Sabtu, 01 September 2018

BELAJAR BAHASA INGGRIS

Kisah: Iis Wiati

... kita akan semakin papa secara bahasa, sekaligus kehilangan imajinasi dan kreativitas untuk mengembangkan bahasa sendiri. Slogan “bahasa menunjukkan jatidiri bangsa” perlu dipertanyakan ulang. Kini bahasa tidak lagi menunjukkan jatidiri bangsa, tapi hal-hal lain di luar kebangsaan. Kalau dulu nenek moyang kita berusaha memperkaya perbendaharaan bahasa Indonesia, kini terjadi proses pemiskinan bahasa, sekaligus membuatnya semakin asing.
(Novriantoni, Master Sosiologi)


Awal tahun ajaran 2009/2010.
Tahukah anak cucuku, di zamanku pemerintah telah membuat pengotakan baru dalam dunia pendidikan. Yaitu membagi sekolah ke dalam kategori-kategori tertentu. Dasarnya, sudah jelas undang-undang, keputusan menteri, dan atau peraturan pemerintah. Pengotakan yang dimaksud tidak sekedar status sekolah, misalnya status disamakan, diakui, terakreditasi dengan angka ‘A’ atau ‘B’. Lebih modern lagi, ada istilah kategori lain berupa SKM kependekan dari Sekolah Kategori Mandiri dan SBI kependekan dari Sekolah Berwawasan Internasional. Dua kategori yang disebut terakhir ini tentu saja menuntut segala sistem yang ada di sekolah. Tentu pula tuntutannya sangat berbeda dengan sistem pendidikan zaman nenek moyang kita dulu. Tak saja fasilitas, dana, dan keragaman teknik pembelajaran... tapi juga sumber daya gurunya.
Tuntutan yang dimaksud dalam pragmen ini adalah sumber daya guru. Sumber daya guru tidak hanya mengarah pada kemampuan menjadi pengarah di depan siswanya, dan keahlian dari substansi keilmuan yang diampunya. Di sekolah dengan dua status ‘keren’ tersebut menuntut gurunya juga cakap berbahasa. Tunggu dulu, yang dimaksud di sini bukan sekedar cakap berbahasa lokal, atau bahasa nasionalnya, tetapi kecakapan berbahasa Inggris.
Bayangkan anak cucuku, sebegitu hebatnya negeri Pangeran William itu. Sampai-sampai segi bahasa saja sanggup menjarah dunia pendidikan di zamanku. Kejayaannya di Eropa sejak zaman abad pertengahan hingga abad Napoleonik berujung hingga zamanku ini, terutama dari segi bahasa. Berkaitan dengan bahasa ini aku hanya mengira-ngira saja. Mungkin karena banyak para sastrawan yang lahir di negeri raja-raja Henry atau raja-raja Charles ini. Sebut saja Shakespeare sehingga karyanya menyebar ke seluruh pelosok negeri. Semua orang membacanya. Atau bisa juga karena Inggris adalah negeri dengan koloni yang sangat banyak. Bahkan hingga menembus benua Amerika dan Asia termasuk negeri kita.
Menjawab tuntutan itu, di sekolah-sekolah ada semacam kursus bahasa negeri Pangeran William itu. Guru dituntut untuk bisa cas cis cus, was wes wos. Tak sekedar berujar yes atau no... Kecakapan ini bahkan harus menjadi bahasa pengantar di kelas-kelas dalam menyampaikan materi. Sempat terpikir di benakku, mau kemana Bahasa ibu kalau bahasa pengantar pembelajaran adalah bahasa Inggris? Padahal di luar sana, penggunaan bahasa Indonesia makin kacau saja. Tapi mau bagaimana lagi. Sehingga sering muncul pertanyaan.
“Halooo, di mana bahasa negara? Di mana bahasa kesatuan? Dan di mana bahasa pengantar di sekolah-sekolah seperti yang dicanangkan oleh pemerintah. Yang dimaksud adalah pencanangan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara...dll...?”
Di salah satu sekolah, aku sempat mengintip sebuah cerita berkaitan dengan tema bagian ini.
Di dalam sebuah ruangan kelas. Di dalamnya tampak kurang lebih tiga belas orang guru yang berubah posisi menjadi murid. Mereka duduk rapi di bangku-bangku berderet yang cat kayunya masih baru. Di hadapan mereka berdiri seorang instruktur yang tidak lain adalah rekan guru mereka sendiri. Setelah diintip cukup lama, ternyata mereka sedang belajar bahasa Inggris dengan metode tutor sebaya. Sepertinya, sekolah itu memfasilitasi guru untuk belajar was wes wos tanpa membayar mahal. Buktinya mereka belajar dari temannya sendiri.
Suasana ruangan itu sangat ceria. Guru dengan penampilan yang menyenangkan. Meskipun pembelajaran dilakukan usai bubar sekolah, namun wajahnya tidak menampakkan kelelahan. Begitu juga dengan ‘murid-muridnya’. Kerap terdengar tawa, canda, bahkan celoteh yang lebih ‘melawak’ dibanding celoteh murid-muridnya. Sehingga sering terdengar suara gerrr, padahal di dalam hanya ada tiga belas orang. Bahkan di antaranya ada yang sedang hamil.
Sesekali terlihat siswa mereka mengintip di luar. (siswa yang belum pulang karena mereka kebanyakan betah untuk berlama-lama di sekolah, entah mengapa). “Lagi ngapain guru guwa?” itu bisiknya. (Duh, bahasanya kacau sekali kan? Sementara di dalam ruangan guru mereka belajar bahasa Inggris, bukan belajar bagaimana menyampaikan bahasa dengan baik, tentu saja dengan bahasa negerinya sendiri). Tapi ah, kita ikuti saja deh.
Lalu terdengar percakapan di dalam kelas itu.
Ternyata kali ini yang sedang tampil di depan bukan lagi ‘guru’ mereka, melainkan murid yang sedang mempraktikkan berbahasa was wes wos di depan kelas. Guru yang tampil itu nampaknya sangat percaya diri. Apalagi dengan usianya, sepertinya dia termasuk senior di sekolah pavorit ini.
How are you my student?”
.....
Good, you look great today. I’m ready to teach You now. Any home work?”
.....
Please show me...”
......
Got a problem?”
Setelah ada yang mengacungkan tangan, dia mendekati salah satu bangku itu, “Which one?”
Lalu dia berjalan lagi dengan penuh keyakinan. Tatapannya menunjukkan dia adalah ‘murid’ yang terbaik siang itu.
Before, I start, please clean the blackboard!”
Kali ini kelas menjadi spontan ribut, lalu terdengar gerrrr. Guru yang percaya diri tadi mulai kebingungan. Lalu dia spontan bicara, “Maaf, maaf, maksud saya whiteboard.”
Semua melengak, “terbiasa dengan blackboard, maklum.”
Sementara yang menjadi guru beneran masih tersenyum simpul di sudut depan.
Tapi sang ‘murid’ tidak menjadi kecil hati. Dengan kepercayaan dirinya dia melanjutkan lagi praktik berwas wes wosnya.
Before, I start, please clean the whiteboard. ... ok. Now, focus on me. Today I teach You about Japan . You know Japan? It’s very important....”
Tiba-tiba terdengar gerrr lagi. Bagaimana tidak, si ibu guru yang sedang percaya diri itu tiba-tiba mengucapkan kata important dengan pengucapan yang berbeda (berdasasrkan lidahnya sendiri). Dia mengucapkannya dengan impoten.... (mohon maaf, terpaksa kata ini dituliskan, sekedar demi kekomunikatifan cerita ini).
Tapi lagi-lagi dia percaya diri.
Ok class, do it individually and do it in twenty minutes.”
......
Have You get problem?”
.......
Do you finish...?”
Tak ada jawaban. Melainkan suara gerrr lagi. Dan gerrr kali ini lebih ramai dari yang tadi. Ternyata si ‘murid’ mengucapkan kesalahan lagi pada kata finish. Rupanya untuk  ke sekian kali lidahnya membuat rumusan sendiri tentang kata berbahasa Inggris ini. Mohon maaf, kali ini penulis tidak sampai hati menuliskan apa yang dia ucapkan. Sehubungan cerita ini tidak hanya berlaku untuk orang dewasa... yang jelas, dua orang guru laki-laki yang menjadi ‘murid’ di kelas itu kontan saja mukanya sedikit merah dan tersenyum malu-malu.
Salah satu berujar pelan, “Duh, Bu, itu barang kami kenapa disebut juga?”




Tidak ada komentar:

Posting Komentar