dalam ilmu sastra pada umunya.
Penafsiran mimesis dalam karya sastra merupakan sebuah pemikiran
bahwa sastra mencerminkan kenya taan.
Baik benda-benda, bentuk-bentuk kemasyarakatan, pengalaman, tradisi, dan
lain-lain. Salah satu kenya taan
yang sering muncul dalam sastra adalah kenya taan sosial yang mencakup
budaya masyarakat dari berbagai golongan, kebiasaan, atau lingkungan. Termasuk
gagasan primordialisme yang membicarakan segala yang berhubungan dengan rasa
kesukuan dan ras.
Primordialisme dalam kajian mimesis tidak sekedar
menampilkan perasaan dan sikap manusia terhadap segala perbedaan dan tipe-tipe sosial,
serta budaya pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Tetapi juga mencoba
mengangkat peristiwa dan tema dalam sastra tentang gejala-gejala yang
mempengaruhi nilai-nilai kehidupan manusia. Lebih dari itu, juga menjawab
sebuah pertanyaan, sejauh mana karya itu menggambarkan kenyataan, adakah
hubungan antara gambaran dengan apa yang digambarkan? Dalam hal ini mewujudkan
kembali sesuatu yang sudah menjadi konsep umum suatu masyarakat tentang
perasaan kesukuan, keagamaan, kedaerahan, kedudukan sosial dan lain-lain, yang
semuanya berlebihan. Berkonotasi primeval.
Intinya, primordialisme dalam kajian mimesis, selain mengangkat kenya taan
tentang bagaimana sebuah kondisi masyarakat atau tokoh tertentu dalam bersosial
dan berbudaya, juga menganalisis segi-segi persoalan yang berhubungan
dengannya. Termasuk di dalamnya mengkaji hubungan antara gambaran cerita dengan
apa yang digambarkan oleh pengarang.
Kajian terhadap buku ini bermaksud mengangkat budaya
primordial(isme) suatu masyarakat, khususnya Padang padan tahun duapuluhan yang
impluralis. Sebuah kondisi yang berbenturan dengan hakikat sosial yang sesungguhnya,
yaitu pluralis atau kondisi yang menerima sebuah keadaan yang serba majemuk
dalam sistem sosial (maupun politiknya).
Pluralis atau kemajemukan dalam masyarakat adalah
keniscayaan. Dari yang paling kodrati hingga manusiawi. Keinginan, rasa cinta,
kebebasan beragama, dan beribadat maupun berpikir. Namun dalam novel ini,
konsep pluralis mengalami ekskursif, terjerat ‘hukum’ primordial. Tampak nyata,
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
mengangkat sebuah gejala di masyarakat yang disadari atau tidak oleh
tokoh-tokohnya adalah berkaitan dengan suasana primordial yang mengakar.
3)
HAMKA adalah tokoh
yang berasal dari Minangkabau. Lahir pada tanggal 16 Februari 1908 di Maninjau,
Sumatera Barat. Sebuah sumber menyebutkan, tokoh ini diakui sebagai penulis dan
orator besar Ind onesia . Dalam
karya-karyanya HAMKA selalu mengetengahkan kekayaan budaya daerah yang dimiliki
daerah-daerah di Indonesia .
Terutama Minangkabau yang baginya sebagai
negeri yang sangat beradat dan beradab.[7]
Selain itu, tokoh ini pun menduduki posisi penting selama masa Belanda dan
pendudukan Jepang, serta aktif dalam bidang politik pada masa revolusi serta
masa-masa sesudahnya. Selain itu, HAMKA sangat minat terhadap sejarah
negerinya. HAMKA meninggalkan karya yang sangat banyak; diantaranya yang sudah
dibukukan tercatat lebih dari 118 buah, belum termasuk karangan-karangan lain
yang dmuat di berbagai mesia masa dan dalam kesempatan kuliah atau ceramah
ilmiah.[8]
Novel romannya selain Tenggelamnya Kapal
Van Der Wijck, Merantau ke Deli, Di Dalam lembah Kehidupan, dan Di Bawah Lindungan Ka’bah, juga Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai
Nil, dan di Tepi Sungai Dajjah.
Termasuk buku biografi oran g
tuanya dengan judul Ayahku.
Tenggelamnya Kapan Van Der Wijck ditulis
pada tahun 1930-an dan terbit tahun 1939. Ketika itu, aktivitas HAMKA sangat padat
dalam kegiatan organisasi, terutama kegiatan organisasi Islam Muhamadiyah yang
membawanya melawat ke berbagai daerah. Seperti daerah Bengkalis, Makasar
(sebutan dalam novelnya, Mengkasar), Medan ,
dan bolak-balik Padang Panjang.
Tempat-tempat yang
dikunjunginya pada kurun waktu tersebut sangat lekat dalam novel Tenggelamnya
Kapal Van DerWijck.[9]
Hal ini yang memungkinkan penulis membuat sebuah hipotesis bahwa, kejadian yang
dimunculkan dalam novel tersebut ada kaitannya dengan keadaan sosial budaya
masyarakat Padang
pada masa itu. Terutama tema yang diangkat bermula dari sebuah adat yang
mengakar dari generasi ke generasi hingga sekarang di daerah Padang , yaitu matrilineal. Dari sana lah sesungguhnya inti
tema cerita ini berawal. Dalam kajian mimesisi, konsep matrilineal menjadi
sebuah gejala yang pada akhirnya sangat berpengaruh terhadap nilai kehidupan manusia
yang menjalaninya.
Jainnuddin adalah tokoh
utama cerita ini. Dikisahkan dia adalah anak seorang Pandekar Sutan yang
menjadi pewaris tunggal dari harta peninggalan ibunya. Sayangnya, Pandekar
Sutan tidak mempunyai saudara perempuan yang akan menjaga harta.[10]
Sehingga setelah kematian ibunya, pamannyalah yang boleh menghabiskan harta
itu. Termasuk para saudara Datuk Mantari Labih, gelar pamannya itu. Hingga pada
akhirnya, Pandekar Sutan dibuang selama 15 tahun karena membunuh Datuk Mantari
Labih. Usai pengasingan itulah Pandekar Sutan menikah dengan ibunya Jainuddin
dan tinggal di Makasar (Mengkasar dalam cerita). Meskipun
Pa ndekar Sutan pada akhirnya mendapat surat berkali-kali untuk kembali ke kampungnya di Padang dan harus menikah di sana ,[11]
namun Pa ndekar Sutan selalu menolak.[12]
Dia sangat setia dengan istrinya yang meskipun tinggal pusara. Cintanya besar
seperti halnya cinta ibunya Jainuddin kepada Pendekar Sutan.
Setelah dewasa,
Jainuddin terpanggil untuk mengunjungi tanah nenek moyangnya. Namun jauh
panggang dari api, jauh dari sangkanya, ternyata keadaan di tanah nenek
moyangnya sangat berbeda dengan yang diharapkannya. Kegembiraan yang semula
dirasakan setelah sampai ke negeri yang selama ini menjadi kenang-kenangannya, lama-kelamaan
hilang tanpa diduga. Di kampungnya sendiri dia tidak mendapat tempat dan kasih
sayang seperti kasih sayang yang diperolehnya selama ini dari Mak Base,
perempuan yang merawatnya dari kecil. Saudara ayahnya tidak mengangapnya
sebagai oran g Minangkabau, melainkan oran g asing.[13]
Betul sekali, adat
Minangkabau sangat berbeda dengan adat Mengkasar yang ditinggalinya selama ini.[14]
Konsep matrilineal yang menjadi tombak peradaban tanah gadang adalah salah satu
bentuk budaya yang membutuhkan tumbal dengan harga yang sangat mahal dari
seorang anak manusia bern ama
Jainuddin. Boleh jadi, HAMKA menciptakan tokoh Jainuddin sebagai gambaran kecil
anak negeri yang menjalani hidup seperti itu dalam senyatanya.
Pengalaman pahit
Jainuddin tidak berhenti sampai di situ. Persoalan kesukuan yang dihadapinya
ternyata juga membentur dinding kokoh keakuannya sebagai seoarang manusia
normal yang beradab, berasa dan berhasrat. Yaitu anugerah terindah dari Tuhan
untuk segenap manusia di muka bumi ini. Tak lain rasa kasih terhadap sesama
manusia. Berwujud perasaan cinta untuk lawan jenis. Kali ini, keangkuhan adat
kembali membenturnya tanpa ampun. Membuatnya terjerembab dalam lubang sakit
yang tidak berkesudahan. Cinta yang tumbuh sempurna untuk seorang gadis
Minangkabau bern ama Hayati tergerus sudah oleh roda-roda
raksasa bern ama
peradaban negeri yang baginya tidak mengenal moral. Tumbuh dan berkembang tanpa
mengenal batas-batas hak azasi manusia. Berlaku hukum-hukum adat yang tidak
menyentuh perbedaan keinginan, cara berpikir, keturunan, dan hak manusia yang
paling azasi bern ama
cinta.
Hasrat suci dua anak manusia bern ama Jainuddin dan Hayati terjegal oleh
adat. Tak satu pun yang mendukung keinginan mereka berdua. Bahkan lebih-lebih
yang diterima Jainuddin. Hanya pengusiran pahit yang dia terima.[15]
Tidak berhenti sampai di situ, segala perasaan yang telah tumbuh dan bersemi,
masa-masa romantis meskipun hanya dilakukan lewat surat - surat, cita-cita berdua, akhirnya kan das oleh perkawinan paksa yang dilakukan keluarga
Hayati dengan seorang laki-laki bern ama
Azis. Padahal sesungguhnya Azis bukan seorang laki-laki yang baik. Hingga hidup
Hayati menderita sampai akhir hayatnya.
Itulah bukti betapa manusia tidak melihat sisi buruk
rasa kesukuan yang berlebihan. Andaikan saja para pemilik adat dan suku itu
mengenal dan mengakui berbedaan atau kemajemukan (pluralis)me di masyarakat,
kejadian ini bisa dihindari. Sikap primordialis membawa tokoh-tokoh adat
menjadi tidak mengenal dan mengakui pluralisme atau kemajemukan di masyarakat.
Bahwa setiap manusia lahir dengan sekian perbedaan, baik warna kulit, kesukuan
maupun derajat yang harus dihargai dan ditempatkan secara adil.
4)
Karena kajian ini
hanya sebatas membahas secara mimesis sekitar persoalan primordialisme dan
impluralisme, maka persoalan kenya taan
lain yang diangkat pengarang dalam novel ini tidak menjadi titk perhatian,
seperti kejadian pemindahan pasar di Padang pada
masa lalu, kejayaan kota Pa dang pada masa perang dunia dengan deretan
nama-nama oran g kaya di sana . Termasuk peristiwa krisis perniagaan,
berdirinya sekolah Diniyah, masuknya faham komunis dan lain-lain.
Kajian ini tidak
saja mengangkat peristiwa menjadi sebuah cerita, akan tetapi mencerminkan
sebuah kenyataan dengan pendalaman sebuah dimensi lain yang lebih mendalam.
Dalam hal ini tentu saja pola-pola sosial yang berlaku sehingga terjadinya
sebuah peristiwa atau cerita yang dialami oleh para tokoh yang diciptakan
pengarang untuk mewakili dunia yang dibentuknya. Pencerminan cerita ini akan
membuka kesempatan kita memasuki sebuah dunia lain berupa budaya yang sesungguhnya
ada.
Melalui
Tenggelamnya Kapal van Der Wijck, HAMKA mengangkat sebuah kondisi budaya yang
telah mengakar di negeri kelahirannya. Sebuah budaya tinggi yang tidak bisa
ditawar-tawar lagi kebesarannya. Tentu saja tema dan peristiwa yang diangkat tidak
saja menawarkan sebuah dimensi sosial yang patut diketahui, akan tetapi dari
segi unsur sastra, cerita ini secara tidak langsung mengkaji sebuah budaya yang
sangat berpengaruh terhadap peradaban bahkan nasib hidup manusia.
Betapa sebuah
cermin besar ditampakkan oleh cerita ini. Budaya tinggi namun tidak mengenal
batas nilai kemanusiaan tetap saja menggusur seorang anak manusia pada nasib
buruk. Jainuddin diceritakan tidak berhasil menikah dengan Hayati. Demikian
juga Hayati hanya menerima kesengsaraan lahir dan batin setelah menikah dengan
Aziz. Meskipun di tahap antiklimaks (setelah Jainuddin berhasil menjadi seorang
pengarang terkenal), seolah cinta mereka akan dihadapkan oleh penyatuan. Namun
sebuah peristiwa, yaitu tenggelamnya kapal van Der Wi jck yang
berlayar dari Surabaya ke Semarang, tanggal 20 Oktober 1936 mengilhami HAMKA
dalam menyelesaikan novel ini. Pembaca disodorkan pada sebuah denoumen yang mengagetkan. Sebuah
penyelesaian cerita yang sangat tragis. Hayati ikut tenggelam bersama kapal tersebut.
Setelah perempuan yang sangat dicintainya itu menghadirkan diri kembali untuk masuk
dalam kehidupan Jainuddin dan mengakui segala penghianatan karena ulah pelaku
adat. Sayangnya Jainuddin telah dipaku oleh rasa sakit yang begitu dalam, melupakan
hasrat dan kesejatian cinta yang pernah tumbuh subur seumur hidupnya. Ditambah
atas nama adat yang juga terbiasa mengungkungnya.
Tetapi
sebagai terdengar di telinganya beberapa perkataan yang sudah pernah diucapkan
ninik-mamak Hayati kepadanya. “Kalau dia kawin dengan Hayati, kemana anak
mereka akan berbako?”…
“Tidak!
Pantang pisang berbuah dua kali, pantang pemuda makan sisa!”…
Sehingga kesempatan untuk mendapatkan kembali Hayati
yang telah menjanda pupus juga. Akhir yang memutuskan bahwa Jainuddin benar-benar
tidak bisa memiliki Hayati seutuhnya. Boleh jadi membuahkan sebuah konsep tentang
kesejatian cinta seorang anak manusia pada masa itu, bahwa cinta sejati terbawa
sampai mati.
Hal tersebut merupakan gambaran hubungan antara kejadian
dan peristiwa budaya, pengolahan unsur-unsur sastra, sehingga menghasilkan
sebuah tema yang utuh. Cerita ini memperlihatkan gambaran kehidupan tentang
kejadian yang ada dengan penafsiran pengarang melalui tokoh-tokoh, alur, plot,
serta nilai-nilai budaya yang benar-benar membawa pembaca melihat sebuah sisi
lain kehidupan. Inilah gambaran akhir, perpaduan antara budaya, peristiwa dan
nasib manusia yang tetap saja pengemasannya sangat hati-hati dan apik di tangan
HAMKA.
Budaya
primordialisme dan impluralis yang dikaji secara mimesis dalam Tenggelamnya Kapal van Der Wijck,
menguraikan sebuah bahan pemikiran, perasaan, dan perbuatan, berisi sesuatu
yang pernah ada, yang dibayangkan, pendapat orang, atau keadaan yang seharusnya
ada, berupa keyakinan dan cita-cita, tentang rasa bersuku dan berbudaya. Bahwa
segala peristiwa budaya tentang perasaan kesukuan yang berlebihan dan tidak
mengenal perbedaan di masyarakat, membawa nasib buruk pada hidup manusia. Melalui
Tenggelamnya Kapal vanDer Wijck,
HAMKA tidak saja berhasil menggambarkan keadaan di negerinya, tentang budaya
luhur nenek moyangnya. Tetapi juga sukses mengetengahkan hubungan yang permanen
antara peristiwa, baik peristiwa berupa fakta maupun kondisi budaya, serta ide-ide
orisinalitas tentang cita-cita, keyakinan hidup yang menjadi kajian mimesis.
Peristiwa konkret di negerinya digambarkan kembali secara luas melalui sisi
budaya, cita-cita, keinginan dan cinta anak manusia.
Penokohan Jainuddin
dan Hayati merupakan simbol primordialisme dan impluralisme yang hendak
dikenalkan oleh HAMKA tentang buah budaya yang mengakar di negerinya. HAMKA
seolah mengajak pembaca memahami bahwa nilai-nilai seperti itu hanya akan
membawa petaka yang tidak ada habisnya. Tatanan sosial dan budaya hendaknya
mengenal fanatisme kesukuan, akan tetapi bukan fanatisme sempit apalagi
primordial. Begitu pula, kemajemukan/pluralisme di masyarakat hendaknya diakui
sebagai sebuah kondisi yang memperkaya budaya dan kehidupan.
5)
Tenggelamnya Kapal van Der Wijck
memberikan sebuah wacana baru tentang sebuah sisi negatif budaya masyarakat
yang ditanggapi berlebihan oleh para pemilik budaya tersebut. Sesungguhnya
setiap manusia lahir dan hidup dengan membawa perbedaan. Perbedaan tersebut
hanya akan menjadi bencana jika ditanggapi sebagai sebuah warna yang hidup
dalam pemisahan dan berdiri sendiri. HAMKA sebagai seorang nasionalis dan
selalu ingin membicarakan kesatuan bangsa Ind onesia ,
seolah hendak mengajak bahwa meskipun tinggi nilai budaya Minangkabau, namun
jika diterima secara sempit oleh para pelaku adat, maka tetap saja menjadi
tidak bern ilai.
HAMKA telah melakukan pembuktian tentang kondisi budaya
yang merapuh pada sisi primordialisme. Keadaan yang sesungguhnya berseberangan
dengan nilai positif dalam kehidupan bermasyarakat. Primordialisme tidak lagi
memberikan pemaknaan terhadap perasaan kesukuan, keagamaan, kedudukan sosial
yang sebenarnya, namun berlebihan sehingga menjadi bumerang bagi terciptanya
kekayaan nilai-nilai seperti keragaman atau pluralis yang dimiliki oleh
masyarakat yang bermartabat dan berbudaya.
Selesai.
[1] HAMKA, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Jakarta : Bulan Bintang.1981. hal 38
[2] Lihat Jan Van Luxemburg,
dkk, 1989. Pengantar Il mu Sastra. Jakarta : P.T. Gramedia
3 Lihat Jan Van Luxemburg, dkk, ibid
[5] Karya-karya hanya menampilkan sesuatu yang universal dalam
perbuatan manusia lalu ditafsirkan seolah-olah pengarang hanya menciptakan
tipe-tipe sosial yang khas bagi suatu tempat atau dalam kurun waktu tertentu.
[6] Pendapat Aristoteles berdasarkan pemahaman penulis
[7] Lihat Del iar
Noer, 1983,Yamin dan HAMKA dalam Dari Raja Ali Haji Hingga HAMKA, Jakarta : Temprint
[8] Lihat Ensiklopedi Islam
[9] Tahap perkenalan cerita di Mengkasar dengan segala bentuk kehidupan
termasuk peperangan di daerah itu. Tahap pemunculan konflik terjadi ketika
tokoh utama mulai menginjakkan kaki di daerah kelahiran orang tuanya di Padang . Tahap peningkatan
konflik hingga konflik memuncak yang terjadi di Padang Panjang dan daerah sekitarnya, tentang
nilai-nilai yang melingkupi kehidupan Minangkabau, serta adat istiadat yang
berlaku.
[10] Menurut adat Minangkabau, amatlah malang nya seorang laki-laki jika tidak
mempunyai saudara perempuan, yang akan menjaga harta benda, sawah berjenjang,
Bandar buatan, lumbung berpereng, rumah nan gadang…. Beberapa kali dia mencoba
meminta supaya dia diizinkan menggadai, bukan saja mamaknya yang menghalangi,
bahkan pihak kemenakan2 jauh, terutama pihak yang perempuan yang menghalangi,
sebab harta itu sudah mesti jatuh ke tangan mereka, menurut hokum adat.’nan
sehasta, nan sejengkal, nan setampok, sebuah jari.’ (TKVDW, hal 11 dan 12)
[11] Di Minangkabau oran g merasa malu
kalau dia belum beristri oran g
kampungnya sendiri. Berbini di rantau oran g
artinya hilang , ibid, h 19
[12] Dia tidak pula mau hendak membawamu ke Padang , karena hati keluarga belum dapat
diketahui, entah suka menerima anak pisa ng oran g Mengkasar, entah tidak. Karena kabarnya adapt di sana berlainan sangat
dengan adapt di Mengkasar ini, ibid.
[13] Oran g di sana mashur di dalam menerima oran g baru. Tetapi basa-basi itu lekas pula bosan. Oleh
karena yang kandung tidak ada lagi, apalagi ayahnya tidak bersaduara perempuan…
Jiwanya sendiri mulai merasa bahwa meskipun dia anak oran g
Minangkabau tulen, dia masih dipandang oran g
pendatang, masih dipandang oran g jauh, oran g Bugis, oran g
Mengkasar, ibid. h 26
[14] …Ada t
Minangkabau lain sekali. Bangsa diambil daripada ibu. Sebab itu, walaupun
seorang anak berayah oran g Minangkabau, sebab di
negeri lain bangsa diambil dari ayah, jika ibunya oran g
lain, walaupun oran g Tapanuli atau Bengkulu yang
sedekat-dekatnya, dia dipandang oran g lain juga…
tak dapat Jainuddin mengatakan dia oran g Padang , tak kuasa lidahnya
menyebutnya dia oran g Minangkabau. Dia tidak
berhak diberi gela r
pusaka, sebab dia tidak bersuku. Meskipun dia kaya raya misalnya, boleh juga
dia diberi gela r pinjaman dari bakonya tetapi gela r itu tak boleh
diturunkan pula kepada anaknya. Melekatkan gela r itupun mesti membayar hutang kepada
negeri, sembelihkan kerbau dan sapi, panggil ninik-mamak dan alim ulama,
himbaukan di labuh nan golong, di pasar nan ramai.
[15] Dia teringat dirinya, tak bersuku, tak berhindu, anak oran g terbuang, dan tak
dipandang sah dalam adapt Minangkabau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar