... kita akan semakin papa secara bahasa, sekaligus
kehilangan imajinasi dan kreativitas untuk mengembangkan bahasa sendiri. Slogan
“bahasa menunjukkan jatidiri bangsa” perlu dipertanyakan ulang. Kini bahasa
tidak lagi menunjukkan jatidiri bangsa, tapi hal-hal lain di luar kebangsaan.
Kalau dulu nenek moyang kita berusaha memperkaya perbendaharaan bahasa
Indonesia, kini terjadi proses pemiskinan bahasa, sekaligus membuatnya semakin
asing.
(Novriantoni, Master
Sosiologi)
Awal tahun ajaran 2009/2010.
Tahukah anak cucuku, di zamanku pemerintah telah
membuat pengotakan baru dalam dunia pendidikan. Yaitu membagi sekolah ke dalam
kategori-kategori tertentu. Dasarnya, sudah jelas undang-undang, keputusan
menteri, dan atau peraturan pemerintah. Pengotakan yang dimaksud tidak sekedar
status sekolah, misalnya status disamakan, diakui, terakreditasi dengan angka
‘A’ atau ‘B’. Lebih modern lagi, ada istilah kategori lain berupa SKM
kependekan dari Sekolah Kategori Mandiri dan SBI kependekan dari Sekolah
Berwawasan Internasional. Dua kategori yang disebut terakhir ini tentu saja
menuntut segala sistem yang ada di sekolah. Tentu pula tuntutannya sangat
berbeda dengan sistem pendidikan zaman nenek moyang kita dulu. Tak saja
fasilitas, dana, dan keragaman teknik pembelajaran... tapi juga sumber daya
gurunya.
Tuntutan yang dimaksud dalam pragmen ini adalah
sumber daya guru. Sumber daya guru tidak hanya mengarah pada kemampuan menjadi
pengarah di depan siswanya, dan keahlian dari substansi keilmuan yang
diampunya. Di sekolah dengan dua status ‘keren’ tersebut menuntut gurunya juga
cakap berbahasa. Tunggu dulu, yang dimaksud di sini bukan sekedar cakap
berbahasa lokal, atau bahasa nasionalnya, tetapi kecakapan berbahasa Inggris.
Bayangkan anak cucuku, sebegitu hebatnya negeri
Pangeran William itu. Sampai-sampai segi bahasa saja sanggup menjarah dunia
pendidikan di zamanku. Kejayaannya di Eropa sejak zaman abad pertengahan hingga
abad Napoleonik berujung hingga zamanku ini, terutama dari segi bahasa.
Berkaitan dengan bahasa ini aku hanya mengira-ngira saja. Mungkin karena banyak
para sastrawan yang lahir di negeri raja-raja Henry atau raja-raja Charles ini.
Sebut saja Shakespeare sehingga karyanya menyebar ke seluruh pelosok negeri.
Semua orang membacanya. Atau bisa juga karena Inggris adalah negeri dengan
koloni yang sangat banyak. Bahkan hingga menembus benua Amerika dan Asia
termasuk negeri kita.
Menjawab tuntutan itu, di sekolah-sekolah ada
semacam kursus bahasa negeri Pangeran William itu. Guru dituntut untuk bisa cas
cis cus, was wes wos. Tak sekedar berujar yes
atau no... Kecakapan ini bahkan harus
menjadi bahasa pengantar di kelas-kelas dalam menyampaikan materi. Sempat
terpikir di benakku, mau kemana Bahasa ibu kalau bahasa pengantar pembelajaran
adalah bahasa Inggris? Padahal di luar sana, penggunaan bahasa Indonesia makin
kacau saja. Tapi mau bagaimana lagi. Sehingga sering muncul pertanyaan.
“Halooo, di mana bahasa negara? Di mana bahasa
kesatuan? Dan di mana bahasa pengantar di sekolah-sekolah seperti yang
dicanangkan oleh pemerintah. Yang dimaksud adalah pencanangan bahasa Indonesia
sebagai bahasa resmi negara...dll...?”
Di
salah satu sekolah, aku sempat mengintip sebuah cerita berkaitan dengan tema
bagian ini.
Di dalam sebuah ruangan kelas. Di dalamnya tampak
kurang lebih tiga belas orang guru yang berubah posisi menjadi murid. Mereka
duduk rapi di bangku-bangku berderet yang cat kayunya masih baru. Di hadapan
mereka berdiri seorang instruktur yang tidak lain adalah rekan guru mereka
sendiri. Setelah diintip cukup lama, ternyata mereka sedang belajar bahasa
Inggris dengan metode tutor sebaya. Sepertinya, sekolah itu memfasilitasi guru
untuk belajar was wes wos tanpa membayar mahal. Buktinya mereka belajar dari
temannya sendiri.
Suasana ruangan itu sangat ceria. Guru dengan
penampilan yang menyenangkan. Meskipun pembelajaran dilakukan usai bubar
sekolah, namun wajahnya tidak menampakkan kelelahan. Begitu juga dengan
‘murid-muridnya’. Kerap terdengar tawa, canda, bahkan celoteh yang lebih
‘melawak’ dibanding celoteh murid-muridnya. Sehingga sering terdengar suara
gerrr, padahal di dalam hanya ada tiga belas orang. Bahkan di antaranya ada
yang sedang hamil.
Sesekali terlihat siswa mereka mengintip di luar.
(siswa yang belum pulang karena mereka kebanyakan betah untuk berlama-lama di
sekolah, entah mengapa). “Lagi ngapain
guru guwa?” itu bisiknya. (Duh, bahasanya kacau sekali kan? Sementara di dalam ruangan guru mereka belajar bahasa Inggris,
bukan belajar bagaimana menyampaikan bahasa dengan baik, tentu saja dengan
bahasa negerinya sendiri). Tapi ah, kita ikuti saja deh.
Lalu terdengar percakapan di dalam kelas itu.
Ternyata kali ini yang sedang tampil di depan
bukan lagi ‘guru’ mereka, melainkan murid yang sedang mempraktikkan berbahasa
was wes wos di depan kelas. Guru yang tampil itu nampaknya sangat percaya diri.
Apalagi dengan usianya, sepertinya dia termasuk senior di sekolah pavorit ini.
“How are you
my student?”
.....
“Good, you
look great today. I’m ready to teach You now. Any home work?”
.....
“Please show
me...”
......
“Got a
problem?”
Setelah ada yang mengacungkan tangan, dia
mendekati salah satu bangku itu, “Which
one?”
Lalu dia berjalan lagi dengan penuh keyakinan.
Tatapannya menunjukkan dia adalah ‘murid’ yang terbaik siang itu.
“Before, I
start, please clean the blackboard!”
Kali ini kelas menjadi spontan ribut, lalu
terdengar gerrrr. Guru yang percaya diri tadi mulai kebingungan. Lalu dia
spontan bicara, “Maaf, maaf, maksud saya whiteboard.”
Semua melengak, “terbiasa dengan blackboard, maklum.”
Sementara yang menjadi guru beneran masih tersenyum simpul di sudut depan.
Tapi sang ‘murid’ tidak menjadi kecil hati. Dengan
kepercayaan dirinya dia melanjutkan lagi praktik berwas wes wosnya.
“Before, I
start, please clean the whiteboard. ... ok. Now, focus on me. Today I teach You
about Japan . You know Japan? It’s very important....”
Tiba-tiba terdengar gerrr lagi. Bagaimana tidak,
si ibu guru yang sedang percaya diri itu tiba-tiba mengucapkan kata important dengan pengucapan yang berbeda
(berdasasrkan lidahnya sendiri). Dia mengucapkannya dengan impoten.... (mohon
maaf, terpaksa kata ini dituliskan, sekedar demi kekomunikatifan cerita ini).
Tapi lagi-lagi dia percaya diri.
“Ok class,
do it individually and do it in twenty minutes.”
......
“Have You
get problem?”
.......
“Do you finish...?”
Tak ada jawaban. Melainkan suara gerrr lagi. Dan
gerrr kali ini lebih ramai dari yang tadi. Ternyata si ‘murid’ mengucapkan
kesalahan lagi pada kata finish.
Rupanya untuk ke sekian kali lidahnya
membuat rumusan sendiri tentang kata berbahasa Inggris ini. Mohon maaf, kali
ini penulis tidak sampai hati menuliskan apa yang dia ucapkan. Sehubungan
cerita ini tidak hanya berlaku untuk orang dewasa... yang jelas, dua orang guru
laki-laki yang menjadi ‘murid’ di kelas itu kontan saja mukanya sedikit merah
dan tersenyum malu-malu.
Salah satu berujar pelan, “Duh, Bu, itu barang
kami kenapa disebut juga?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar