Jumat, 31 Agustus 2018

Hinomaru (novelku)




Tentang Hinomaru

Novel ini berkisah tentang kehidupan seorang gadis bernama Halisah yang hidupnya dibayang-bayangi oleh tokoh-tokoh berbangsa Jepang. Pertama, Takeda yang berperan penuh mengubah seluruh garis hidupnya sejak Halisah menjadi jugun ianfu di Telawang, hingga kembali ke tanah priangan, Bandung. Kedua, Nakumi, seorang sekretaris perwakilan pemerintah Jepang yang bekerja di kantor kewedanaan. Nakumi mengenal dan mencintai Agus, seorang pemuda yang sangat berperan penting bagi tokoh Halisah sejak kecil. Agus menyimpan perasaan yang dalam pula kepada Halisah, sejak gadis ini masih kecil dan menjadi sahabat bagi Atikah, adiknya.
Hinomaru memiliki latar waktu sepanjang pendudukan Jepang di Indonesia (tahun 1942), hingga beberapa tahun setelahnya. Segala aturan yang dibuat Jepang, sangat terasa hingga pelosok kampung. Hal ini membawa perubahan nasib yang tidak terkira bagi tokoh-tokoh di dalam novel ini. Tidak hanya tokoh utama, Halisah, tetapi juga tokoh-tokoh lain yang memiliki kedekatan dengan tokoh utama, contohnya saja Atikah dan seluruh keluarga.
Pada tahun-tahun berikutnya, setelah berakhirnya pendudukan Jepang, kehidupan tokoh pun mengalir seiring sejarah dengan segala konflik yang menyertainya. Rumah tangganya yang dibangun terpaksa, juga pengharapan akan sosok Agus yang tidak pernah berhenti. Sesungguhnya kegagalan hidup dan cinta tokoh Halisah, baginya adalah karena kehadiran orang-orang Jepang yang selalu membayangi kehidupannya. Mereka, bagi Halisah adalah seperti halnya bendera Hinomaru yang seakan-akan tak bisa dihentikan kibarnya.
Cerita dimulai dengan pemunculan prolog 1 yang berisi upacara keberangkatan para gadis yang konon akan disekolahkan oleh Jepang. Permulaan ini mengarahkan para tokoh cerita pada pengisahan di babak-babak sebelum dia berangkat (latar tokoh, latar tempat dan peristiwa, bagian masa kecil, serta hal-hal yang menjadi hulu konflik pada babak-babak berikutnya). Begitu pun dengan penokohan yang lain.
Pada bagian berikutnya, disajikan prolog 2, sebagai bayangan ending dari novel ini (berupa kisah penembakan, hanya tidak jelas, tokoh mana yang menembak dan ditembak). Bagian ini mengarahkan tokoh pada peristiwa-peristiwa sesungguhnya setelah dia berangkat (yang katanya) untuk disekolahkan ke Jepang (kenyataan menjadi jugun ianfu di sebuah tempat di Pulau Tatas, Kalimantan). Selanjutnya, Konflik tidak hanya berpusat pada penderitaan tokoh selama menjadi jugun ianfu saja, tetapi juga perjalanan hidup selanjutnya. Rangkaian pergumulan konflik yang menyangkut dirinya, Takeda, Nakumi, serta Agus kekasih bayangannya sejak kecil. Mulai ketika Halisah menjadi jugun ianfu, hingga ia menjadi istri Takeda secara terpaksa. Tentu saja peran Nakumi besar pada peristiwa ini. Konflik batin pada semua tokoh terus berlanjut. Menyangkut segala hal, perasaan, harga diri, termasuk berkaitan dengan keturunan. Bagi Halisah, tokoh Nakumi dan Takedalah yang membayangi kehidupannya. keduanya seakan mengharamkan kebahagiaan baginya. Hingga muncul tokoh lain yang tidak diduga kedatangannya menjadikan persoalan semakin rumit.
Kehidupan jugun ianfu yang sangat terkenal pada masa pendudukan Jepang, menjadi latar novel ini. Meskipun sesungguhnya cerita ini fiksi, namun segala data, fakta sejarah, kepustakaan, serta perbincangan secara langsung dengan pelaku sejarah (salah seorang tokoh yang pernah hidup di zaman Jepang), adalah bahan riset untuk memperkuat unsur ekstrinsik cerita.

4 komentar: