Kisah: Iis Wiati
Judul cerita ini terilhami oleh sebuah cerita pendek karya Leo Tolstoy. Pengarang besar Rusia ini mempunyai judul cerpen Alyosha si Botol. Dikisahkan ada dua orang kakak beradik, yang muda bernama Alyosha. Dia dijuluki “Botol” karena suatu hari ibunya menyuruhnya untuk mengantar sebuah botol susu kepada istri pendeta di gereja dan dia tersandung sehingga botolnya pecah. Ibunya memukulinya karena itu teman-temannya mulai mengejeknya dengan julukan “Botol”. Demikian cerita awal (hasil terjemahan) dari cerpen Alyosha si Botol.
Judul cerita ini terilhami oleh sebuah cerita pendek karya Leo Tolstoy. Pengarang besar Rusia ini mempunyai judul cerpen Alyosha si Botol. Dikisahkan ada dua orang kakak beradik, yang muda bernama Alyosha. Dia dijuluki “Botol” karena suatu hari ibunya menyuruhnya untuk mengantar sebuah botol susu kepada istri pendeta di gereja dan dia tersandung sehingga botolnya pecah. Ibunya memukulinya karena itu teman-temannya mulai mengejeknya dengan julukan “Botol”. Demikian cerita awal (hasil terjemahan) dari cerpen Alyosha si Botol.
Cerita si Motor sama sekali tidak mirip dengan
cerita Leo Tolstoy tersebut. Demikian pun judulnya tidak dilengkapi dengan nama
asli si Motor. Seperti halnya cerpen tersebut ada ‘Alyosha’nya. Hal ini
mengingat nama sang tokoh tidak semanis ‘Alyosha’, sehingga takut tidak
memiliki nilai jual.
Tahun 80-an adalah satu masa di kampungku yang
lekat dengan hiburan-hiburan di malam hari kalau ada hajatan. Kalau tidak acara
pengajian, sang pemilik hajatan (baik pernikahan maupun sunatan) kadang mengadakan
hiburan musik, seperti kasidahan, musik melayu, wayang golek, hingga layar
tancap.
Suatu ketika di kampungku ada hajatan. Sang
empunya hajat mengadakan pesta di malam harinya dengan menyajikan hiburan
kepada masyarakat setempat berupa layar tancap. Ternyata yang datang ke acara
hiburan tidak hanya masyarakat setempat. Dari luar kampung pun banyak yang
berdatangan, bahkan selepas maghrib. Padahal acara baru akan dimulai pukul
tujuh malam. Tepatnya usai adzan isya. Begitu pula dengan para pedagang. Pedagang
bubur kacang, bajigur lengkap dengan penganannya seperti rebus ubi dan pisang,
kacang bulu (sebutan untuk kacang
hijau), nagasari, amis cangkeng, dan katimus. Ada juga pedagang banros,
surabi, bakso, bakso tahu (sebutan untuk siomay tahu), awug, hingga mainan
anak-anak berdatangan dari berbagai tempat. Mereka masing-masing membawa
lampu-lampu sendiri-sendiri, mulai lampu cempor yang kecil, lampu gembreng,
hingga petromak.
Sekejap kampung yang sepi itu menjadi semarak
seperti pasar malam. Hilir mudik pula orang berdatangan. Yang berdatangan pun
tentu saja dengan berbagai motif, terutama anak remaja. Ada yang berkesempatan
untuk berdua dengan pasangan, ada pula yang sambil menyelam minum air. Nonton
sambil cari pacar. Apalagi ketika pemutaran film belum dimulai. Bergerombol
calon-calon penonton menyibukkan hasratnya masing-masing sesuai dengan
tujuannya.
Di satu pojok nampak lima orang pemuda. Mereka
adalah para pemuda dari kampung setempat. Tidak satu pun dari mereka yang
datang bersama gadis. Entah karena tidak punya pacar atau mereka memang sengaja
meninggalkan pacarnya untuk berdiplomasi dengan kesempatan di tempat ini. Hanya
ketika itu mata-mata mereka begitu nyalang.
Ketika itu, tampak tidak jauh dari mereka duduk
seorang gadis berambut panjang. Wajahnya berhadapan dengan layar yang
terbentang tidak terlalu jauh darinya. Kontan kelima pemuda itu saling tarik
tangan. masing-masing yang hendak mendekati gadis itu ditariknya.
“Cing atuh,
bagean sayah,” pekik salah satu pemuda.
“Sayahlah.”
“Saya!”
“Bagean
sayah!”
Mereka berlima berebut mau mendekati gadis itu.
Sementara film sudah dimainkan.
Akhirnya mereka berlima hompimpah. Yang
memenangkan hompimpah ternyata salah satu pemuda, lumayan tampan, sebut saja Trisna. Segeralah Trisna menarik jaket kulitnya ke dada lalu berjalan mendekati
sosok gadis itu. Sementara yang lainnya mengikuti perlahan di belakang Trisna.
Jika Trisna berhasil berjarak lima sentimeter dengan si gadis. Maka empat pemuda
yang lain kira-kira berjarak lima puluh sentimeter. Dan keempat pemuda tidak
boleh berkata-kata dengan gadis itu. Cukuplah Trisna yang menang hompimpah.
“Neng sama siapa?”
“Sendirian.”
“Ooo.”
"Sekarang sama Akang..."
Trisna terperanjat. Ada semacam aliran hangat di dadanya. Rupanya gadis itu tidak menolak kehadirannya, "Sama yang lain juga kali..."
"Iya sih."
"Tapi serasa berdua ya?"
Wkwkwkwk... Trisna merasa seperti menang lotre.
"Sekarang sama Akang..."
Trisna terperanjat. Ada semacam aliran hangat di dadanya. Rupanya gadis itu tidak menolak kehadirannya, "Sama yang lain juga kali..."
"Iya sih."
"Tapi serasa berdua ya?"
Wkwkwkwk... Trisna merasa seperti menang lotre.
Lalu perbincangan berhenti. Semua mata melihat ke
layar.
“Neng suka filmnya?”
“Suka.”
“Ooo.”
Perbincangan berlanjut. Dan terakhir hanya kata ooo
saja yang keluar dari mulut Trisna. Hanya ketika tangan Trisna mulai memegang
tangan gadis itu, si gadis menepiskan tangannya. Malu. Tapi nampaknya si gadis
terbuka hatinya untuk terus dekat dengan Trisna. Karena ketika Trisna bercanda
dengan tepukan di punggung, si gadis diam saja. Seterusnya Trisna asyik
mengobrol dan sedikit mesra di antara gelap dan sesekali remang malam itu.
Namun begitu Trisna tidak sempat melihat ke arah wajah si gadis.
Ketika film sudah hampir usai, sekelebat Trisna melihat wajah di dekatnya. Trisna tercengang. Lalu dengan perlahan dia menggeser
tubuhnya yang tadi mulai rapat dengan si gadis.
“Neng, maaf ya. Saya pamit dulu. Motor saya
diparkir jauh. Takut ada yang usil.”
Si gadis tersentak, “Lho, kok pergi Kang?”
“Maaf ya,” Trisna beranjak segera.
Tentu saja sikap Trisna mengagetkan teman-temannya.
Maka salah satu temannya memekik tertahan, “Tris, Trisna, ke mana wey?”
“Itu mau lihat motor sayah!”
Yang lain saling pandang. Lalu melihat ke arah
gadis yang tengah memelototi langkah Trisna. Kontan empat pemuda tertawa, lalu
ngibrit mengkuti langkah satu teman yang menang hompimpah tadi. Setengah berlari.
“Wey, motor, motor, tunggu...”
Trisna sudah berada menjauh dari arena layar
tancap. Nafasnya tersengal.
“Kenapa motormu, Tris?” Tapi pertanyaan itu diakhiri ngakak teman-temannya dengan nikmat. Seperti habis nonton dagelan atau pertunjukan bodor tingkat tinggi. bahkan sampai membungkuk-bungkuk.
Trisna yang sebenarnya tidak punya motor masih
ngosngosan, “Gawat, kukira perempuan cantik dari kampung lain, ternyata si
Mimih anaknya nini Ijah, pembantu di rumah pak lurah. Gila!”
“Hahaha.”
Jadilah kisah itu mengganti nama Trisna menjadi si ‘Motor’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar